Ketika Aktivitas Petani Mulai Dicatat Secara Digital

- Penulis

Sabtu, 26 September 2026 - 19:03 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSAR,FILALIN.COM, — Selama ini, aktivitas petani rumput laut berlangsung di laut, tambak, gudang, hingga transaksi hasil panen. Namun, bagi lembaga keuangan, aktivitas tersebut belum selalu mudah terbaca sebagai rekam jejak usaha yang dapat digunakan untuk menilai kapasitas pembiayaan.

Persoalan itulah yang coba dijembatani melalui e-Seaweed, sebuah platform digital yang mulai diimplementasikan di Sulawesi Selatan. Sistem tersebut dirancang untuk mengubah aktivitas usaha petani rumput laut menjadi data digital yang lebih tertata, transparan, dan dapat ditelusuri.

Kantor OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat bersama International Labour Organization (ILO) serta sejumlah pemangku kepentingan mendukung implementasi e-Seaweed sebagai bagian dari upaya memperluas inklusi keuangan petani rumput laut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rangkaian implementasi dimulai melalui kunjungan lapangan ke komunitas petani rumput laut di Desa Ujung Baji, Kabupaten Takalar, Rabu (23/9/2026). Sehari kemudian, e-Seaweed diluncurkan di Kawasan Industri Makassar (KIMA), Kamis (24/9/2026), yang turut ditandai dengan penyerahan simbolis fasilitas Pembiayaan Resi Gudang dari Bank Sulselbar kepada KOSPERMINDO.

Ketika Aktivitas Petani Mulai Dicatat Secara Digital

e-Seaweed dikembangkan dan dimiliki KOSPERMINDO untuk mendukung pengelolaan rantai nilai rumput laut.

Platform tersebut mencatat aktivitas budidaya dan pergudangan, transaksi, serta data petani. Informasi itu digunakan untuk meningkatkan ketertelusuran, pengendalian mutu, dan transparansi dalam rantai pasok rumput laut.

Pada tahap awal, sebanyak 200 petani rumput laut di Kabupaten Takalar telah di-onboarding ke dalam e-Seaweed. Pengembangannya ditargetkan dapat menjangkau 2.000 petani.

Perubahan yang dibawa platform ini terletak pada cara aktivitas usaha petani dicatat. Proses budidaya, serah terima hasil panen, hingga pencatatan tonase di tingkat gudang dapat masuk ke dalam rekam digital.

Bagi petani, data tersebut bukan sekadar catatan administratif. Rekam usaha yang tersusun dapat menjadi gambaran mengenai aktivitas dan kapasitas usaha mereka ketika berhadapan dengan lembaga jasa keuangan.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso, yang dalam kegiatan ini diwakili oleh Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Gonthor Ryantori Aziz, mengatakan persoalan utama yang dihadapi petani skala kecil salah satunya adalah keterbatasan informasi yang dapat diverifikasi.

“Salah satu tantangan petani skala kecil dalam mengakses pembiayaan formal adalah asimetri informasi dan keterbatasan rekam jejak finansial maupun operasional yang terverifikasi,” kata Gonthor.

Melalui e-Seaweed, aktivitas usaha petani mulai dari budidaya hingga pencatatan hasil di gudang dapat direkam secara digital dan membentuk digital footprint yang valid serta transparan.

Rekam jejak tersebut diharapkan membantu lembaga jasa keuangan memahami profil risiko sekaligus kapasitas usaha petani.

Bukan Sekadar Digitalisasi, tetapi Membuka Pintu Pembiayaan

Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Moch. Muchlasin mengatakan perluasan inklusi keuangan tidak cukup hanya dengan menghadirkan produk keuangan.

Menurutnya, informasi yang andal dan kapasitas usaha yang lebih kuat dibutuhkan agar lembaga keuangan dapat memahami sekaligus melayani usaha kecil secara lebih tepat.

“Melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), Pemerintah Daerah memiliki peran penting dalam memperkuat koordinasi dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat,” ujar Muchlasin.

Dalam konteks tersebut, data digital menjadi penghubung antara aktivitas ekonomi masyarakat produktif dengan layanan keuangan.

Petani yang sebelumnya menjalankan aktivitas usaha secara nyata di lapangan kini didorong memiliki rekam digital yang dapat menggambarkan kegiatan usaha mereka.

