Al-Markaz Perkuat Literasi Ekonomi Umat melalui Ngobras “3 Wajah Ekonomi Umat

- Penulis

Minggu, 9 Agustus 2026 - 10:51 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSAR,FILALIN.COM,  -Yayasan Islamic Center Al Markaz Al-Islami kembali menggelar Ngobrol Keumatan & Kebangsaan Al-Markaz (Ngobras) dengan mengangkat tema “3 Wajah Ekonomi Umat: Mafia, Rentenir dan Syariah”.

 

Kegiatan yang digelar di taman depan Masjid al-markaz, Ahad (09/08) ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Guru Besar Ekonomi Syariah Prof. Dr. H. M. Arfin Hamid dan Konsultan UMKM dan Ekonomi Syariah Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan, Anwardin Arjunaid.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

.

Forum tersebut menjadi ruang untuk membahas berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat sekaligus melihat peluang penguatan ekonomi syariah sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi umat.

 

Guru Besar Ekonomi Syariah Prof. Dr. H. M. Arfin Hamid menyoroti masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam praktik ekonomi syariah di Indonesia, meskipun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Menurut Arfin, kondisi tersebut menjadi pekerjaan besar dalam pengembangan ekonomi syariah nasional yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade.

 

Ia merujuk pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan jumlah nasabah perbankan syariah masih jauh dibandingkan dengan jumlah penduduk Muslim Indonesia.

Arfin mencontohkan Bank Syariah Indonesia (BSI) yang memiliki sekitar 23 juta nasabah.

 

Sementara jika seluruh nasabah bank syariah di Indonesia digabungkan, jumlahnya baru sekitar 50 juta.

“Kalau dikumpulkan seluruh bank syariah, baru 50 juta yang berkiprah sebagai nasabah bank syariah.

Padahal 240 juta dari 280 juta penduduk Indonesia adalah Muslim,” kata Arfin.

 

Ia menyebut pangsa perbankan syariah saat ini berada di kisaran 8 hingga mendekati 10 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara besarnya populasi Muslim dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam ekonomi syariah.

 

Padahal, kata Arfin, pengembangan perbankan syariah di Indonesia bukan sesuatu yang baru. Industri tersebut telah dimulai sejak berdirinya Bank Muamalat pada 1991.

 

“Selama 34 tahun kita berdakwah, berjuang mengembangkan ekonomi syariah Indonesia, hanya dapat sekitar 8 persen. Ini miris sekali,” ujarnya.

 

*Dakwah Ekonomi Perlu Diperkuat*

 

Arfin menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperbesar industri perbankan syariah. Menurutnya, perlu dilakukan evaluasi terhadap pendekatan dakwah dan cara memperkenalkan ekonomi syariah kepada masyarakat.

 

Ia mendorong agar dakwah Islam tidak berhenti pada aspek keagamaan secara normatif, tetapi juga menyentuh persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

 

Menurutnya, prinsip syariah seharusnya tidak hanya dipahami sebagai pilihan menggunakan produk bank syariah, tetapi menjadi bagian dari perilaku ekonomi masyarakat.

 

“Kalau mau bagus, kembalikan dakwah, kembalikan esensi ajaran Islam itu kepada syariah. Ekonomi itu harus berdasarkan syariah,” tegasnya.

 

Arfin juga menekankan bahwa ekonomi syariah harus hadir dalam berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari cara memperoleh penghasilan, berdagang, melakukan transaksi hingga mengelola harta.

 

Ia mencontohkan konsep halalan thayyiban yang menurutnya perlu dipahami secara lebih luas, tidak hanya dari sisi barang yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana seseorang memperoleh penghasilan dan harta.

 

Karena itu, penguatan ekonomi syariah membutuhkan perubahan pendekatan. Industri keuangan syariah tetap penting, namun harus dibarengi dengan pembangunan kesadaran masyarakat mengenai praktik ekonomi yang sesuai dengan prinsip syariah.

 

“Ini model dakwah. Daripada kita hanya melihat tanda-tandanya, kita kritisi metodenya. Akarnya harus kita selesaikan,” katanya.

