Antara Tungku dan Sasetan: Pertarungan Rasa Sarabba di Era Generasi Baru

MAKASSAR,FILALIN.COM, –Sarabba telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakat Makassar, terutama saat malam hari. Minuman tradisional berbahan dasar jahe, santan, gula aren, dan rempah-rempah ini bukan sekadar penghangat tubuh, tetapi juga perekat kebersamaan. Di warung-warung sederhana pinggir jalan, segelas sarabba kerap menemani obrolan panjang, melebur sekat usia dan latar sosial.

Namun, seiring perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan, sarabba kini hadir dalam dua wajah berbeda. Di satu sisi, ia tetap bertahan sebagai minuman tradisional yang dimasak perlahan di atas tungku. Di sisi lain, sarabba bertransformasi menjadi minuman instan dalam kemasan sasetan yang praktis dan cepat disajikan.

Cita rasa sarabba dikenal khas: hangat, gurih, manis, dengan sentuhan pedas dari jahe. Saat diseruput perlahan, sensasi hangat langsung terasa di tenggorokan, disusul manisnya gula aren dan gurih santan yang menetap di lidah. Kombinasi rasa inilah yang membuat sarabba tidak sekadar diminum, melainkan dinikmati sebagai bagian dari rutinitas malam masyarakat Makassar.

Dalam penyajian tradisional, sarabba dimasak dengan proses yang tidak tergesa-gesa. Jahe dipukul hingga seratnya terbuka, lalu direbus bersama santan dan gula aren di atas tungku. Proses memasak yang lama membuat aroma rempah keluar lebih kuat dan rasa menyatu sempurna. Hasilnya, sarabba disajikan dalam kondisi panas dengan tekstur kental dan warna cokelat keemasan.

Cara ini masih setia dipertahankan oleh Hj. Nurleli, pemilik warung sarabba di kawasan Sungai Cerekang. Selama lebih dari 40 tahun, ia mengolah sarabba dengan metode yang sama.

“Saya jual sarabba sudah 40 tahun. Tidak ada yang ajari, karena memang hobi masak dari dulu,” ujarnya.

Menurutnya, kelezatan sarabba sangat bergantung pada keseimbangan racikan dan proses memasak. “Kalau ikut selera pembeli, rasanya tidak akan sama. Jadi saya buat standar terbaik saja,” katanya.

Bagi Mardiah, salah satu pelanggan setia, sarabba tradisional memiliki karakter rasa yang sulit digantikan. “Rempahnya terasa sekali. Hangatnya juga tahan lama,” ujarnya. Ia mengaku pernah mencoba sarabba sasetan, namun menurutnya sarabba yang dimasak langsung terasa lebih alami.

Di sisi lain, perkembangan zaman menghadirkan sarabba dalam bentuk sasetan instan. Versi ini menawarkan kepraktisan karena cukup diseduh dengan air panas. Sarabba sasetan pun banyak dipilih oleh masyarakat perkotaan, terutama generasi muda yang memiliki keterbatasan waktu.

Herleli, penjual sarabba sasetan di salah satu warung modern, mengatakan produk instan ini menjawab kebutuhan konsumen akan minuman hangat yang cepat disajikan. “Kalau tradisional lama masaknya. Kalau sasetan tinggal seduh air panas,” jelasnya. Meski begitu, ia mengakui cita rasa sarabba sasetan cenderung lebih ringan dibandingkan sarabba tungku.

Hal serupa dirasakan Apriyanti, konsumen sarabba sasetan. Ia memilih versi instan saat membutuhkan minuman hangat secara praktis. “Kalau lagi pilek atau buru-buru, saya pilih sasetan,” katanya. Namun, menurutnya cara penyajian sangat memengaruhi rasa. “Kalau kebanyakan air, rasanya jadi hambar,” ujarnya.

Untuk mendekati cita rasa sarabba tradisional, sebagian konsumen menambahkan susu cair atau susu kental ke dalam sarabba sasetan. Penambahan ini membuat tekstur lebih kental dan rasa lebih gurih, mendekati santan yang digunakan pada sarabba tungku, sekaligus menyeimbangkan rasa jahe yang tajam.

Menurut Ahmad Darwis, S.Pd., guru tata boga di UPT SMP Negeri 7 Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, perbedaan rasa antara sarabba tradisional dan sasetan terletak pada bahan dan proses pengolahan. Sarabba tungku menggunakan bahan segar dan dimasak dalam waktu lama sehingga aromanya lebih kuat. Sementara itu, sarabba sasetan dirancang untuk kepraktisan, sehingga cita rasanya lebih ringan. Penyesuaian dalam penyajian, menurutnya, dapat menjadi solusi agar sarabba instan tetap dinikmati tanpa kehilangan karakter dasarnya.

Perjalanan sarabba dari tungku hingga sasetan mencerminkan kemampuan kuliner tradisional Makassar beradaptasi dengan perubahan zaman. Keduanya tidak saling menggantikan, melainkan hadir sebagai pilihan yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat.

Selama masih ada yang mencari kehangatan dari rempah dan rasa yang menenangkan, sarabba akan tetap hidup sebagai bagian dari identitas kuliner Makassar—baik yang dimasak perlahan di atas tungku maupun yang diseduh dalam hitungan detik.

(Oleh: */Chaerunnisa Atos)