MAKASSAR,FILALIN.COM,.– Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Muhammad Muhlasin, mengungkapkan kinerja industri jasa keuangan di Sulawesi Selatan hingga Juni 2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif, meski bergerak lebih moderat dibandingkan pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal tersebut disampaikan Muh.Mochlasin dalam kegiatan Media Briefing OJK Sulselbar yang digelar di Kantor OJK Sulselbar, Makassar, Senin (3/8/2026).
Mochlasin menjelaskan, aset perbankan di Sulawesi Selatan tumbuh 5,99 persen secara tahunan. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,71 persen dan penyaluran kredit tumbuh 5,27 persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau dilihat untuk perbankan, aset tetap tumbuh 5,99 persen. DPK tumbuh 5,71 persen dan kredit tumbuh 5,27 persen. Yang menarik, loan to deposit ratio (LDR) kita sedikit turun, yang biasanya di atas 120 persen, sekarang berada di sekitar 117 persen,” kata Mochlasin.
Ia menjelaskan, struktur DPK masih didominasi oleh tabungan yang mencapai sekitar Rp92,03 triliun atau sekitar 61 persen dari total simpanan masyarakat. Sementara deposito berkontribusi sekitar 22 persen dan giro sekitar 15 persen.
Di sisi penyaluran pembiayaan, Mochlasin menegaskan kredit produktif masih menjadi penopang utama dengan porsi sekitar 52 persen dari total kredit.
“Ini menunjukkan pembiayaan masih banyak mengalir ke sektor-sektor produktif yang mendukung aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Mochlasin juga memaparkan bahwa secara wilayah, Kota Makassar masih mendominasi penyaluran kredit dengan pangsa sekitar 53,04 persen. Kondisi tersebut dinilai wajar karena sebagian besar kantor pusat perusahaan dan aktivitas perbankan berada di Makassar, meskipun kegiatan usahanya tersebar di berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
“Makassar masih menjadi pusat aktivitas ekonomi. Banyak perusahaan yang beroperasi di daerah lain tetapi pencatatan kreditnya berada di Makassar karena lokasi kantor perusahaan atau kantor bank berada di kota ini,” jelasnya.
Selain sektor perdagangan besar dan eceran yang masih menjadi penerima kredit terbesar, Muhlasin melihat adanya peningkatan signifikan pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Menurutnya, kredit pada sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan mengalami pertumbuhan sekitar 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara sektor perikanan juga meningkat 5,69 persen, didorong berkembangnya ekonomi biru.
“Kalau kami melihat ini bukan shifting, tetapi lebih kepada refocusing. Mulai banyak pembiayaan yang mengalir ke sektor pertanian dan kehutanan. Ini pertanda yang baik karena Sulawesi Selatan memang memiliki kekuatan pada sektor tersebut,” kata Mochlasin.
Ia menambahkan, peningkatan pembiayaan juga terjadi pada sektor akomodasi, penyediaan makan dan minum, real estat, serta jasa perusahaan. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan penyaluran kredit yang semakin seimbang dengan struktur perekonomian Sulawesi Selatan.
“Saya melihat kenaikan ini cukup proporsional. Industri di Sulawesi Selatan mulai mendapatkan pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik dan potensi ekonomi daerah,” tutupnya. (*)




