Namun, digitalisasi dalam skema ini bukan tujuan akhir. OJK SulselSulbar menempatkannya sebagai jembatan untuk memperkuat ketahanan usaha dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Cara pandang tersebut penting karena keberhasilan e-Seaweed tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak petani yang masuk ke dalam platform. Nilai utamanya berada pada sejauh mana data tersebut dapat membantu membangun ekosistem usaha dan membuka akses ke layanan keuangan yang bertanggung jawab.

Dari Desa Ujung Baji Menuju Target 2.000 Petani

Implementasi e-Seaweed diawali dari lapangan.

Di Desa Ujung Baji, Kabupaten Takalar, petani diperkenalkan dengan platform tersebut sekaligus menjalani proses pendataan dan onboarding. Kegiatan juga mencakup demonstrasi penggunaan sistem dan penguatan kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan di kawasan budidaya rumput laut.

Tahapan itu memperlihatkan bahwa digitalisasi rantai nilai tidak hanya berurusan dengan teknologi. Petani sebagai pelaku utama tetap menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Pada tahap awal, 200 petani telah masuk dalam platform. Jumlah tersebut ditargetkan berkembang menjadi 2.000 petani.

Target itu menjadi tantangan tersendiri karena perluasan platform berarti membawa lebih banyak aktivitas usaha petani ke dalam sistem yang dapat digunakan bersama oleh berbagai pihak dalam ekosistem.

Di sisi lain, semakin banyak data usaha yang tercatat secara baik berpotensi memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai rantai nilai rumput laut.

Swiss dan ILO Ikut Mendorong Ekosistem

Implementasi e-Seaweed tidak berdiri sendiri. Program tersebut merupakan bagian dari PROMISE II IMPACT ILO yang didukung Pemerintah Swiss melalui Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO).

Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste Simrin Singh mengatakan aktivitas usaha petani rumput laut sehari-hari dapat dikembangkan menjadi rekam jejak digital yang kredibel.

Rekam jejak itu, menurut Simrin, dapat meningkatkan visibilitas petani di mata lembaga keuangan sehingga membuka peluang pembiayaan untuk mengembangkan usaha dan membangun penghidupan yang lebih tangguh.

“Melalui e-Seaweed, aktivitas usaha sehari-hari petani rumput laut dapat dikembangkan menjadi rekam jejak digital yang kredibel sehingga meningkatkan visibilitas mereka di mata lembaga keuangan,” kata Simrin.

Dukungan tersebut juga menjadi bagian dari kerja sama yang lebih panjang antara Swiss dan Indonesia di sektor rumput laut.

Duta Besar-designate Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Konstantin Obolensky mengatakan e-Seaweed melanjutkan kerja sama kedua negara, khususnya dalam menjawab persoalan akses pembiayaan.

Menurutnya, integrasi pencatatan digital dengan layanan keuangan menunjukkan bagaimana teknologi dan kemitraan dapat menciptakan peluang bagi petani skala kecil untuk memperoleh akses keuangan sekaligus mengembangkan usaha.

Pembiayaan Resi Gudang Mulai Dihubungkan

Peluncuran e-Seaweed di KIMA juga ditandai dengan penyerahan simbolis fasilitas Pembiayaan Resi Gudang dari Bank Sulselbar kepada KOSPERMINDO.

Kehadiran fasilitas tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan digitalisasi tidak berhenti pada pencatatan data. Dalam ekosistem yang sedang dibangun, data, pergudangan, rantai pasok, dan pembiayaan mulai ditempatkan dalam satu rangkaian.

Bagi petani rumput laut, akses pembiayaan merupakan salah satu bagian penting dalam pengembangan usaha. Namun, lembaga keuangan membutuhkan informasi untuk memahami siapa yang akan menerima pembiayaan, bagaimana aktivitas usahanya berjalan, dan bagaimana kapasitas usahanya dapat dinilai.

Di sinilah e-Seaweed mencoba mengisi celah informasi tersebut.

Data budidaya dan hasil panen yang tercatat secara digital diharapkan dapat memperkuat dasar informasi bagi lembaga keuangan. Dengan begitu, aktivitas petani yang sebelumnya banyak berlangsung di lapangan dapat memiliki jejak yang lebih mudah ditelusuri.

Kolaborasi Menentukan Keberlanjutan

Kegiatan di Takalar turut dihadiri Duta Besar Swiss untuk Indonesia H.E. Konstantin Obolensky, Head of SECO Indonesia Violette Ruppanner, serta Bupati Takalar Firdaus Daeng Manye.

Kehadiran pemerintah daerah, OJK, ILO, lembaga keuangan, koperasi, dan pemangku kepentingan lainnya menunjukkan bahwa pembangunan ekosistem rumput laut membutuhkan lebih dari satu institusi.

