Ketika Yang Salah Bukan Murid, Melainkan Cara Kita Membacanya

- Penulis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:18 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika Yang Salah Bukan Murid, Melainkan Cara Kita Membacanya

Oleh: Zaid Buri Prahastyo – SMK Darussalam Makassar

Ada satu pertanyaan yang selalu saya bawa setiap kali memasuki sekolah. Mengapa ada murid yang datang terlambat? Mengapa ada yang memilih tidak masuk sekolah? Mengapa ada yang hadir setiap hari, tetapi pulang tanpa pernah benar-benar merasa belajar?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama ini kita terlalu cepat menjawab pertanyaan itu. Aturan diperketat, pengawasan ditambah, dan program terus dibuat. Seolah setiap persoalan murid selalu dapat diselesaikan dengan disiplin yang lebih kuat. Namun semakin lama saya berkecimpung di dunia pendidikan, semakin saya percaya bahwa persoalannya bukan pada murid. Yang perlu kita ubah justru cara kita membacanya. Seorang murid tidak pernah hidup sebagai angka. Ia hidup sebagai manusia.

Yang kita lihat adalah nilainya. Yang kita catat adalah absensinya. Yang kita beri sanksi adalah pelanggarannya. Padahal di balik semua itu ada cerita yang sering tidak kita baca. Mungkin ada anak yang harus membantu orang tuanya sebelum berangkat sekolah. Mungkin ada kegelisahan yang tak pernah memiliki ruang untuk diceritakan. Bahkan di balik nilai yang rendah bisa jadi ada seorang anak yang telah kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri.

Di era teknologi, sekolah tidak kekurangan data. Yang mulai langka justru kemampuan membaca manusia. Padahal berbagai penelitian menunjukkan pesan yang sama. PISA 2022 menegaskan bahwa dukungan guru dan rasa memiliki terhadap sekolah berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. UNESCO menempatkan empati dan kemampuan sosial-emosional sebagai kompetensi penting abad ke-21. Sementara WHO mengingatkan bahwa kesehatan mental remaja menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses belajar. Anak belajar lebih baik ketika mereka merasa dipahami.

Kegelisahan itu saya bawa ketika dipercaya memfasilitasi Kelas Kompetensi Temu Pendidik Nusantara XIII di Kabupaten Enrekang. Hari itu saya tidak memulai kelas dengan teori. Saya mengajak para guru menjadi murid. Mereka membaca sejumlah cerita, berdiskusi, lalu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang sengaja saya batasi. Perlahan ruangan menjadi sunyi. Mereka mulai merasakan bagaimana rasanya dinilai sebelum dipahami. Yang paling saya ingat bukanlah ramainya peserta, melainkan perubahan satu pertanyaan.

Di awal sesi mereka bertanya, “Bagaimana cara memperbaiki murid?”

Di akhir sesi pertanyaannya berubah.”Bagaimana sebenarnya kita membaca murid?”

Saya percaya, perubahan pendidikan hampir selalu dimulai ketika pertanyaan kita berubah. Perjalanan pulang dari Enrekang membawa saya pada kisah yang sejak kecil hidup di tengah keluarga kami, sosok buyut Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito yang menjadi tokoh Kongres Perempuan Indonesia sekaligus salah satu penggerak lahirnya Hari Ibu.

Hampir satu abad lalu, para perempuan dari berbagai daerah berkumpul dalam Kongres Perempuan Indonesia. Mereka percaya bahwa membangun bangsa harus dimulai dengan membangun manusia melalui pendidikan, keluarga, dan kesadaran sosial. Dari semangat itulah lahir sejarah yang kini kita kenal sebagai Hari Ibu.

Semakin saya mempelajari jejak perjuangannya, semakin saya memahami bahwa warisan terbesarnya bukanlah sebuah peringatan tahunan, melainkan cara memandang manusia. Pendidikan bukan sekadar mencetak anak yang patuh, tetapi memerdekakan manusia agar mampu bertumbuh. Kesadaran itulah yang membuat saya merasa bahwa setiap kali berdiri di hadapan para guru, saya hanya sedang melanjutkan sebuah percakapan yang telah dimulai hampir seabad lalu.

Percakapan itu justru semakin relevan hari ini. Di tengah kecerdasan buatan yang mampu membaca jutaan data, hanya guru yang mampu membaca manusia. Tidak ada algoritma yang dapat memahami tatapan seorang anak yang sedang kehilangan harapan atau menangkap luka yang membuat anak berhenti percaya pada dirinya sendiri.

Karena itu, saya percaya pekerjaan pertama seorang guru bukanlah mengajar.

  • Pekerjaan pertama seorang guru adalah membaca.
  • Membaca cerita yang tidak pernah tertulis di buku pelajaran.
  • Membaca kecemasan yang tidak pernah muncul di rapor.
  • Membaca potensi yang sering tersembunyi dibalik perilaku seorang anak.

Jika ada satu pola pikir yang perlu terus ditanamkan kepada setiap pendidik Indonesia, maka itu adalah “jangan terburu-buru menilai sebelum sungguh-sungguh memahami”. Sebab setiap perilaku adalah pesan, dan hanya guru yang bersedia untuk memahami, yang akan mampu membacanya.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan Indonesia mungkin tidak selalu dimulai dari kurikulum baru atau teknologi baru. Bisa jadi, perubahan terbesar justru lahir ketika seorang guru memilih melihat seorang murid sebagai manusia terlebih dahulu. (*)

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rapimnas Forkonas PP DOB, Hasbi Syamsu Ali Bawa Aspirasi 4 CDOB dan Provinsi Luwu Raya
PJM Dukung Penyesuaian SOP Pemanduan Kapal di Perairan Wajib Pandu Kelas II Kijang
Buka ASC Vol. 5, OSIS SMA Islam Athirah Makassar Rangkul PMI Gelar Donor Darah
Pelita SDN Borong Makassar, Cara Sekolah Hidupkan Literasi
Dari Ikatan Kain Menjadi Karya Bermakna, GMTD Hadirkan Tabung Karya Vol. 5 Bersama 45 Perempuan Penyandang Disabilitas
SD Negeri Borong Dorong Budaya Literasi Siswa Lewat Membaca dan Menulis
Jelang HUT ke-26, Mal Ratu Indah Hadirkan Artcade sebagai Ruang Kreatif dan Komunitas
Peringati World Heart Day 2026, Bukit Baruga Hadirkan Pemeriksaan dan Edukasi Kesehatan Jantung Gratis
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 18:00 WITA

Rapimnas Forkonas PP DOB, Hasbi Syamsu Ali Bawa Aspirasi 4 CDOB dan Provinsi Luwu Raya

Selasa, 29 September 2026 - 17:31 WITA

PJM Dukung Penyesuaian SOP Pemanduan Kapal di Perairan Wajib Pandu Kelas II Kijang

Selasa, 29 September 2026 - 12:07 WITA

Buka ASC Vol. 5, OSIS SMA Islam Athirah Makassar Rangkul PMI Gelar Donor Darah

Selasa, 29 September 2026 - 11:04 WITA

Pelita SDN Borong Makassar, Cara Sekolah Hidupkan Literasi

Senin, 28 September 2026 - 20:24 WITA

Dari Ikatan Kain Menjadi Karya Bermakna, GMTD Hadirkan Tabung Karya Vol. 5 Bersama 45 Perempuan Penyandang Disabilitas

Berita Terbaru

Berita

Pelita SDN Borong Makassar, Cara Sekolah Hidupkan Literasi

Selasa, 29 Sep 2026 - 11:04 WITA