GOWA,FILALIN.COM, — Di sebuah desa yang dikelilingi sawah dan perbukitan di pinggiran Kabupaten Gowa, kehidupan warga perlahan berubah. Bukan karena datangnya pabrik besar atau proyek pemerintah, tapi karena hadirnya sinyal kuat dari Indosat Ooredoo Hutchison (IOH).
Dulu, bagi Risma, siswi SMP di Desa Pangkabinanga , ikut kelas daring hanyalah angan. Sinyal sering putus, video call terhenti di tengah pelajaran. Namun kini, berkat peningkatan jaringan IOH, Risma bisa belajar lewat platform online tanpa hambatan. “Kalau dulu saya harus jalan sampai ke bukit biar bisa ikut Zoom, sekarang bisa langsung dari rumah. Nilai saya juga jadi lebih bagus,” tuturnya sambil tersenyum Selasa (11/11)
Cerita serupa datang dari Darmawan, pelaku UMKM yang menjual keripik pisang khas Gowa. Sejak koneksi internet di desanya membaik, ia mulai memasarkan produknya lewat media sosial dan marketplace. “Sekarang pesanan datang bukan cuma dari Makassar, tapi juga dari luar Sulawesi. Omzet naik hampir dua kali lipat,” ujarnya bangga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara bagi Andi Rahman, seorang kurir ojek daring, sinyal yang stabil berarti waktu dan penghasilan yang lebih pasti. “Dulu GPS sering error, susah cari alamat pelanggan. Sekarang lancar, orderan juga makin banyak,” katanya.
Kisah mereka menjadi bukti nyata bagaimana konektivitas bisa mengubah hidup. Melalui program perluasan jaringan hingga pelosok, IOH berkomitmen menghadirkan pemerataan akses digital untuk semua lapisan masyarakat.
Swandy Tjia, EVP Head of Circle Kalisumapa Indosat Ooredoo Hutchison, mengatakan bahwa kehadiran jaringan kuat di wilayah timur Indonesia bukan sekadar soal teknologi, tapi tentang membuka peluang.
“Kami ingin memastikan masyarakat dari kota hingga pelosok bisa menikmati manfaat digitalisasi. Akses internet bukan lagi kemewahan, tapi kebutuhan dasar untuk belajar, bekerja, dan berusaha,” jelas Swandy.
Inisiatif IOH untuk memperluas jangkauan jaringan tidak hanya memperkuat konektivitas, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi masyarakat di pinggiran kota — bahwa masa depan digital kini bisa diraih dari mana saja, bahkan dari dusun kecil di kaki gunung. (*)





















