JENEPONTO,FILALIN.COM,.– Di sudut Empoang, Kecamatan Binamu, aroma rempah yang menguar dari sebuah warung sederhana kerap mengundang siapa pun untuk singgah. Di sanalah semangkuk Coto Kuda disajikan bukan hanya sebagai makanan, tetapi sebagai cerita panjang tentang identitas, tradisi, dan kebanggaan masyarakat Jeneponto.
Di tengah derasnya arus modernisasi kuliner, Coto Kuda tetap bertahan. Hidangan berkuah pekat berbahan dasar daging kuda ini menjadi ikon gastronomi yang diwariskan lintas generasi. Bagi masyarakat setempat, Coto Kuda bukan sekadar penghangat perut, melainkan pengikat kebersamaan.
Warung Coto Kuda legendaris milik Hj. Bulaeng, yang berdiri sejak 1981, menjadi saksi hidup perjalanan kuliner khas Jeneponto. Dalam wawancara melalui telepon pada 6 Desember 2025, Hj. Bulaeng bercerita bahwa usaha tersebut bermula dari resep keluarga.
“Kami mulai berjualan sejak 1981. Resepnya dari keluarga. Dulu belum banyak yang jual coto kuda, jadi orang-orang datang karena penasaran,” tuturnya.
Keunikan Coto Kuda terletak pada proses pembuatannya. Daging kuda dipilih dari bagian paling empuk, direbus dalam waktu lama, lalu dipadukan dengan rempah khas seperti ketumbar, bawang, jahe, dan racikan bumbu keluarga yang dijaga hingga kini.
“Bumbunya harus ditumis sampai benar-benar harum sebelum masuk ke kuah. Itu yang bikin kuahnya pekat dan aromanya khas,” jelas Hj. Bulaeng.
Tak hanya soal rasa, Coto Kuda juga memiliki nilai sosial dan ekonomi. Penelitian Agricentra (2025) dalam Jurnal Sains Agribisnis mencatat bahwa kuliner ini masih diminati, terutama oleh konsumen muda berusia sekitar 25 tahun, mayoritas laki-laki dan berasal dari Jeneponto. Meski pembelian rata-rata hanya 1–3 mangkuk per bulan, loyalitas konsumen tergolong tinggi.
Atribut seperti kualitas daging, cita rasa, harga, dan brand lokal warung terbukti memiliki korelasi kuat terhadap keputusan pembelian. Kesegaran bahan menjadi faktor utama yang membuat konsumen terus kembali.
Hal ini menunjukkan bahwa Coto Kuda bukan hanya simbol tradisi, tetapi juga penopang ekonomi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup pada usaha kuliner lokal.
Menurut Ahmad Darwis, S.Pd, guru Prakarya dan ahli tata boga di UPT SMP Negeri 7 Mappakasunggu, Coto Kuda memiliki keunikan rasa yang tidak bisa ditiru begitu saja.
“Serat dagingnya berbeda, aromanya juga khas. Orang Jeneponto bisa langsung tahu itu daging kuda. Lidah tidak bisa dibohongi,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, 6 Desember 2025.
Ia menilai teknik memasak tradisional Coto Kuda masih sangat relevan untuk diajarkan, bahkan kepada generasi muda. Beberapa inovasi boleh dilakukan, seperti penambahan santan, susu, atau tepung beras, selama identitas aslinya tetap dijaga.
Coto Kuda juga kerap hadir dalam acara adat seperti gantala, menandakan perannya yang lebih dari sekadar hidangan harian. Di sanalah fungsi sosial dan kulturalnya terasa kuat.
Sementara itu, bagi konsumen, Coto Kuda menyimpan pengalaman personal tersendiri. Riska, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar asal Takalar, mengaku awalnya ragu mencoba karena mitos “panas di leher”.
“Awalnya ragu, tapi karena penasaran dan direkomendasikan warga lokal, akhirnya coba. Setiap daerah pasti punya kuliner khas. Kalau ke Jeneponto, orang pasti cari Coto Kuda,” katanya.
Di tengah gempuran makanan modern, Coto Kuda tetap relevan. Nilai budaya, cita rasa yang kuat, serta cerita di baliknya membuat kuliner ini terus diburu.
Bagi masyarakat Jeneponto, warung Coto Kuda adalah ruang berkumpul. Di sana orang berbincang, berbagi cerita, dan merayakan kebersamaan. Semangkuk coto menjadi pengikat rasa memiliki terhadap tanah kelahiran.
Coto Kuda bukan sekadar makanan tradisional. Ia adalah warisan budaya, kebanggaan lokal, dan identitas masyarakat Jeneponto yang masih terjaga hingga kini.
Jika Jeneponto dikenal sebagai “Bumi Turatea”, maka Coto Kuda adalah rasa yang melekat di dalamnya. (*/Penulis: Irnawati,Mahasiswi UINAM)
Coto Kuda Jeneponto: Rasa yang Menjaga Identitas dan Kebanggaan Lokal












