Anak Muda Kuasai Street Coffee: Dari Tenda Pinggir Jalan, Gen Z Meracik Mimpi

MAKASSAR,FILALIN.COM, — Saat malam mulai turun, aroma jahe dan kopi sangrai perlahan menyatu dengan udara kota. Di antara lalu-lalang kendaraan, sebuah tenda kecil berdiri sederhana di pinggir Jalan Gunung Lompobattang. Tak ada papan nama besar atau lampu mencolok. Namun dari tempat itulah, Alfa—seorang anak muda Generasi Z—meracik kopi sekaligus masa depannya.

Beberapa tahun terakhir, bisnis kopi tumbuh pesat di Indonesia. Tidak hanya hadir dalam bentuk kafe modern di pusat kota, geliat itu juga terasa kuat di jalanan—melalui street coffee, booth kecil, dan tenda sederhana. Anak-anak muda menjadi penggeraknya. Dengan modal terbatas, mereka berani memulai, mengandalkan kreativitas dan konsistensi untuk bertahan.

Bagi Gen Z, kopi bukan semata soal keuntungan. Ia menjadi ruang berekspresi dan simbol kemandirian. Dari secangkir kopi, mereka membangun identitas usaha dan jejaring sosial. Media sosial pun menjadi etalase utama, tempat rasa dan cerita dipromosikan bersamaan.

Alfa memulai langkahnya dari kesederhanaan. Setiap hari, ia membuka lapak kecilnya dengan rutinitas yang sama: menyiapkan alat seduh, memanaskan air, dan menimbang biji kopi pilihannya. Namun, perjalanan ini tak selalu berjalan mulus. Cuaca kerap menjadi tantangan terbesar.

“Kendala paling sering itu kalau hujan,” ujar Alfa. “Karena konsepnya tenda, jadi kalau hujan saya harus tutup. Pembeli juga berkurang.”

Meski demikian, Alfa memilih bertahan. Ia tetap membuka lapaknya hampir setiap hari demi menjaga konsistensi. Baginya, kehadiran yang rutin adalah bentuk komitmen kepada pelanggan. Dari situlah kepercayaan perlahan tumbuh.

Persaingan dengan penjual kopi lain tak terelakkan. Namun Alfa punya strategi sederhana: menjaga kualitas rasa dengan harga yang tetap ramah di kantong.

“Saya jual 12 ribu, tapi rasanya standar kopi 20 ribuan,” katanya.

Untuk menjaga kualitas itu, Alfa mengambil bahan baku langsung dari petani di wilayah pegunungan. Biji kopi tersebut ia sangrai dan giling sendiri agar karakter rasanya tetap terjaga. Dari proses itu, lahirlah racikan kopi dengan cita rasa kuat—menjadi identitas yang membedakan lapaknya dari yang lain.

Erik, salah satu pelanggan muda, mengaku menemukan tempat ini dari rekomendasi temannya.

“Rasa strong-nya enak. Dengan harga 12 ribu, dapat kopi istimewa,” katanya. Sejak itu, Alfa menjadi langganan tetapnya.

Tak hanya anak muda, pelanggan lintas usia pun merasa nyaman.

“Tempatnya tenang walaupun di pinggir jalan. Rasanya pas, tidak terlalu pahit dan tidak terlalu manis,” ujar Syamsiah. Ia mengetahui lapak ini dari anaknya yang sering merekomendasikan tempat-tempat sederhana dengan rasa yang terjaga.

Dari berbagai cerita pelanggan, tampak bahwa daya tarik street coffee bukan hanya soal harga murah, melainkan pengalaman. Suasana, rasa, dan kedekatan antara penjual dan pembeli menjadi nilai yang sulit digantikan kafe besar.

Fenomena ini juga diamati oleh akademisi. Dosen UIN Alauddin Makassar, Pak Alamsyah, S.E., menilai pesatnya pertumbuhan usaha kopi dipengaruhi perubahan preferensi konsumen.

“Konsumen sekarang memperhatikan estetika, pengalaman, dan personalisasi. Minum kopi bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi bagian dari gaya hidup,” jelasnya.

Namun bagi pelaku street coffee, tantangan utama bukan semata kualitas rasa, melainkan branding.

“Kalau hanya mengandalkan lokasi strategis, itu tidak cukup. Di era digital, pemasaran online sangat menentukan,” tegasnya. Ia menyarankan pelaku usaha kecil memanfaatkan media sosial, visual yang menarik, hingga simbol sederhana seperti cup berlogo.

Kisah Alfa menjadi potret bagaimana anak muda memaknai usaha sebagai jalan menuju kemandirian. Dari tenda kecil di pinggir jalan, ia membangun hubungan dengan pelanggan, menjaga konsistensi, dan menumbuhkan harapan.

Di balik secangkir kopi hangat yang ia sajikan setiap malam, ada pesan sederhana: bahwa mimpi besar bisa diracik dari langkah kecil, selama ada keberanian untuk memulai dan keteguhan untuk bertahan.

(*/Penulis: Mardatilla,Mahasiswi Jurnalistik UIN Alauddin)