MAKASSAR,FILALIN.COM, – Aktivitas jual beli tak selalu harus berlangsung di pusat perbelanjaan atau pasar besar. Di lingkungan keluarga besar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, kegiatan sederhana seperti menjual pakaian layak pakai, perlengkapan rumah tangga hingga aneka kuliner justru menjadi cara untuk menggerakkan ekonomi sekaligus mempererat kebersamaan.
Melalui kegiatan Friday Market & Barbeku (Barang Bekas Berkualitas), Ikatan Istri Pegawai OJK (IIPOJK) Sulsel Sulbar menghadirkan ruang bagi anggotanya untuk saling berbagi manfaat, memasarkan produk, sekaligus membuka peluang usaha.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua IIPOJK Sulsel Sulbar, Inna Muchlasin, mengatakan kegiatan tersebut pertama kali digelar pada Mei 2025. Sejak awal, konsep yang diusung bukan sekadar aktivitas jual beli, melainkan membangun interaksi ekonomi produktif di lingkungan keluarga besar OJK.
“Kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi antaranggota IIPOJK dan keluarga besar OJK, sekaligus menciptakan ruang interaksi ekonomi yang produktif. Anggota bisa menjual barang bekas berkualitas, memasarkan produk makanan dan minuman, serta berbagi manfaat dengan sesama,” ujar Inna , Jumat (6/11/2026).
Mengusung tema Bersama, Berbagi, Berdaya, kegiatan ini memiliki tiga pesan utama. Bersama berarti memperkuat hubungan kekeluargaan, berbagi melalui pemanfaatan barang dan produk yang dimiliki, sementara berdaya mendorong kemandirian ekonomi, kreativitas, serta jiwa kewirausahaan.
Salah satu yang menarik adalah konsep Barbeku. Barang-barang yang sudah tidak lagi digunakan pemiliknya, tetapi masih dalam kondisi baik, diberi kesempatan untuk memiliki pemilik baru.
Mulai dari pakaian, sepatu, tas, buku, perlengkapan anak, peralatan rumah tangga hingga elektronik yang masih berfungsi dapat ditawarkan dalam kegiatan tersebut.
Namun, kualitas tetap menjadi perhatian. Inna menjelaskan, setiap barang yang masuk terlebih dahulu disortir oleh pengurus IIPOJK, khususnya Bidang Ekonomi, melalui proses pemeriksaan atau quality control (QC).
Dengan begitu, barang yang dipasarkan dipastikan dalam kondisi baik, bersih, dan layak digunakan. Penjual juga diminta menyampaikan kondisi barang secara transparan agar pembeli mengetahui kualitas produk sebelum bertransaksi.
“Barang bekas bukan berarti barang yang tidak bernilai. Selama masih layak digunakan dan memiliki manfaat, barang tersebut bisa dimanfaatkan orang lain. Prinsipnya memberikan harga yang wajar dan menguntungkan kedua belah pihak,” jelasnya.
Lebih dari sekadar mencari barang dengan harga ekonomis, konsep ini juga membawa pesan lingkungan. Pemanfaatan kembali barang yang masih layak pakai menjadi bentuk sederhana penerapan prinsip reuse dalam konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Artinya, barang yang sebelumnya hanya tersimpan atau tidak lagi digunakan tidak harus berakhir menjadi limbah. Melalui transaksi sederhana, masa pakainya bisa diperpanjang dan manfaat ekonominya kembali dirasakan.
Di sisi lain, Friday Market memberikan kesempatan kepada anggota maupun keluarga pegawai OJK untuk memasarkan produk makanan, minuman, dan berbagai produk usaha lainnya.
Menurut Inna, ruang ini berpotensi menjadi sarana promosi bagi usaha kecil yang dimiliki keluarga pegawai. Bahkan, ke depan kegiatan tersebut dapat dikembangkan dengan melibatkan UMKM binaan OJK sesuai kebijakan dan kebutuhan penyelenggaraan.
Pengembangan kegiatan juga terbuka melalui pemanfaatan teknologi digital. Mulai dari katalog produk sebelum acara, transaksi menggunakan QRIS, hingga pencatatan penjualan untuk mengetahui perkembangan kegiatan.
Sejumlah inovasi lain yang dapat diterapkan antara lain lelang barang tertentu, stan khusus produk UMKM, program donasi dari hasil penjualan, hingga swap market atau kegiatan bertukar barang.
Inna berharap Friday Market & Barbeku tidak berhenti sebagai kegiatan jual beli sesaat. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan tumbuh menjadi ruang pemberdayaan ekonomi keluarga besar OJK yang memberikan manfaat secara berkelanjutan.
“Harapannya, kegiatan ini tidak hanya menjadi aktivitas jual beli, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan ekonomi keluarga besar OJK, memperkuat solidaritas, meningkatkan kepedulian sosial, dan membangun budaya berbagi yang berkelanjutan,” tutup Inna.
Melalui konsep sederhana tersebut, IIPOJK Sulsel Sulbar menunjukkan bahwa menggerakkan ekonomi bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Barang yang tak lagi dibutuhkan seseorang bisa menjadi peluang bagi orang lain, sementara produk rumahan memiliki kesempatan untuk menemukan pasar baru.
Sebab, ekonomi yang tumbuh tidak selalu dimulai dari usaha besar. Terkadang, cukup dari kebiasaan saling mendukung dan memberi nilai pada apa yang sudah dimiliki. (*)




















