Kakao Sulawesi Masih Jadi Primadona, Tantangan Produktivitas dan Konsumsi Domestik

- Penulis

Minggu, 17 Agustus 2025 - 14:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSAR, FILALIN.COM – Kakao (KKO) kembali menjadi perhatian penting dalam perekonomian Sulawesi. Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, menegaskan bahwa meski menghadapi tantangan penurunan lahan dan produktivitas, komoditas kakao Indonesia masih menyimpan potensi besar di pasar global.

 

“Indonesia adalah salah satu dari tiga produsen kakao terbesar di dunia. Dari total produksi 6,2 juta ton, sekitar 65 persen dihasilkan dari kawasan Sulawesi, termasuk Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara,” ujar Muchlasin dalam paparannya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Potensi Besar, Tantangan Tidak Kecil

 

Di Sulawesi sendiri terdapat sekitar 780 ribu petani kakao yang menggantungkan hidup pada komoditas ini. Namun, Muchlasin menyebutkan adanya tren penurunan produktivitas akibat berkurangnya luas lahan, alih fungsi kebun, hingga harga jual yang kerap tidak stabil.

 

“Kalau harga internasional turun, dampaknya langsung dirasakan oleh petani. Sementara konsumsi domestik kita masih rendah. Orang jarang membeli cokelat untuk dikonsumsi di rumah, lebih banyak untuk oleh-oleh ketika bepergian,” jelasnya.

 

Konsumsi Lokal Masih Lemah

 

Muchlasin juga menyoroti lemahnya pasar domestik kakao, khususnya di Sulawesi Selatan. Produk cokelat lokal lebih banyak diekspor ketimbang dipasarkan di dalam negeri. Akibatnya, ada ironi di mana kakao dari Sulawesi diekspor ke luar negeri, lalu dijual kembali sebagai produk olahan cokelat yang kemudian dibeli wisatawan asal Sulawesi ketika berkunjung ke negara lain.

 

“Bisa jadi cokelat yang kita beli di Singapura sebenarnya berasal dari kakao kita sendiri,” ucap Muchlasin.

 

Sinergi dengan Pariwisata

 

Menurutnya, pengembangan industri kakao harus disinergikan dengan sektor pariwisata agar bisa menjadi daya tarik baru bagi wisatawan. Ia mencontohkan Bali dan Lombok yang berhasil menjadikan produk lokal sebagai bagian dari pengalaman wisata.

 

“Sulawesi Selatan masih kalah dalam menjual daya tarik produk kakao dibandingkan daerah lain. Ke depan, ini bisa menjadi peluang untuk membangun ekosistem ekonomi yang lebih kuat,” tambahnya.

 

Dengan kebutuhan global kakao yang masih mencapai 9 juta ton per tahun, Muchlasin menegaskan bahwa Indonesia—khususnya Sulawesi—masih memiliki ruang besar untuk memperkuat peran sebagai pemasok utama dunia. (*)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham Pererat Silaturahmi Bersama Purna Bakti PNS dalam Halal Bi Halal
Polres Gowa Optimalkan Layanan Kepolisian, Masyarakat Diimbau Hubungi Call Center 110 Saat Melihat Tindak Kriminal
OJK, BEI, dan KSEI Tuntaskan Empat Agenda Reformasi Transparansi Pasar Modal
Kalla Toyota Hadirkan Program “Lebih Untung Tukar Tambah ke Veloz Hybrid EV”, Tawarkan Efisiensi Berkendara Hingga 1.000 KM
KOMITMEN OJK TINGKATKAN LITERASI DAN INKLUSI KEUANGAN SYARIAH
GMTD BERBAGI KEBAHAGIAAN SALURKAN DONASI KE 5 PANTI ASUHAN
Danramil Bontonompo Tunjuk Lokasi Pembangunan Kantor KDMP Desa Tanrara, Pengurus, Pemerintah Desa, BPD dan Tokoh Masyarakat Tegas Menolak Lokasi di Dusun Pa’la’la
Wujudkan Visi Sekolah, SMA Islam Athirah 1 Makassar Gelar English Camp 
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 18:02 WITA

Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham Pererat Silaturahmi Bersama Purna Bakti PNS dalam Halal Bi Halal

Jumat, 3 April 2026 - 15:39 WITA

Polres Gowa Optimalkan Layanan Kepolisian, Masyarakat Diimbau Hubungi Call Center 110 Saat Melihat Tindak Kriminal

Kamis, 2 April 2026 - 20:34 WITA

OJK, BEI, dan KSEI Tuntaskan Empat Agenda Reformasi Transparansi Pasar Modal

Kamis, 2 April 2026 - 18:45 WITA

Kalla Toyota Hadirkan Program “Lebih Untung Tukar Tambah ke Veloz Hybrid EV”, Tawarkan Efisiensi Berkendara Hingga 1.000 KM

Kamis, 2 April 2026 - 18:42 WITA

KOMITMEN OJK TINGKATKAN LITERASI DAN INKLUSI KEUANGAN SYARIAH

Berita Terbaru