Linieritas Penting,  Tetapi Guru Bukan Garis Lurus

- Penulis

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:33 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Linieritas Penting, Tetapi Guru Bukan Garis Lurus

Oleh: Zaid Buri Prahastyo

Guru BK SMK Darussalam Makassar

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada guru yang ijazahnya berjalan lurus menuju ruang kelas. Ada pula yang jalannya berbelok, menyeberang disiplin, lalu menemukan dirinya di tempat yang tidak pernah direncanakan. Saya termasuk yang kedua. Selama 17 tahun menjadi guru Bimbingan dan Konseling, saya membawa satu kenyataan: ijazah saya adalah Sarjana Perikanan.

Bagi sebagian orang, ini mungkin persoalan linieritas. Bagi saya, ini adalah bagian dari perjalanan yang membentuk cara saya melihat pendidikan. Saya tidak mengatakan bahwa linieritas tidak penting. Seorang guru tetap membutuhkan fondasi keilmuan dan kompetensi yang memadai. Namun, ada pertanyaan yang menurut saya layak diajukan: apakah seorang guru hanya boleh membawa apa yang tertulis di ijazahnya ke dalam ruang kelas?

Pertanyaan itu kembali muncul ketika saya mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Dalam praktik pembelajaran bersama murid Asisten Perawat, saya membawa sesuatu yang dianggap berada di luar dunia BK: ekosistem perairan. Saya membawa laut, sungai, ikan, dan lingkungan perairan ke ruang BK. Bukan untuk mengajarkan perikanan, melainkan untuk menunjukkan bahwa pengalaman akademik seorang guru tidak harus kehilangan makna ketika ia memasuki ruang profesional yang berbeda. Warna bukan pengganti fondasi. Tetapi fondasi juga tidak seharusnya menghapus warna.

Dalam pembelajaran tersebut, murid membaca kasus, berdiskusi, bekerja dalam kelompok, mempresentasikan gagasan, dan saling memberikan umpan balik. Salah satu kesepakatan kelas yang muncul bahkan sederhana: “Tidak boleh baper.” Namun di balik kalimat itu, saya melihat sesuatu yang penting. Murid belajar menerima kritik, mendengar perspektif berbeda, dan memperbaiki gagasan. Bahkan murid yang biasanya pasif mulai terlibat dalam proses umpan balik.

Pengalaman itu membuat saya berpikir: mungkin persoalannya bukan semata-mata seberapa lurus latar belakang seorang guru dengan materi yang dibawanya, tetapi seberapa jauh pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya mampu membuat murid bergerak, berpikir, bertanya, dan berkembang. Tentu, ini bukan berarti penguasaan keilmuan dapat diabaikan. Guru yang mengajar di luar bidang keahliannya tetap membutuhkan kompetensi, pengalaman, dukungan profesional, dan kemauan untuk terus belajar.

Karena itu, persoalannya bukan sesederhana linier berarti baik, tidak linier berarti buruk. Linieritas adalah fondasi penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran profesionalitas. Seorang guru dibentuk oleh pengetahuan, kompetensi, pengalaman, refleksi, dan kemauan untuk terus berkembang. Saya melihat hal itu seperti ekosistem yang saya pelajari dalam perikanan. Tidak ada satu unsur yang hidup sendirian. Sungai memengaruhi laut. Lingkungan memengaruhi manusia. Dan manusia kembali memengaruhi lingkungan.

Pendidikan pun demikian.

Seorang murid tidak pernah datang ke ruang kelas hanya membawa nilai rapor. Ia membawa keluarga, lingkungan, pengalaman, kecemasan, cita-cita, dan bayangan tentang masa depannya. Karena itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi. Guru juga perlu membantu murid menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan yang mereka hadapi.

Dunia mereka pun semakin kompleks. Perubahan teknologi, lingkungan, kesehatan, dan dunia kerja tidak mengenal batas mata pelajaran. Karena itu, pendidikan membutuhkan guru dengan fondasi yang kuat sekaligus kemampuan untuk menghubungkan berbagai perspektif.

PPG bagi saya akhirnya bukan sekadar perjalanan memperoleh sertifikat pendidik. Ia menjadi ruang untuk berdamai dengan perjalanan saya sendiri. Saya tetap guru BK. Tetapi saya tidak perlu meninggalkan laut yang pernah membentuk saya. Saya datang ke ruang kelas dengan seluruh pengalaman yang saya miliki.

Sebab pada akhirnya, guru bukan hanya ijazahnya. Ia adalah apa yang dipelajarinya, dialaminya, direfleksikannya, dan bagaimana semua itu digunakan untuk membantu murid tumbuh.

Linieritas adalah garis pijakan, bukan batas imajinasi. (*)

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perkuat Ekosistem Pesisir Pangkep, Kalla Toyota Tanam 43.000   Pohon Mangrove dalam Rangka HUT KALLA ke-74 
FIN EXPO BIK 2026 PERKUAT SINERGI DAN PERLUAS AKSES KEUANGAN MASYARAKAT SULAWESI SELATAN
Sambut Bulan Oktober, ARYADUTA Makassar Hadirkan Promo Menerpa “Octotreats Staycation” dengan Pemandangan Pantai yang Mempesona
Surat MA Nyasar ke Pengadilan Agama, Kuasa Hukum Bupati Gowa Endus Dugaan Sabotase
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Perkuat Penyaluran Pertalite ke Wilayah Toraja
SAATNYA ANAK MUDA AMBIL PERAN! OJK SULSEL SULBAR SIAPKAN DUTA LITERASI KEUANGAN 2026–2027
PIN Expo 2026 Resmi Dibuka, OJK Sulselbar Targetkan 25 Ribu Pengunjung dan Transaksi Lampaui Rp5,5 Miliar
Makassar, Kamu Istimewa. IM3 Bawa Lebih Banyak Manfaat dalam Satu Paket Prabayar  
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:33 WITA

Linieritas Penting,  Tetapi Guru Bukan Garis Lurus

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:44 WITA

Perkuat Ekosistem Pesisir Pangkep, Kalla Toyota Tanam 43.000   Pohon Mangrove dalam Rangka HUT KALLA ke-74 

Senin, 5 Oktober 2026 - 11:02 WITA

FIN EXPO BIK 2026 PERKUAT SINERGI DAN PERLUAS AKSES KEUANGAN MASYARAKAT SULAWESI SELATAN

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:16 WITA

Sambut Bulan Oktober, ARYADUTA Makassar Hadirkan Promo Menerpa “Octotreats Staycation” dengan Pemandangan Pantai yang Mempesona

Minggu, 4 Oktober 2026 - 23:19 WITA

Surat MA Nyasar ke Pengadilan Agama, Kuasa Hukum Bupati Gowa Endus Dugaan Sabotase

Berita Terbaru

Berita

Linieritas Penting,  Tetapi Guru Bukan Garis Lurus

Senin, 5 Okt 2026 - 18:33 WITA