Winarni dan Mimpi Menjadi Dokter Hewan: Cerita Anak Nelayan yang Tumbuh di Rumah Anak Pesisir

- Penulis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:14 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BITUNG,FILALIN.COM, — Di tengah kehidupan masyarakat pesisir Bitung, Sulawesi Utara, Winarni, 12 tahun, menyimpan cita-cita menjadi dokter hewan. Kehadiran Rumah Anak Pesisir membuka ruang baginya untuk belajar, menggambar, bermain bersama teman sebaya, dan mengenal lebih jauh dunia yang ingin ia tekuni.

Tidak semua anak memulai kehidupan dengan kesempatan yang sama. Ada yang tumbuh dengan kehangatan keluarga yang lengkap, ada pula yang harus menjalani masa kecil dengan kehilangan sejak hari pertama kehidupannya.

 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Winarni, 12 tahun, termasuk anak yang harus tumbuh dengan kehilangan itu. Ibunya meninggal dunia ketika melahirkannya. Sejak lahir, ia tidak pernah merasakan kehadiran seorang ibu yang bisa dipeluk atau menjadi tempat bercerita tentang hal-hal kecil dalam kesehariannya.

 

Winarni tumbuh sebagai anak nelayan di kawasan pesisir Bitung, Sulawesi Utara. Di lingkungan tempat kehidupan masyarakat begitu dekat dengan laut, ia menjalani masa kanak-kanaknya dengan pengalaman dan tantangannya sendiri.

 

Namun, kisah Winarni bukan semata-mata tentang kehilangan.

 

Di usianya yang masih belia, ia memiliki kegemaran sederhana: menggambar dan bermain bersama teman-teman sebaya. Ia juga menyimpan cita-cita yang ingin diwujudkannya kelak. Winarni ingin menjadi seorang dokter hewan.

 

Cita-cita itu mungkin masih jauh dari jangkauannya sekarang. Ada banyak hal yang harus dipelajari, banyak pengetahuan yang perlu dipahami, dan perjalanan panjang yang harus dilalui sebelum ia benar-benar bisa mengenal profesi tersebut.

 

Tetapi, seperti anak-anak lainnya, Winarni berhak memiliki kesempatan untuk belajar dan mengenal dunia yang lebih luas.

 

Salah satu ruang yang memberinya kesempatan itu adalah Rumah Anak Pesisir (RASI), sebuah ruang belajar yang berada di Permukiman Candi, Lingkungan III, Kelurahan Bitung Barat I, Kota Bitung.

 

Di tempat ini, anak-anak tidak hanya belajar melalui buku. Mereka juga diajak menggambar, membuat prakarya, bermain, dan mengikuti berbagai kegiatan edukatif yang dirancang agar proses belajar terasa lebih menyenangkan.

 

Bagi Winarni, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk melakukan hal-hal yang disukainya sekaligus menghabiskan waktu bersama teman sebaya.

 

Di antara kegiatan sederhana itu, tersimpan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar mengisi waktu luang: kesempatan bagi seorang anak untuk terus mengenali dirinya, mengembangkan rasa ingin tahu, dan memelihara cita-cita.

 

Winarni belum sampai pada tahap mengetahui seluruh hal yang dibutuhkan untuk menjadi dokter hewan. Namun, keinginannya untuk belajar merupakan titik awal yang patut mendapat perhatian.

 

Sebab, cita-cita seorang anak tidak akan tumbuh hanya dengan harapan. Ia membutuhkan pendidikan, pendampingan, serta lingkungan yang memberi ruang bagi rasa ingin tahunya.

 

Dan kesempatan itulah yang seharusnya tersedia bagi setiap anak, termasuk mereka yang tumbuh di kawasan pesisir.

 

Ketika Ruang Belajar Menjadi Bagian dari Masa Kecil

 

Kehidupan masyarakat pesisir memiliki karakter tersendiri. Laut, aktivitas nelayan, dan dinamika permukiman menjadi bagian dari keseharian anak-anak yang tumbuh di lingkungan tersebut.

 

Namun, kedekatan dengan lingkungan itu tidak otomatis membuat mereka memiliki akses terhadap beragam pengalaman belajar.

 

Di tengah kondisi tersebut, ruang belajar nonformal dapat menjadi pelengkap penting bagi pendidikan yang diperoleh anak di sekolah.

 

Rumah Anak Pesisir hadir untuk membuka kesempatan itu.

