MAKASSAR,FILALIN.COM, –Pagi baru saja pecah di hamparan sawah Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Di tengah udara yang masih dingin, Rahman, seorang petani padi, mulai mengangkut karung gabah hasil panennya ke tepi jalan desa. Wajahnya tampak lega. Musim panen kali ini memberinya harapan baru setelah beberapa tahun terakhir dihantui kenaikan pupuk dan cuaca yang sulit diprediksi.
“Yang penting gabah kami ada yang beli dengan harga bagus. Kalau harga jatuh, petani sangat susah,” ujarnya sambil membersihkan lumpur di kakinya, Kamis (5/7).
Bagi banyak petani di Sulawesi Selatan, kehadiran Perum BULOG masih menjadi sandaran penting. Saat panen raya membuat harga gabah rawan anjlok, BULOG dinilai membantu menjaga stabilitas harga sekaligus memberi kepastian pasar bagi petani kecil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Memasuki usia ke-59 tahun, BULOG kembali mengingatkan publik bahwa ketahanan pangan tidak hanya berbicara soal stok beras nasional, tetapi juga tentang nasib petani yang bekerja dari pagi hingga petang di sawah-sawah Indonesia.
Di Kabupaten Pinrang, petani lainnya, Nurdin, mengaku sempat khawatir saat produksi beras melimpah beberapa bulan terakhir. Namun, penyerapan gabah oleh pemerintah membuat para petani sedikit bernapas lega.
“Kalau tidak ada penyerapan, biasa harga turun sekali saat panen. Modal kadang tidak kembali. Sekarang kami merasa lebih tenang karena ada BULOG yang turun menyerap hasil panen,” katanya.
Sulawesi Selatan sendiri dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Produksi beras dari daerah seperti Sidrap, Bone, Wajo, hingga Pinrang menjadi penopang kebutuhan pangan di berbagai wilayah Indonesia Timur. Karena itu, peran BULOG dalam menjaga rantai distribusi dan penyerapan hasil panen menjadi sangat penting.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong BULOG memperkuat penyerapan gabah petani lokal demi menjaga ketahanan pangan nasional.
Menurut Amran, Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor pangan di tengah ancaman krisis global dan perubahan iklim yang memengaruhi produksi dunia. Ia menilai kesejahteraan petani menjadi kunci utama menjaga stabilitas pangan negara.
“Kalau petani untung, mereka semangat menanam. Kalau produksi kuat, maka negara juga kuat,” ujar Amran.
Dalam setahun terakhir, penyerapan gabah dan beras oleh BULOG juga mencatat angka tertinggi sepanjang sejarah. Hingga awal Mei 2025, BULOG berhasil menyerap sekitar 1,88 juta ton beras dari dalam negeri. �
Kompas Keuangan + 1
Bahkan sepanjang tahun 2025, Perum BULOG mencatat penyerapan Gabah Kering Panen mencapai 4,53 juta ton, tertinggi sejak BULOG berdiri. Selain itu, pengadaan setara beras nasional mencapai sekitar 3,19 juta ton. �
TIMES Jakarta + 2
Capaian tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai serius memperkuat stok pangan nasional dengan mengutamakan hasil panen petani lokal. Kebijakan pembelian gabah dengan harga yang ditetapkan pemerintah juga memberi ruang bagi petani untuk mendapatkan keuntungan yang lebih layak.
Di sisi lain, BULOG juga terus bertransformasi menghadapi tantangan zaman. Sistem distribusi dan pencatatan stok mulai mengadopsi teknologi digital untuk mempercepat pengawasan dan penyaluran pangan. Modernisasi gudang hingga penguatan cadangan beras pemerintah menjadi bagian dari langkah menghadapi ancaman krisis pangan global.
Namun bagi petani seperti Rahman, harapan mereka sebenarnya sederhana. Mereka hanya ingin hasil panen dihargai layak agar bisa terus menanam dan menghidupi keluarga.
“Kalau petani senang, kampung juga hidup,” katanya pelan.
Selama 59 tahun, BULOG hadir bukan sekadar menjaga gudang beras negara. Di balik tugas besarnya mengawal pangan nasional, tersimpan harapan jutaan petani Indonesia yang ingin hidup lebih sejahtera dari hasil sawah mereka sendiri. (*)





















