LUKA PADA ANGKA: “NAIK KELAS OTOMATIS”

- Penulis

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:43 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

LUKA PADA ANGKA: “NAIK KELAS OTOMATIS”

Oleh: Zaid Buri Prahastyo, Guru BK SMK Darussalam Makassar

Belakangan ini, wacana mengenai penghapusan sistem “otomatis naik kelas” kembali meramaikan ruang publik. Ada pihak yang menilainya sebagai upaya memperkuat kedisiplinan dan kualitas akademik, sementara yang lain mengkhawatirkan dampaknya terhadap kondisi psikologis murid.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perdebatan ini bahkan sampai ke ruang kelas tempat saya mengajar. Seorang murid pernah bertanya, “Pak, kalau selama ini katanya kita otomatis naik kelas, kenapa ada teman saya yang tahun lalu tinggal kelas?”

Pertanyaan sederhana itu mengingatkan saya bahwa persoalan kebijakan pendidikan bukan sekadar tentang siapa yang naik atau tinggal kelas. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah setiap keputusan benar-benar membantu murid berkembang?

Kompetensi Harus Dikejar, Martabat Harus Dijaga

Pendidikan sering kali terjebak dalam angka, seolah keberhasilan seorang anak ditentukan oleh kemampuannya menuntaskan kurikulum dalam dua belas bulan. Padahal, setiap murid memiliki kebutuhan dan kecepatan belajar yang berbeda.

Tentu, menaikkan murid tanpa penguasaan kompetensi dasar bukanlah solusi. Kesenjangan belajar dapat menyulitkan mereka pada tahap berikutnya. Namun, tinggal kelas juga tidak otomatis menyelesaikan persoalan.

Kita perlu bertanya: apakah kesulitan belajar telah diidentifikasi dengan tepat? Apakah pendampingan dan kesempatan perbaikan sudah diberikan?

Keputusan tinggal kelas yang disampaikan tanpa empati dan dukungan dapat meningkatkan risiko rasa malu, menurunnya kepercayaan diri, serta hilangnya motivasi belajar. Karena itu, standar akademik harus tetap dijaga, tetapi proses mencapainya tidak boleh mengabaikan martabat manusia.

Ruang Tumbuh bagi Murid dan Guru

Ruang belajar bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan. Di dalamnya, guru dan murid sama-sama membawa cerita, tekanan, dan pergulatan hidup masing-masing.

Murid membutuhkan lingkungan yang aman untuk belajar dari kesalahan. Guru pun membutuhkan dukungan agar mampu mendampingi murid secara optimal, tanpa terus-menerus dibebani tuntutan administratif yang tidak proporsional.

Tanggung jawab ini tidak dapat diserahkan kepada guru BK seorang diri. Guru mata pelajaran, wali kelas, orang tua, pimpinan sekolah, dan pembuat kebijakan perlu membangun ekosistem yang saling mendukung.

Pendidikan yang manusiawi bukan pendidikan yang meniadakan tuntutan, melainkan pendidikan yang mampu menetapkan standar secara adil sekaligus menyediakan kesempatan untuk bertumbuh.

Dari Angka Menuju Pertumbuhan

Perbaikan pendidikan seharusnya tidak berhenti pada perdebatan tentang kenaikan kelas. Evaluasi akademik perlu digunakan untuk mengenali kesenjangan kompetensi, program remedial harus memberikan kesempatan belajar yang nyata, dan keputusan tinggal kelas perlu disertai penjelasan serta rencana pendampingan yang jelas.

Suara guru dan murid juga harus menjadi bagian dari evaluasi kebijakan. Mereka yang berada di ruang kelas memahami secara langsung tantangan pembelajaran yang tidak selalu terlihat dalam laporan administratif.

Pada akhirnya, kita tidak perlu mempertentangkan ketegasan dengan empati, ataupun kompetensi dengan kesehatan psikologis. Keduanya harus berjalan beriringan. Tegas tak harus keras.

Seorang murid mungkin harus mengulang kelas, tetapi ia tidak seharusnya kehilangan keyakinan bahwa dirinya masih mampu berkembang. Sebab, kegagalan dalam satu tahap pendidikan bukanlah vonis atas masa depannya.

Tugas kita bukan memastikan setiap anak selalu berhasil pada percobaan pertama, melainkan memastikan bahwa setiap keputusan pendidikan memberi mereka kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan tumbuh.

Sebab, pendidikan yang baik bukan sekadar menghasilkan angka-angka, melainkan membantu manusia mencapai potensinya tanpa kehilangan martabat dalam prosesnya. (*)

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dalam Dua Bulan, SMP Islam Athirah Bone Torehkan 39 Prestasi di Berbagai Bidang
Mantan Anggota DPRD Sulsel & Pakar Vokasi Dr. Affandy Agusman Aris Jabat Wakil Rektor I UPA Gowa
Spirit Berprestasi, Murid-Murid SD Inpres Tello Baru 2 Menulis Pengalamannya
Kolaborasi Prodi Magister Hukum UIT dengan DPN PERADRI Bahas Pendalaman dan Pengembangan Materi PKPA
IB FAIR KE-11 UIN ALAUDDIN MAKASSAR ANGKAT TANTANGAN EKONOMI SYARIAH DI ERA AI, AKADEMISI DAN PRAKTISI BERTEMU DALAM SEMINAR NASIONAL
Rektor UIT Tandatangani Kontrak Hibah DPPM Batch 2, Dorong Riset Berkelanjutan
Harumkan Nama Bone di Kancah Nasional, Siswa SMA Islam Athirah Bone Lolos OMI 2026 Bidang Geografi
Langkah Konkret Cetak Advokat Berintegritas, UIT Makassar Gandeng DPN Peradi Profesional
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:43 WITA

LUKA PADA ANGKA: “NAIK KELAS OTOMATIS”

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:03 WITA

Dalam Dua Bulan, SMP Islam Athirah Bone Torehkan 39 Prestasi di Berbagai Bidang

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:16 WITA

Mantan Anggota DPRD Sulsel & Pakar Vokasi Dr. Affandy Agusman Aris Jabat Wakil Rektor I UPA Gowa

Senin, 19 Oktober 2026 - 21:02 WITA

Spirit Berprestasi, Murid-Murid SD Inpres Tello Baru 2 Menulis Pengalamannya

Minggu, 18 Oktober 2026 - 07:09 WITA

Kolaborasi Prodi Magister Hukum UIT dengan DPN PERADRI Bahas Pendalaman dan Pengembangan Materi PKPA

Berita Terbaru

Pendidikan

LUKA PADA ANGKA: “NAIK KELAS OTOMATIS”

Rabu, 21 Okt 2026 - 15:43 WITA

Berita

Menulis Sejarah Rakyat sebagai Sebuah Gerakan

Rabu, 21 Okt 2026 - 12:21 WITA