Langkah Baru Fashion Berkelanjutan: Thrift Shoes Lokal Jadi Pilihan Anak Muda Gowa

GOWA,FILALIN.COM, –Di sebuah sudut Kabupaten Gowa, deretan sepatu bekas tersusun rapi di etalase sederhana. Sekilas tak ada yang istimewa, namun bagi anak muda, sepatu-sepatu ini menyimpan cerita tentang gaya, pilihan hidup, dan kesadaran baru akan keberlanjutan. Tren thrift shoes—sepatu bekas impor—kini tak lagi dipandang sebelah mata, justru menjadi alternatif fashion yang digandrungi generasi muda.

Bagi sebagian mahasiswa dan remaja, membeli sepatu bekas bukan soal keterbatasan, melainkan pilihan sadar. Mereka mencari kualitas, keunikan model, dan harga yang ramah kantong. Dari kebutuhan itulah lapak-lapak thrift shoes lokal tumbuh, dikelola dengan pendekatan yang semakin modern dan profesional.

Lapak BaBe dan Store Bekas Mantan menjadi dua contoh usaha lokal yang hidup berdampingan dengan selera anak muda Gowa. Di balik rak sepatu yang tertata rapi, ada kerja keras dan ketelitian para pengelolanya.

Lira Maya Lestari, pengelola Lapak BaBe, menyebut kualitas sebagai nyawa usahanya. Setiap sepatu yang masuk diseleksi dengan cermat. “Kami tidak asal ambil. Kondisi harus benar-benar layak pakai,” ujarnya saat ditemui, Minggu (07/12/25). Sepatu-sepatu itu kemudian dibersihkan, dirawat, bahkan diperbaiki agar kembali nyaman dipakai. Baginya, kepuasan pembeli adalah kepercayaan yang harus dijaga.

Menentukan harga pun bukan perkara mudah. Lira menyesuaikannya dengan kondisi sepatu, merek, serta biaya perawatan. Ia sadar mayoritas pelanggannya adalah anak muda dengan daya beli terbatas. Media sosial, khususnya TikTok, menjadi jembatan penting antara lapak kecilnya dan pasar yang lebih luas. “Lewat video, orang bisa lihat langsung kondisi sepatu. Itu bikin mereka percaya,” katanya.

Cerita serupa datang dari Edi, pengelola Store Bekas Mantan. Ia mengaku selalu terlibat langsung dalam proses pemilahan. “Sol, lem, sampai bagian dalam dicek satu-satu. Kami ingin pembeli pulang dengan rasa puas,” ucapnya, Senin (08/12/25). Di tengah persaingan dan daya beli yang naik turun, Edi memilih bertahan dengan konsistensi kualitas dan pelayanan yang ramah.

Dari sudut pandang akademisi, tren ini dinilai sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan. Alamsyah S.E, dosen ekonomi UIN Alauddin Makassar, melihat bisnis thrift shoes sebagai bentuk adaptasi kreatif terhadap kebutuhan pasar. “Barang bekas yang dipoles kembali bisa punya nilai tinggi, apalagi kalau mereknya kuat,” jelasnya Minggu (7/12/2025). Menurutnya, anak muda kini lebih terbuka terhadap konsep barang bekas selama dikemas secara profesional.

Kepercayaan itu juga dirasakan langsung oleh konsumen. Cindi, salah satu pembeli di Lapak BaBe, mengaku menemukan kepuasan tersendiri. “Modelnya unik, kadang sudah tidak ada di toko sepatu baru. Jadi terasa lebih personal,” katanya Jumat (5/12/2025). Ia menilai kualitas sepatu yang dibelinya hampir seperti baru, sebanding dengan harga yang dibayar.

Hal senada diungkapkan Arwidya, pelanggan Store Bekas Mantan. Baginya, sepatu bekas impor menawarkan variasi model dengan harga yang jauh lebih terjangkau. “Penjualnya jujur, kita dikasih waktu buat cek barang. Itu bikin nyaman,” ujarnya, Jumat (4/12/2025).

Perlahan, sepatu bekas tak lagi dipandang sebagai simbol keterbatasan. Di tangan pelaku usaha lokal yang telaten dan konsumen muda yang semakin sadar, thrift shoes menjelma menjadi bagian dari gaya hidup baru—hemat, berkarakter, dan berkelanjutan. Di Gowa, langkah kecil dari sepatu-sepatu bekas ini justru membuka jalan besar bagi harapan ekonomi dan perubahan cara pandang generasi muda.

(*/Fhitra Kussu)