GOWA,FILALIN.COM, — Persoalan sampah masih menjadi tantangan utama di kawasan wisata alam Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dua destinasi populer, Hutan Pinus Malino dan Bukit Toppa, menghadapi masalah serupa seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan yang belum sepenuhnya diiringi dengan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan.
Di Hutan Pinus Malino, pengelolaan sampah dilakukan melalui Bank Sampah Idola Paraikatte. Sampah yang dihasilkan wisatawan dipilah oleh petugas kebersihan menjadi sampah basah, kering, dan sampah bernilai ekonomi seperti botol plastik dan kardus. Sampah bernilai ini kemudian dijual kembali, sementara sampah basah dikelola secara terpisah.
Pengelola Hutan Pinus Malino, Sahira, mengatakan bahwa sistem pengelolaan sampah telah berjalan, namun perilaku pengunjung masih menjadi kendala utama.
“Tempat sampah sudah tersedia, tetapi masih ada pengunjung yang membuang sampah sembarangan,” ujar Sahira saat ditemui di Hutan Pinus Malino, Sabtu (29/11/2025).
Selain pengelolaan sampah, pengelola juga melakukan peremajaan lingkungan dengan mewajibkan pekerja dan pelaku usaha di kawasan wisata membawa dan menanam bibit pinus sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan hutan.
Kondisi serupa juga ditemukan di Bukit Toppa, destinasi wisata alam yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Penjaga Bukit Toppa, Deda, menyebutkan bahwa tempat sampah telah disediakan di sejumlah titik, namun belum seluruh pengunjung memanfaatkannya secara optimal.
“Kadang sudah diingatkan, tapi masih ada pengunjung yang meninggalkan sampah di lokasi wisata,” kata Deda, Senin (1/12/2025).
Dari sisi pemerintah, Dr. Bau Asseng dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gowa menegaskan bahwa kebersihan merupakan faktor penting dalam keberlanjutan pariwisata.
“Kesan pertama wisata itu adalah kebersihan dan kenyamanan. Jika lingkungan tidak nyaman, wisatawan tidak akan datang kembali,” ujarnya dalam wawancara daring, Senin (8/12/2025).
Menurutnya, tantangan terbesar pemerintah adalah mengubah kebiasaan dan pola pikir masyarakat agar merasa memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan.
Pandangan akademik disampaikan oleh Ulfa Triyani A. Latif, dosen UIN Alauddin Makassar. Ia menilai pengelolaan lingkungan yang kurang baik dapat menimbulkan dampak jangka panjang, seperti penurunan daya tarik wisata dan degradasi ekosistem hutan.
“Kesadaran lingkungan harus dibangun melalui edukasi dan pelibatan masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya, Selasa (9/12/2025).
Warga sekitar kawasan wisata, Anto, mengaku ikut menjaga kebersihan di sekitar lokasi usahanya. Menurutnya, lingkungan yang bersih berdampak langsung pada kenyamanan pengunjung dan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kalau bersih, pengunjung lebih ramai dan kami juga diuntungkan,” katanya.
Upaya pengelolaan sampah di Hutan Pinus Malino dan Bukit Toppa menunjukkan bahwa keberlanjutan wisata alam tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas, tetapi juga pada kesadaran bersama pengelola, pemerintah, dan pengunjung dalam menjaga lingkungan.
(*/Penulis Riswana :Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)