 

Program ini mulai berjalan pada 2023 melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, yang dilaksanakan bersama Integrated Terminal (IT) Bitung, kelompok masyarakat binaan, relawan, dan berbagai pemangku kepentingan lokal.

 

Sejak berdiri, RASI telah menjangkau lebih dari 145 anak melalui beragam kegiatan pendidikan nonformal.

 

Lebih dari 20 rangkaian kegiatan telah dilaksanakan. Mulai dari Festival Anak Pesisir, Misi Pelestarian Pesisir, pembuatan prakarya, pengembangan metode pembelajaran bagi tutor, hingga berbagai perlombaan dan kegiatan untuk memperingati hari besar.

 

Pendekatan yang digunakan tidak hanya mengandalkan penjelasan di dalam ruangan. Anak-anak diajak belajar melalui pengalaman langsung atau experiential learning, dengan menghubungkan pengetahuan dan aktivitas mereka dengan lingkungan sekitar.

 

Melalui cara ini, belajar tidak harus selalu berlangsung dalam suasana formal. Anak-anak bisa memperoleh pengetahuan sambil bermain, mencoba hal baru, dan berinteraksi dengan teman-temannya.

 

Pendekatan tersebut juga membuka kesempatan bagi mereka untuk mengenali minat masing-masing.

 

Bagi seorang anak yang menyukai gambar, misalnya, kegiatan menggambar dapat menjadi pintu untuk mengembangkan kreativitas. Bagi anak yang memiliki rasa ingin tahu terhadap hewan, lingkungan, atau kehidupan di sekitarnya, pengalaman belajar bisa menjadi awal untuk mengenal bidang yang kelak ingin ditekuni.

 

Tentu, satu ruang belajar tidak bisa menjawab seluruh kebutuhan pendidikan anak. Namun, keberadaannya dapat memperluas pengalaman yang mereka peroleh sekaligus menumbuhkan keberanian untuk mencoba.

 

Bagi Winarni dan anak-anak lainnya, kesempatan semacam ini memiliki arti tersendiri.

 

Mereka bukan hanya membutuhkan tempat untuk belajar, tetapi juga lingkungan yang memungkinkan mereka tumbuh sebagai anak-anak dengan minat, kemampuan, dan cita-cita yang beragam.

 

Anak Tidak Hanya Membutuhkan Pelajaran, tetapi Juga Perhatian

 

Founder Rumah Cinta Kasih, Jesiska Christi Sarempa, memandang bahwa kebutuhan anak tidak berhenti pada pendidikan formal.

 

Anak-anak juga membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan lingkungan yang memberi mereka kesempatan untuk berkembang.

 

Ia meyakini setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan kasih sayang yang sama.

 

“Kami percaya bahwa semua orang, termasuk anak-anak, berhak mendapatkan pendidikan yang sama, cinta yang sama, dan kasih yang sama,” ujar Jesiska.

 

Ia berharap anak-anak yang merasa belum mendapatkan kebutuhan tersebut dapat menemukan ruang untuk bertumbuh di Rumah Anak Pesisir.

 

Pandangan itu menempatkan pendidikan dalam pengertian yang lebih luas. Anak tidak hanya membutuhkan pengetahuan untuk menjawab soal di sekolah, tetapi juga kesempatan untuk berinteraksi, mengembangkan kreativitas, dan membangun kepercayaan diri.

 

Dalam proses tumbuh kembangnya, anak perlu merasa bahwa keinginan mereka untuk belajar dan mengenal sesuatu yang baru merupakan hal yang berharga.

 

Bagi Winarni, yang kehilangan ibunya sejak lahir, kisah hidupnya tentu menjadi bagian dari perjalanan masa kecilnya. Namun, ia tidak seharusnya hanya dipandang dari kehilangan tersebut.

 

Ia juga seorang anak yang menyukai kegiatan menggambar, senang bermain bersama teman sebaya, dan memiliki cita-cita menjadi dokter hewan.

 

Melihat Winarni hanya melalui kisah kehilangan berarti melewatkan bagian lain yang tidak kalah penting: keinginan seorang anak untuk mengenal dunia dan menentukan masa depannya.

 

Anak-anak seperti Winarni tidak membutuhkan belas kasihan semata. Mereka membutuhkan kesempatan yang adil, pendidikan yang memadai, dan dukungan agar dapat mengembangkan kemampuan sesuai dengan minat mereka.