 

*BI Dorong Instrumen Syariah untuk UMKM*

 

Sementara itu, Konsultan UMKM dan Ekonomi Syariah BI Sulsel Anwardin Arjunaid mengatakan penguatan ekonomi syariah juga memiliki peran penting dalam pemberdayaan UMKM.

 

Menurutnya, pelaku UMKM membutuhkan instrumen pembiayaan yang sehat dan mudah diakses agar dapat mengembangkan usahanya sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap rentenir.

 

“Untuk memajukan UMKM memang kita membutuhkan instrumen yang bagus. Salah satunya bagaimana memerangi mafia, yang kedua bagaimana memerangi rentenir,” kata Anwardin.

 

Ia menjelaskan, instrumen ekonomi syariah tidak hanya terbatas pada keuangan komersial syariah. Potensi keuangan sosial syariah melalui zakat, infak, sedekah dan wakaf juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat dan UMKM.

 

“Selain keuangan komersial syariah, ada keuangan sosial syariah melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Instrumen itu bisa digunakan untuk memajukan UMKM kita,” ujarnya.

 

Anwardin mencontohkan sektor pertanian. Zakat yang berasal dari sektor tersebut dapat disalurkan kepada kelompok penerima sesuai ketentuan, sedangkan wakaf produktif dapat dikembangkan untuk mendukung sektor pertanian maupun kegiatan usaha masyarakat.

 

Melalui forum Ngobras, Al-Markaz berharap pembahasan mengenai ekonomi umat tidak hanya berhenti pada persoalan perbankan syariah, tetapi berkembang menjadi gerakan untuk membangun kesadaran, kemandirian dan penguatan ekonomi masyarakat berdasarkan prinsip syariah. (*)

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kukuhkan Peran Pencetak Pemimpin Masa Depan, FISIP UIT Gelar PKKMB 2026 dan Siapkan Mahasiswa Menyongsong Indonesia Emas 2045
DORONG PENGUATAN EKONOMI NASIONAL, OJK FOKUS PENGEMBANGAN KEUANGAN DIGITAL Gelar FEKDI DAN IFSE 2026 BERSAMA BI
Dialog Kebangsaan LMPI Sulsel Dorong Kolaborasi Masyarakat Perkuat Pencegahan Korupsi
Pelindo Sosialisasikan Penataan Peta Peran Korporasi
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Imbau Masyarakat Tidak Terpengaruh Informasi Hoaks Kenaikan Harga Pertalite
Hari Tani Nasional, Asri Tadda Soroti Nasib Petani di Tengah Paradoks Pembangunan
Siap Gelar Kembara 2026, PKS Sulawesi Selatan Perkuat Ketahanan Kader dan Semangat Bela Negara
Pecah Kebuntuan Konflik Menahun, DPR Sahkan RUU Reforma Agraria Demi Keadilan Rakyat
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 07:29 WITA

Kukuhkan Peran Pencetak Pemimpin Masa Depan, FISIP UIT Gelar PKKMB 2026 dan Siapkan Mahasiswa Menyongsong Indonesia Emas 2045

Kamis, 24 September 2026 - 22:31 WITA

DORONG PENGUATAN EKONOMI NASIONAL, OJK FOKUS PENGEMBANGAN KEUANGAN DIGITAL Gelar FEKDI DAN IFSE 2026 BERSAMA BI

Kamis, 24 September 2026 - 20:59 WITA

Dialog Kebangsaan LMPI Sulsel Dorong Kolaborasi Masyarakat Perkuat Pencegahan Korupsi

Kamis, 24 September 2026 - 17:27 WITA

Pelindo Sosialisasikan Penataan Peta Peran Korporasi

Kamis, 24 September 2026 - 16:49 WITA

Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Imbau Masyarakat Tidak Terpengaruh Informasi Hoaks Kenaikan Harga Pertalite

Berita Terbaru

Berita

Pelindo Sosialisasikan Penataan Peta Peran Korporasi

Kamis, 24 Sep 2026 - 17:27 WITA