Leang-Leang: Wisata Prasejarah yang Menyatu dengan Alam Maros

MAKASSAR,FILALIN.COM, –Di balik tebing-tebing karst yang menjulang kokoh di Kabupaten Maros, tersimpan jejak panjang kehidupan manusia purba. Kawasan prasejarah Leang-Leang bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan ruang sunyi yang menyimpan cerita ribuan tahun tentang kreativitas, kehidupan, dan peradaban awal manusia.

Deretan gua alami dengan lukisan dinding berusia puluhan ribu tahun menjadi saksi bisu bagaimana manusia purba pernah hidup dan meninggalkan tanda keberadaannya. Cap tangan, gambar hewan, serta lanskap alam yang masih asri membuat Leang-Leang terasa seperti museum terbuka yang menyatu dengan alam.

Namun, seiring meningkatnya minat wisatawan—baik lokal maupun mancanegara—tantangan dalam menjaga kelestarian kawasan ini pun semakin besar. Kunjungan yang padat berpotensi mengancam lukisan purba dan ekosistem gua jika tidak diimbangi dengan pengelolaan yang bijak dan kesadaran konservasi.

Erwin Mansyur Ugu Saraka, dosen Universitas Hasanuddin (Unhas) yang menekuni bidang arkeologi, menuturkan bahwa Leang-Leang sejatinya hanya sebagian kecil dari kekayaan prasejarah di kawasan Maros-Pangkep. Hal itu ia sampaikan saat diwawancarai melalui Google Meet pada 8 Desember 2025.

“Sebenarnya Leang-Leang itu hanya satu dari gua yang sudah dikembangkan. Di kawasan Maros-Pangkep terdapat sekitar 700 gua berdasarkan data terakhir,” ujarnya.

Menurut Erwin, sejak ditetapkan sebagai cagar budaya nasional dan dikelola secara institusional, kawasan ini tidak lagi dipandang semata sebagai objek wisata. Leang-Leang kini menjadi pusat pembelajaran sejarah yang terbuka bagi masyarakat luas. Kehadiran pusat informasi dan mini museum menjadi jembatan edukasi antara pengunjung dan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.

“Setelah dikelola secara institusi, ini bukan cuma wisata, tapi pusat pembelajaran. Ada pusat informasi seperti mini museum yang dibangun untuk edukasi pengunjung,” jelasnya.

Ia menegaskan, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga lukisan dinding gua yang berusia lebih dari 50 ribu tahun agar tetap lestari. Sentuhan tangan manusia, keringat, hingga perubahan mikroklimat di dalam gua dapat mempercepat kerusakan lukisan bersejarah tersebut.

“Kalau banyak orang berkunjung, ditakutkan menyentuh lukisan tertua di dunia yang berumur 51.000 tahun. Tantangannya adalah menjaga lingkungan, konservasi, dan melibatkan masyarakat,” ungkapnya.

Erwin juga menekankan pentingnya edukasi etika berkunjung kepada wisatawan. Menurutnya, tindakan yang tampak sepele bisa berdampak besar pada keberlanjutan situs prasejarah.

“Kalau mau melihat lukisan, jangan berkeringat, jangan menyentuh, dan jangan menggeser apa pun dari tempatnya karena itu bisa merusak konteks budaya,” katanya.

Dari sisi pengelolaan, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Maros, H. Suwardi Sawedi, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa kawasan Leang-Leang dikelola bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) melalui sistem bagi hasil. Penjelasan tersebut ia sampaikan saat diwawancarai melalui sambungan telepon pada 29 November 2025.

“Sistem bagi hasilnya 70 persen untuk pemerintah daerah dan 30 persen untuk negara. Setiap kegiatan seperti dokumenter atau prewedding harus melalui izin,” jelasnya.

Ia menambahkan, Leang-Leang dipertahankan sebagai geosite dan merupakan bagian dari UNESCO Global Geopark. Pemerintah daerah berupaya mengembangkan kawasan ini sebagai ekowisata tanpa mengikis nilai budaya dan sejarahnya.

“Harapan kita adalah tetap menjaga budaya sekaligus mengembangkan ekowisata yang dapat mendukung pendapatan daerah,” ujarnya.

Pengelolaan kawasan ini juga melibatkan masyarakat sekitar secara aktif. Mulai dari pengelola parkir, pelaku UMKM, hingga pemandu wisata, semua turut berperan dalam menjaga dan menghidupkan kawasan prasejarah tersebut. Keterlibatan ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi sekaligus menumbuhkan rasa memiliki.

Salah satu pemandu wisata, Nur Indah Pratiwi, mengungkapkan bahwa jumlah pengunjung biasanya meningkat pada akhir pekan. Ia kerap menjelaskan kepada wisatawan tentang teknik pembuatan lukisan tangan purba yang menjadi daya tarik utama Leang-Leang.

“Ada dua cara, yaitu positif dan negatif. Positif itu tangan dicelup ke pewarna lalu ditempel, sedangkan negatif tangan ditempel dulu lalu disembur pewarna dari mulut,” jelasnya.

Menurut Nur Indah, wisatawan mancanegara umumnya lebih tertarik pada nilai sejarah dan penelitian arkeologi, sementara wisatawan lokal banyak menikmati keindahan alam karst yang mengelilingi kawasan tersebut.

“Di sini ada sejarahnya, dua gua, ada cap tangan dan gambar hewan. Wisatawan mancanegara biasanya lebih tertarik pada sejarah,” katanya.

Salah seorang wisatawan, Waode Nining, mengaku tertarik datang ke Leang-Leang karena ingin melihat langsung lukisan purba yang selama ini hanya ia kenal lewat buku dan media.

“Kami datang karena ingin melihat sejarahnya. Lukisan tangan itu bukti bahwa orang dulu sudah kreatif,” ujarnya.

Ia menilai akses menuju kawasan wisata sudah cukup baik, namun berharap ada peningkatan pelayanan, terutama dari sisi harga tiket dan pengawasan di dalam gua.

“Mungkin harga tiket bisa lebih terjangkau dan ada penjaga di dalam gua supaya pengunjung bisa melihat dengan aman,” tambahnya.

Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, pengelola, pemandu, dan masyarakat, kawasan prasejarah Leang-Leang terus diarahkan menjadi destinasi wisata edukatif yang berkelanjutan. Upaya ini penting agar warisan sejarah yang tak ternilai ini tetap terjaga.

Dengan pengelolaan yang berpihak pada konservasi, Leang-Leang tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga jendela penting untuk memahami perjalanan panjang peradaban manusia—sebuah warisan yang layak dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

(*/Oleh Dinar Rahman, Mahasiswi UIN Alauddin Makassar)