 

Di sinilah lingkungan keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan berbagai pihak yang terlibat dalam program sosial memiliki peran penting.

 

Pendampingan yang berkelanjutan dapat membantu anak-anak mengembangkan potensi mereka, sementara akses pendidikan yang baik memberi mereka bekal untuk mewujudkan cita-cita.

 

Tantangan yang Lebih Besar dari Sekadar Menggelar Kegiatan

 

Kehadiran Rumah Anak Pesisir merupakan salah satu bentuk upaya memperluas akses belajar bagi anak-anak di kawasan pesisir. Namun, seperti program pendidikan lainnya, tantangan sesungguhnya bukan hanya menghadirkan kegiatan, melainkan memastikan manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

 

Jumlah peserta dan banyaknya kegiatan memang dapat menunjukkan jangkauan sebuah program. Akan tetapi, ukuran keberhasilan yang lebih mendasar adalah perubahan yang terjadi pada anak-anak.

 

Apakah mereka semakin berani menyampaikan pendapat? Apakah mereka memperoleh pengetahuan baru? Apakah mereka semakin peduli terhadap lingkungan? Dan apakah mereka memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan minat serta cita-citanya?

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar keberhasilan program sosial tidak berhenti pada laporan kegiatan dan angka partisipasi.

 

Keberlanjutan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Relawan, tutor, orang tua, dan warga setempat memiliki peran dalam menjaga agar ruang belajar tetap hidup dan berkembang sesuai dengan kebutuhan anak-anak.

 

Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melalui Integrated Terminal Bitung mendukung pengembangan RASI sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan.

 

Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, mengatakan anak-anak perlu memahami nilai lingkungan tempat mereka tumbuh.

 

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa pesisir bukan sekadar tempat tinggal, tetapi bagian dari kehidupan dan masa depan mereka,” kata Lilik.

 

Menurut dia, kecintaan terhadap lingkungan diharapkan menjadi awal bagi tumbuhnya generasi yang peduli dan mampu membawa perubahan bagi masyarakatnya.

 

Pesan tersebut relevan bagi masyarakat pesisir. Anak-anak yang hari ini belajar mengenali lingkungannya kelak akan menjadi bagian dari masyarakat yang menentukan bagaimana lingkungan itu dijaga.

 

Namun, kepedulian terhadap pesisir tidak cukup dibebankan kepada anak-anak. Keluarga, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan lingkungan tempat mereka tumbuh tetap layak bagi generasi berikutnya.

 

Dengan demikian, pendidikan lingkungan tidak berhenti sebagai materi dalam sebuah kegiatan, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Cita-cita Winarni dan Hak Setiap Anak untuk Bermimpi

 

Kisah Winarni membawa kita kembali pada satu pertanyaan sederhana: seberapa jauh kesempatan yang tersedia bagi seorang anak untuk mewujudkan cita-citanya?

 

Menjadi dokter hewan membutuhkan pendidikan panjang, pengetahuan ilmiah, dan kesempatan untuk menempuh pendidikan yang sesuai. Bagi Winarni yang kini berusia 12 tahun, perjalanan itu masih terbentang jauh.

 

Karena itu, dukungan yang dibutuhkan bukan sekadar dorongan agar ia terus bermimpi. Ia juga memerlukan akses pendidikan yang baik, bimbingan untuk mengenal profesi yang diinginkan, serta lingkungan yang membantu menjaga semangat belajarnya.

 

Kesempatan untuk mengenal dunia hewan, misalnya, dapat menjadi pengalaman belajar yang relevan dengan minatnya. Pengetahuan tentang kesehatan hewan dan lingkungan juga dapat diperkenalkan secara bertahap, sesuai dengan usianya.

 

Langkah-langkah kecil semacam itu dapat membantu anak memahami bahwa cita-cita bukan sesuatu yang hanya dibayangkan, melainkan sesuatu yang dapat dipelajari dan dipersiapkan.

 

Hal serupa berlaku bagi anak-anak lain di kawasan pesisir. Mereka berhak mengenal berbagai profesi, menemukan minat, dan membayangkan masa depan yang tidak selalu sama dengan kehidupan yang mereka lihat setiap hari.

 

Tempat mereka dilahirkan tidak seharusnya menjadi batas bagi apa yang boleh mereka cita-citakan.

