Kampung Hijau Energi LAZ Hadji Kalla Perkuat Ketahanan Iklim di Sulselbar

- Penulis

Kamis, 12 Februari 2026 - 12:58 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSAR,FILALIN.COM, – Upaya memperkuat ketahanan lingkungan dan menghadapi dampak perubahan iklim terus didorong melalui Program Kampung Hijau Energi yang digagas oleh Program Humanity and Enviroment, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla. Dijalankan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, program ini menjadi salah satu ikhtiar berbasis komunitas dalam menjawab tantangan krisis lingkungan sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

Program Kampung Hijau Energi mengintegrasikan pertanian organik, peternakan, dan pengolahan limbah menjadi energi terbarukan dalam satu siklus berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, masyarakat didorong untuk mengelola sumber daya lokal secara efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Kampung Hijau Energi merupakan program kolaboratif yang dilaksanakan di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Majene di Sulawesi Barat serta Kabupaten Maros, Pinrang, dan Kota Parepare di Sulawesi Selatan. Di wilayah-wilayah tersebut, masyarakat menerapkan praktik siklus yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.

 

Tanaman organik yang dibudidayakan warga dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Selanjutnya, limbah ternak diolah menggunakan teknologi biogas untuk menghasilkan energi api biru serta pupuk organik cair. Energi biogas digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sehingga mengurangi ketergantungan pada kayu bakar dan LPG.

 

Sementara itu, pupuk organik cair dikembalikan ke lahan pertanian untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman. Praktik ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan efisiensi biaya produksi bagi petani dan peternak.

 

Program Manager Humanity and Environment LAZ Hadji Kalla, Sapril Akhmady, menyebutkan, LAZ Hadji Kalla berkolaborasi dengan Yayasan Forum Komunitas Hijau dalam program ini. Selain memperkuat ekonomi warga, Kampung Hijau Energi berkontribusi langsung pada mitigasi perubahan iklim dengan menekan emisi metana dari limbah ternak serta mendorong praktik pertanian rendah karbon. Pendekatan sirkular ekologis berdampak sebagai kunci keberhasilan program ini.

 

“Ketahanan iklim berbicara tentang kapasitas suatu wilayah untuk menghadapi gangguan iklim—seperti kekeringan, banjir, kenaikan suhu, atau ketidakpastian musim yang secara nyata berdampak pada kondisi sosial dan lingkungan. Sementara Kampung Hijau Energi merupakan salah satu instrumen praktis di tingkat komunitas yang secara langsung membangun kapasitas tersebut melalui pendekatan energi terbarukan, pengelolaan limbah biomassa, dan penguatan ekonomi lokal. Program ini membangun ekosistem yang saling menguntungkan. Limbah tidak lagi menjadi masalah, tetapi sumber nilai tambah bagi petani dan peternak sekaligus menjaga lingkungan,” ujarnya.

 

Senada dengan itu, Sekretaris Yayasan Forum Komunitas Hijau, Hamzah, menilai Kampung Hijau Energi sebagai contoh nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak. “Ketahanan lingkungan harus dibangun dari komunitas. Kampung Hijau Energi menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari pola pikir dan praktik sehari-hari masyarakat,” katanya.

 

Melalui kolaborasi multipihak, Program Kampung Hijau Energi membuktikan bahwa solusi lingkungan berkelanjutan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

Ketua Kelompok Tani Ternak, Desa Benteng Paremba, Kecamatan Lembang, Pinrang, Muhajir mengungkapkan tantangannya dalam membangun gagasan ini hingga mendapat dukungan dari LAZ Hadji Kalla yang bekerjasama dengan Yayasan Forum Komunitas Hijau.

 

“Bagi saya, tekanan dari warga dan keluarga serta tokoh tokoh adat akibat dari minimnya informasi menjadi cermin betapa gagasan baru sering dianggap ancaman ketika lahir di ruang yang belum siap berdialog. Usulan saya dinilai mengganggu keseimbangan sosial, bahkan sempat diminta dihentikan demi meredam konflik. Di titik inilah saya menyadari, banyak ide baik di desa gugur bukan karena salah, tetapi karena berjalan sendirian. Maka saya memilih bertahan, bukan dengan melawan, melainkan dengan merajut jejaring,” jelasnya. (*)

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

TMMD ke-130 Kodim Gowa Gelar Sosialisasi Kesehatan dan Ketahanan Pangan di Kalebarembeng
Menulis Sejarah Rakyat sebagai Sebuah Gerakan
Dorong Gaya Hidup Sehat dan Berkelanjutan, Bukit Baruga Gelar Poundfit dan Podcast di Ruang Terbuka Hijau
PJM Hadirkan Pelindo Mengajar 2026, Inspirasi Siswa SMA Negeri 3 Bogor
Perkuat Akses Jalan Desa, Talud Penahan Tanah TMMD Capai 29 Persen
LBH SUARA PANRITA KEADILAN KIRIM SOMASI PERTAMA KEPADA BUPATI PINRANG, PERJUANGKAN HAK AHLI WARIS ATAS TANAH DI LAMPA PINRANG, SULAWESI SELATAN 
TMMD ke-130 Hadirkan Akses Air Bersih, Warga Barembeng Tak Lagi Bergantung pada Cara Lama
Cegah Longsor dan Kerusakan Jalan, TMMD Kodim Gowa Percepat Pembangunan Talud di Kalebarembeng
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:28 WITA

TMMD ke-130 Kodim Gowa Gelar Sosialisasi Kesehatan dan Ketahanan Pangan di Kalebarembeng

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:21 WITA

Menulis Sejarah Rakyat sebagai Sebuah Gerakan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:43 WITA

Dorong Gaya Hidup Sehat dan Berkelanjutan, Bukit Baruga Gelar Poundfit dan Podcast di Ruang Terbuka Hijau

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:39 WITA

PJM Hadirkan Pelindo Mengajar 2026, Inspirasi Siswa SMA Negeri 3 Bogor

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:35 WITA

Perkuat Akses Jalan Desa, Talud Penahan Tanah TMMD Capai 29 Persen

Berita Terbaru

Berita

Menulis Sejarah Rakyat sebagai Sebuah Gerakan

Rabu, 21 Okt 2026 - 12:21 WITA