Masing-masing memiliki ruang yang berbeda. Pemerintah daerah berperan dalam koordinasi melalui TPAKD, lembaga keuangan menyediakan layanan pembiayaan, sementara platform digital membantu membangun rekam data usaha.

OJK SulselSulbar terus mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, industri jasa keuangan, lembaga pembangunan, koperasi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam kerangka tersebut, teknologi berfungsi sebagai penghubung, bukan sebagai tujuan akhir.

Takalar dan Masa Depan Digitalisasi Petani Kecil

Rumput laut menjadi salah satu komoditas yang aktivitas produksinya sangat bergantung pada petani skala kecil. Ketika kegiatan budidaya dan transaksi mereka mulai dicatat secara digital, terbuka kemungkinan baru untuk melihat usaha tersebut melalui data yang lebih terstruktur.

e-Seaweed mencoba membawa perubahan itu dari Desa Ujung Baji, Takalar.

Sebanyak 200 petani menjadi bagian awal dari implementasi, dengan target mencapai 2.000 petani. Di saat yang sama, data budidaya, hasil panen, pergudangan, dan transaksi mulai ditempatkan dalam satu ekosistem digital.

Tantangan berikutnya bukan hanya memperluas jumlah pengguna. Yang tidak kalah penting adalah memastikan rekam digital tersebut benar-benar dapat terhubung dengan kebutuhan usaha petani, termasuk akses pembiayaan, peningkatan kapasitas, pengelolaan mutu, dan ketahanan usaha.

Jika proses itu berjalan sesuai arah yang dirancang, pengalaman petani rumput laut di Takalar dapat menjadi pembelajaran bagi pengembangan digitalisasi rantai nilai UMKM di daerah lain.

OJK SulselSulbar sendiri berharap sinergi berbagai pihak dapat menjadikan ekosistem budidaya rumput laut Sulawesi Selatan sebagai salah satu model digitalisasi rantai nilai UMKM yang dapat dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia.

Pada akhirnya, perubahan yang dibawa e-Seaweed bukan semata tentang memindahkan catatan usaha ke layar digital. Lebih jauh, inisiatif ini berupaya membuat aktivitas petani yang selama ini nyata di lapangan memiliki jejak yang dapat dibaca oleh ekosistem keuangan—sehingga jarak antara petani kecil dan akses pembiayaan dapat semakin pendek. (*)

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

ISFO 2026 Diikuti 11.952 Peserta, OJK Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Ekonomi Syariah
Sinergi dan Inovasi Antarkan Sulsel Raih Prestasi TPID Award dan TP2DD Championship 2026
SD Inpres Tello Baru 2 Kembangkan Inovasi Berlayar
Rutin Gelar Donor Darah, UIT Makassar Sabet Penghargaan Kemanusiaan dari PMI Sulsel
Siswa SMA Islam Athirah Bone Raih Tiga Prestasi di Alkali Contest 2026 UIN Alauddin Makassar
OJK DORONG INKLUSI KEUANGAN PETANI RUMPUT LAUT MELALUI IMPLEMENTASI e-SEAWEED 
Wujudkan Kawasan Hijau dan Berkelanjutan, NIPAH PARK Dukung Indonesia Green Building Festival 2026 Makassar 
YPKDS Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor untuk Keberlanjutan Program HIV
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 19:03 WITA

Ketika Aktivitas Petani Mulai Dicatat Secara Digital

Sabtu, 26 September 2026 - 17:30 WITA

ISFO 2026 Diikuti 11.952 Peserta, OJK Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Ekonomi Syariah

Sabtu, 26 September 2026 - 06:00 WITA

Sinergi dan Inovasi Antarkan Sulsel Raih Prestasi TPID Award dan TP2DD Championship 2026

Jumat, 25 September 2026 - 21:25 WITA

SD Inpres Tello Baru 2 Kembangkan Inovasi Berlayar

Jumat, 25 September 2026 - 20:26 WITA

Rutin Gelar Donor Darah, UIT Makassar Sabet Penghargaan Kemanusiaan dari PMI Sulsel

Berita Terbaru

Berita

Ketika Aktivitas Petani Mulai Dicatat Secara Digital

Sabtu, 26 Sep 2026 - 19:03 WITA

Berita

SD Inpres Tello Baru 2 Kembangkan Inovasi Berlayar

Jumat, 25 Sep 2026 - 21:25 WITA