 

Bagi Winarni, kehidupan sebagai anak nelayan merupakan bagian dari latar belakangnya. Kehilangan ibu sejak lahir juga menjadi bagian dari kisah hidupnya. Namun, kedua hal itu tidak seharusnya menjadi satu-satunya cara orang lain memandang dirinya.

 

Ada seorang anak berusia 12 tahun yang menyukai gambar, senang bermain bersama teman-temannya, dan ingin menjadi dokter hewan.

 

Cita-cita itu mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi seorang anak, memiliki kesempatan untuk mengenal dan memperjuangkan masa depan merupakan sesuatu yang mendasar.

 

Rumah Anak Pesisir berupaya menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk belajar dan mengembangkan diri. Program ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat mengenai pendidikan berkualitas.

 

Meski demikian, pendidikan berkualitas tidak hanya diukur dari keberadaan ruang belajar. Kesempatan untuk berkembang, pendampingan yang berkelanjutan, dan dukungan lingkungan tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang anak.

 

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah ruang belajar tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak anak yang datang atau berapa banyak kegiatan yang terlaksana.

 

Keberhasilan juga dapat dilihat dari kesempatan yang terbuka setelahnya: seorang anak yang semakin berani bertanya, seorang anak yang menemukan minatnya, atau seorang anak yang mulai memahami langkah-langkah untuk mencapai cita-cita.

 

Di pesisir Bitung, Winarni masih memiliki perjalanan panjang untuk mewujudkan mimpinya menjadi dokter hewan.

 

Hari ini, ia masih berada pada masa ketika belajar menggambar dan bermain bersama teman sebaya menjadi bagian dari kesehariannya. Kelak, jalan hidupnya mungkin membawa banyak perubahan. Tidak ada yang bisa memastikan bagaimana masa depannya akan berjalan.

 

Namun, yang dapat dilakukan orang-orang di sekitarnya adalah memastikan bahwa kesempatan untuk belajar tetap terbuka.

 

Sebab, anak-anak tidak seharusnya dibatasi oleh kehilangan yang mereka alami, pekerjaan orang tua, ataupun tempat mereka tumbuh.

 

Winarni mungkin belum tahu sejauh apa langkahnya kelak. Tetapi, ia sudah memiliki sesuatu yang penting untuk memulai perjalanan itu: sebuah cita-cita. Kini, tugas orang dewasa bukan sekadar mengagumi mimpinya, melainkan ikut memastikan bahwa ia memiliki kesempatan untuk memperjuangkannya.

 

Dan mungkin, di situlah makna paling penting dari sebuah rumah belajar: bukan hanya mengajarkan anak-anak tentang dunia yang ada di hadapan mereka, tetapi juga membantu mereka percaya bahwa masih ada banyak kemungkinan di masa depan. (*)

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Toyota New Hilux Double Cabin 2026 Jadi Incaran Pengunjung Auto Show Makassar
Progres Jembatan Garuda Tahap VI di Gowa Capai 98 Persen, Dandim Harap Segera Diresmikan
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Optimalkan Operasional Penyaluran BBM untuk Atasi Barisan Kendaraan di Sulawesi Utara
Semarak HUT ke-419 Makassar, RSUD Daya Hadirkan Operasi Celah Bibir dan Langit-Langit Gratis
OJK Denda Pihak Terkait Saham DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun
Bank Indonesia Sulawesi Selatan Dorong UMKM REWAKO Perluas Pasar Global melalui Trade Expo Indonesia 2026
Orang Tua Korban Dugaan Perundungan di Asrama SMA Katolik Cenderawasih Kecewa, Kasus Dilaporkan ke Polisi
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Pastikan Pelayanan BBM di Takalar Kembali Kondusif
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:57 WITA

Toyota New Hilux Double Cabin 2026 Jadi Incaran Pengunjung Auto Show Makassar

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:14 WITA

Winarni dan Mimpi Menjadi Dokter Hewan: Cerita Anak Nelayan yang Tumbuh di Rumah Anak Pesisir

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 12:59 WITA

Progres Jembatan Garuda Tahap VI di Gowa Capai 98 Persen, Dandim Harap Segera Diresmikan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 12:28 WITA

Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Optimalkan Operasional Penyaluran BBM untuk Atasi Barisan Kendaraan di Sulawesi Utara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:53 WITA

Semarak HUT ke-419 Makassar, RSUD Daya Hadirkan Operasi Celah Bibir dan Langit-Langit Gratis

Berita Terbaru