MAKASSAR,FILALIN.COM,. — Budaya literasi di sekolah tidak berhenti pada kebiasaan membuka buku. Di SD Negeri Borong Makassar, kegiatan membaca dipadukan dengan menulis, bercerita, dan kreativitas agar siswa memiliki ruang untuk mengenal gagasan sekaligus berani menuangkannya dalam bentuk karya.
Upaya tersebut diwujudkan melalui “Kegiatan Literasi & Menulis” yang digelar UPTD SPF SD Negeri Borong, Jalan Borong Raya Nomor 8, Makassar, Senin (28/9/2026). Kegiatan berlangsung pukul 10.00–11.00 WITA dan mengusung tema “PELITA – Pekan Literasi Anak”.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memperkuat budaya membaca dan menulis sekaligus menumbuhkan kreativitas siswa sejak jenjang pendidikan dasar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kegiatan itu, siswa diperkenalkan dengan dunia kepenulisan bersama Nur Ahmad – Lisan, jurnalis sekaligus praktisi menulis. Materi yang diberikan antara lain prinsip dasar jurnalistik 5W+H yang dapat diterapkan dalam aktivitas menulis.
Nur Ahmad juga menyampaikan bahwa kegiatan menulis pada dasarnya dapat dimulai oleh siapa saja. Menurut dia, kemauan menjadi modal penting, sementara ide dapat ditemukan dari berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Menjadi penulis pada prinsipnya gampang asal ada kemauan, dan ide untuk menulis bisa dari mana saja, biasa dimulai dari apa yang dilihat, dirasa, dan didengar,” ujarnya.
Literasi Tidak Hanya Membaca Buku
Kegiatan tersebut dirancang untuk memperluas pemahaman siswa mengenai literasi. Membaca menjadi pintu awal, tetapi kemampuan memahami informasi kemudian diarahkan untuk berkembang menjadi keberanian bercerita, menulis, dan menghasilkan karya.
Konsep itu juga terlihat melalui program GEMBIRA atau Gerakan Membaca, Bercerita, Menulis, Kriya Kreasi. Program tersebut memadukan sejumlah aktivitas yang saling berkaitan, mulai dari membaca hingga menghasilkan karya kreatif.
Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi. Mereka juga diberikan ruang untuk mengolah apa yang dibaca dan dipelajari menjadi gagasan yang dapat disampaikan melalui cerita, tulisan, maupun karya kreatif.
Penguatan budaya literasi sejak usia sekolah dasar menjadi bagian penting karena pada fase tersebut siswa mulai membangun kebiasaan belajar, berkomunikasi, dan menyampaikan gagasan.
Masuk dalam Rangkaian Bulan Kegemaran Membaca
Kegiatan literasi dan menulis di SD Negeri Borong juga menjadi bagian dari rangkaian Bulan Kegemaran Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan.
Momentum tersebut diarahkan untuk menumbuhkan ketertarikan anak terhadap buku. Pada saat yang sama, siswa didorong agar lebih aktif menuangkan ide yang mereka temukan dari aktivitas membaca ke dalam tulisan.
Bagi sekolah, kebiasaan membaca dan menulis dapat berjalan beriringan. Membaca mempertemukan siswa dengan berbagai informasi dan cerita, sedangkan menulis memberi mereka kesempatan untuk menyampaikan kembali gagasan dengan cara mereka sendiri.
Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk membangun lingkungan belajar yang mendorong siswa tidak sekadar membaca, tetapi juga bercerita, berkarya, dan mengembangkan kreativitas.
Sekolah Dorong Siswa Berani Mengembangkan Imajinasi
Kepala UPTD SPF SD Negeri Borong, Andi Erty Cahyani, S.Pd., M.Pd., menjadi bagian dari kegiatan yang mendorong penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah.
Menurut dia, literasi perlu ditempatkan lebih luas daripada sekadar aktivitas membaca buku. Melalui kegiatan tersebut, SD Negeri Borong berupaya menjadikan literasi sebagai ruang bagi siswa untuk mengembangkan imajinasi, kemampuan berkomunikasi, dan kreativitas.
Pendekatan itu memberi ruang kepada siswa untuk mengenali bahwa kegiatan membaca dan menulis memiliki hubungan dengan kemampuan mereka dalam menyampaikan gagasan.
Kemampuan tersebut juga berkaitan dengan keberanian menghasilkan karya. Karena itu, budaya literasi tidak hanya diarahkan untuk membentuk kebiasaan membaca, tetapi juga membangun lingkungan yang membuat siswa terbiasa berpikir dan berekspresi.
Dari Membaca Menuju Karya
Kegiatan PELITA dan GEMBIRA membawa pesan bahwa literasi dapat tumbuh melalui aktivitas yang dekat dengan keseharian anak.
Ketika siswa membaca, mereka memperoleh bahan untuk mengenal cerita dan informasi. Ketika mereka bercerita, mereka belajar menyampaikan kembali gagasan. Saat menulis, mereka belajar menuangkan pikiran dalam bentuk yang lebih terstruktur.
Sementara melalui kriya kreasi, siswa mendapatkan ruang untuk mengembangkan kreativitas dalam bentuk karya.
Rangkaian aktivitas tersebut membuat kegiatan literasi memiliki banyak pintu masuk bagi siswa. Anak yang senang membaca dapat menemukan ide dari buku, sementara mereka yang memiliki ketertarikan pada cerita atau karya kreatif memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Literasi sebagai Bagian dari Lingkungan Belajar
Penguatan budaya literasi juga tidak berdiri sendiri sebagai kegiatan sesaat. Lingkungan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan agar aktivitas membaca, menulis, dan berkarya dapat terus berkembang.
Rusdin Tompo, founder LiSan sekaligus fasilitator kegiatan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum bagi sekolah untuk terus mengembangkan lingkungan belajar yang mendorong siswa membaca, menulis, berkarya, dan berprestasi.
Pandangan tersebut menempatkan sekolah bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga sebagai ruang yang dapat membentuk kebiasaan literasi siswa.
Ketika membaca dan menulis menjadi bagian dari aktivitas sekolah, siswa memiliki kesempatan lebih besar untuk terbiasa menyampaikan gagasan serta mengembangkan potensi kreatifnya.
Menanam Kebiasaan Sejak Sekolah Dasar
Penguatan literasi pada jenjang sekolah dasar memiliki kaitan erat dengan kebiasaan belajar anak. Kemampuan membaca, memahami, lalu menyampaikan gagasan menjadi bekal yang dapat digunakan siswa dalam berbagai aktivitas pembelajaran.
Karena itu, kegiatan seperti PELITA dan GEMBIRA diarahkan untuk membuat literasi hadir melalui aktivitas yang beragam. Anak tidak hanya diajak berhadapan dengan buku, tetapi juga diberi kesempatan untuk berbicara, menulis, dan menghasilkan sesuatu dari apa yang mereka pelajari.
Di SD Negeri Borong, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya sekolah yang memberi ruang bagi tumbuhnya kreativitas siswa.
Pesan yang dibawa pun sederhana: membaca dapat melahirkan gagasan, gagasan dapat dituangkan melalui tulisan, dan tulisan dapat menjadi bagian dari karya.
Melalui kegiatan literasi dan menulis tersebut, SD Negeri Borong berupaya menanamkan kebiasaan membaca sekaligus membuka ruang bagi siswa untuk berani bercerita, menulis, berkreasi, dan mengembangkan potensi mereka sejak dini. (*)


















