Frozen Food Jadi Andalan Mahasiswa, Praktis tapi Mengintai Risiko Kesehatan

GOWA,FILALIN.COM, — Nugget, sosis, hingga bakso beku kini menjadi “penyelamat” bagi banyak mahasiswa yang hidup di tengah jadwal kuliah padat dan keterbatasan waktu memasak. Praktis, cepat diolah, dan relatif murah, frozen food perlahan berubah menjadi menu harian. Namun di balik kepraktisannya, konsumsi makanan beku berlebihan menyimpan ancaman serius bagi kesehatan.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat, 21,8 persen penduduk Indonesia usia di atas 18 tahun mengalami obesitas, sementara 31 persen penduduk usia di atas 15 tahun mengalami obesitas sentral. Salah satu pemicunya adalah kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, termasuk frozen food, yang tinggi kalori, lemak, gula, dan natrium.

Praktis Jadi Alasan Utama

Perubahan gaya hidup modern membuat makanan cepat saji beku semakin diminati, terutama di kalangan mahasiswa kos. Zhafran Naufal, mahasiswa UIN Alauddin Makassar, mengaku hampir setiap hari mengonsumsi frozen food, khususnya nugget.

“Sebagai anak kos, frozen food itu memudahkan karena mudah diolah dan rasanya enak,” ujarnya saat ditemui di Kampus UIN Alauddin Makassar, Minggu (23/11/2025).

Hal serupa diungkapkan Andi Selviana Nur, mahasiswi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Makassar (UNM). Ia mengonsumsi frozen food dua hingga tiga kali dalam sepekan.

“Biasanya kalau pulang kuliah sudah capek, frozen food jadi pilihan karena praktis, cepat, dan harganya terjangkau,” katanya melalui wawancara daring via WhatsApp, Minggu (23/11/2025).

Sementara itu, Muh. Adam, mahasiswa Teknik Elektro Politeknik Negeri Ujung Pandang, menyebut frozen food membantunya menghemat waktu.

“Tinggal dimasak lima menit sudah jadi. Tidak perlu ribet mikir mau masak apa tiap hari,” ujarnya. Meski demikian, ia menyadari kandungan lemak makanan beku cukup tinggi jika dikonsumsi berlebihan.

Permintaan Tinggi, Pasar Tumbuh Pesat

Tingginya konsumsi frozen food di kalangan mahasiswa turut mendorong pertumbuhan usaha makanan beku. Syarifah Alwiyah Almahdawiyah, pelaku usaha frozen food di Makassar, mengatakan bisnis yang dijalaninya telah bertahan selama empat hingga lima tahun.

Ia menjual berbagai produk seperti nugget, sosis, bakso, dumpling, hingga olahan ikan seperti suki-suki.

“Produk yang paling diminati, terutama oleh mahasiswa, adalah nugget karena cepat diolah, enak, dan murah,” ujarnya saat ditemui di tokonya, Minggu (7/12/2025).

Menurut Syarifah, konsumen frozen food berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga ibu rumah tangga. Faktor keterbatasan waktu menjadi alasan utama.

“Mahasiswa biasanya tidak punya banyak waktu untuk memasak. Frozen food jadi alternatif paling mudah,” katanya.

Meski menjual produk tersebut, Syarifah mengaku kerap mengingatkan konsumennya agar tidak mengonsumsi frozen food secara berlebihan serta menyimpannya sesuai standar suhu.

Ahli Gizi Ingatkan Bahaya Jangka Panjang

Dari sisi kesehatan, Syarfaini, S.KM., M.Kes, dosen ahli gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar, menjelaskan bahwa frozen food merupakan makanan olahan yang dibekukan untuk memperpanjang masa simpan dan menghambat pertumbuhan mikroba.

“Secara teori, frozen food mengandung zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak yang menghasilkan kalori cukup tinggi,” jelasnya saat diwawancarai di Kampus 1 UIN Alauddin Makassar, Kamis (13/11/2025).

Selain itu, makanan beku umumnya tinggi natrium, gula, dan lemak, serta kerap ditambahkan pengawet, pewarna, dan perisa.

“Jika dikonsumsi berlebihan tanpa aktivitas fisik yang cukup, risikonya bisa mengarah ke obesitas, hipertensi, diabetes melitus, hingga sindrom metabolik,” ujarnya.

Syarfaini menegaskan, dampak konsumsi frozen food tidak selalu langsung terasa.

“Efeknya mungkin belum nampak sekarang, tetapi dalam jangka panjang risikonya jauh lebih besar, apalagi jika kebiasaan ini dimulai sejak usia muda,” katanya.

Batasi Konsumsi dan Baca Label Gizi

Menurut Syarfaini, tidak ada aturan baku terkait batas konsumsi frozen food. Namun, ia menyarankan agar konsumsi dibatasi secara wajar.

“Idealnya satu sampai dua kali dalam seminggu. Yang terpenting adalah keseimbangan pola makan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya membaca label gizi pada kemasan makanan.

“Dengan membaca label, kita bisa memprediksi dampak jangka panjang dari makanan yang dikonsumsi,” tambahnya.

Sebagai alternatif, masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan yang diolah secara alami, memperbanyak sayur dan buah, serta menerapkan pola makan seimbang.

Di tengah meningkatnya konsumsi frozen food di kalangan mahasiswa hingga ibu rumah tangga, kesadaran akan pentingnya pola makan sehat perlu terus ditingkatkan. Kepraktisan seharusnya tidak mengorbankan kesehatan jangka panjang.

(*/Penulis: Andi Mutma Ribianti)