JAMPEA,FILALIN.COM – Di tengah amukan ombak dan angin kencang yang menelan KLM Nurul Salsa di perairan barat Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, terselip sebuah kisah yang menggetarkan hati. Bukan tentang bagaimana kapal itu tenggelam, melainkan tentang kasih sayang seorang kakek kepada cucunya yang begitu besar hingga rela memberikan kesempatan terakhir untuk hidup.
Namanya Umar, 80 tahun. Di sisinya ada Naura, cucu perempuan berusia 13 tahun yang menjadi teman perjalanan sekaligus harapan keluarganya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelum kapal benar-benar karam, seorang penumpang sempat mengabadikan momen keduanya duduk berdampingan. Tak ada yang menyangka, foto sederhana itu kini menjadi potret terakhir kebersamaan mereka.
Saat kepanikan melanda dan penumpang berebut menyelamatkan diri, Umar disebut memilih memberikan pelampung terakhir yang dimilikinya kepada Naura. Sebuah keputusan yang mungkin lahir tanpa banyak berpikir. Naluri seorang kakek yang hanya ingin cucunya selamat.
Namun takdir berkata lain.
Kesaksian terakhir tentang Naura datang dari seorang penyintas, Munawir (51). Di tengah laut yang bergelora, ia melihat Naura terjatuh ke air lalu berusaha merangkulnya agar bisa naik ke atas sepotong gabus yang menjadi harapan terakhir mereka.
«”Janganmi kasi naikka Om, takutka,” ucap Naura lirih.»
Munawir berusaha menenangkan gadis itu.
«”Tidak apa-apaji nak, saya pegangki.”»
Naura akhirnya berada di atas gabus bersama beberapa penumpang lainnya. Sementara Munawir bertahan di bawah, memegang gabus agar tidak terbalik diterjang ombak.
Beberapa saat kemudian, suara Naura kembali terdengar.
«”Di manai kakekku?”»
Kalimat sederhana itu kini menjadi luka yang membekas di hati banyak orang.
Munawir mencoba mencari Umar di antara gelapnya lautan. Ia terus memanggil dan mengamati setiap bayangan yang muncul di antara ombak. Namun sosok lelaki tua itu tak pernah terlihat lagi.
“Tenang maki nak, saya carikan ki,” jawab Munawir saat itu.
Sayangnya, malam datang lebih cepat daripada pertolongan.
Gelombang semakin tinggi. Angin semakin kencang. Satu per satu penumpang yang berada di atas gabus mulai terpisah diterjang arus.
Dalam gelap yang hanya ditemani suara ombak, Naura pun perlahan menghilang dari pandangan.
“Saya tidak tahu lagi ke mana Naura dan penumpang lainnya karena sudah tidak kelihatan. Semua gelap,” kenang Munawir dengan suara bergetar.
Hingga kini, Umar dan Naura masih dalam pencarian tim SAR bersama korban lainnya. Bagi keluarga, harapan belum padam. Mereka masih menunggu kabar, apa pun hasilnya.
Di media sosial, kisah Umar dan Naura menyentuh ribuan hati. Banyak yang mengaku menangis saat mengetahui seorang kakek memilih mengutamakan keselamatan cucunya di detik-detik terakhir.
Mungkin, di tengah luasnya laut Selayar, ombak telah memisahkan mereka. Namun kasih sayang seorang kakek kepada cucunya tidak akan pernah tenggelam.
Karena cinta sejati sering kali tidak diucapkan dengan kata-kata. Ia hadir lewat pengorbanan. Seperti pelampung terakhir yang diberikan Umar kepada Naura—sebuah tanda kasih yang akan selalu dikenang, apa pun akhir dari pencarian ini.
Catatan Redaksi: Hingga berita ini ditulis, proses pencarian terhadap Umar dan Naura masih terus dilakukan oleh tim SAR. Semoga seluruh korban yang masih hilang segera ditemukan. (*)




















