MAKASSAR,FILALIN.COM, –Di sudut Pasar Terong, Makassar, suara mesin penggiling kopi bercampur riuh tawar-menawar pembeli menjadi rutinitas yang tak pernah benar-benar berhenti. Di antara lorong sempit pasar itu, Nurhayati, 43 tahun, dulunya hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung ke kios kecil miliknya. Pendapatan tak menentu, promosi terbatas, dan modal usaha sering kali menjadi hambatan terbesar.
Namun beberapa tahun terakhir, keadaan mulai berubah. Perempuan yang menjual kopi dan aneka camilan khas Sulawesi itu kini tidak lagi hanya melayani pelanggan pasar. Produknya sudah dikirim hingga ke Kalimantan dan Jawa melalui penjualan daring.
“Dulu saya hanya tunggu pembeli datang. Sekarang orang pesan lewat HP, transfer langsung, barang tinggal dikirim,” ujarnya sambil tersenyum.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perubahan itu tidak datang begitu saja. Nurhayati mengaku mulai berkembang setelah mendapatkan akses pembiayaan usaha serta pendampingan digitalisasi dari BNI. Dari awalnya hanya menggunakan transaksi tunai, kini seluruh pembayaran di kiosnya sudah menggunakan QRIS dan mobile banking.
Transformasi serupa juga dirasakan banyak pelaku UMKM lainnya. Di tengah perubahan pola belanja masyarakat yang semakin digital, pelaku usaha kecil dipaksa beradaptasi agar tidak tertinggal. Bagi sebagian UMKM, tantangan terbesar bukan hanya soal modal, tetapi juga kemampuan mengikuti perkembangan teknologi.
BNI melihat kondisi itu sebagai peluang sekaligus tanggung jawab dalam mendorong kemandirian ekonomi rakyat. Tidak hanya menghadirkan pembiayaan usaha, bank milik negara tersebut juga memperluas literasi keuangan dan digital bagi pelaku UMKM agar mampu naik kelas.
Pemimpin Wilayah BNI 07 Makassar Agus Santoso menyebut UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional karena menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjadi penopang ekonomi masyarakat bawah. Karena itu, penguatan sektor UMKM dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil.
Digitalisasi menjadi salah satu fokus utama. Kini, banyak pedagang pasar tradisional mulai mengenal transaksi non-tunai, pencatatan keuangan digital, hingga pemasaran melalui media sosial dan marketplace.
“Kalau dulu hanya mengandalkan pembeli sekitar pasar, sekarang pelaku UMKM bisa menjangkau pasar yang jauh lebih luas,” katanya.
Perubahan perilaku konsumen pascapandemi juga mempercepat proses tersebut. Masyarakat semakin terbiasa bertransaksi secara digital, mulai dari pembayaran hingga belanja kebutuhan sehari-hari. Kondisi itu membuat UMKM yang cepat beradaptasi memiliki peluang berkembang lebih besar.
Di Kabupaten Gowa, seorang pengrajin tas lokal bernama Ridwan bahkan berhasil meningkatkan omzet usahanya hingga dua kali lipat setelah memasarkan produknya secara daring. Ia mengaku sebelumnya tidak memahami cara menjual produk melalui internet.
“Awalnya saya pikir marketplace itu sulit. Ternyata kalau sudah diajari, justru pembelinya lebih banyak,” ungkapnya.
Kini, usahanya mempekerjakan belasan warga sekitar. Baginya, perkembangan usaha bukan lagi sekadar soal keuntungan pribadi, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di lingkungannya.
Fenomena itu menunjukkan bahwa transformasi UMKM bukan hanya berdampak pada satu pelaku usaha, melainkan menciptakan efek berantai bagi ekonomi rakyat. Ketika usaha kecil tumbuh, daya beli masyarakat ikut bergerak, lapangan kerja tercipta, dan ekonomi daerah menjadi lebih hidup.
Di tengah tantangan ekonomi global, penguatan sektor UMKM dinilai menjadi salah satu fondasi penting menjaga ketahanan ekonomi nasional. Indonesia mungkin memiliki perusahaan-perusahaan besar, tetapi denyut ekonomi sesungguhnya tetap berada di pasar tradisional, kios kecil, dan usaha rumahan yang tersebar di seluruh pelosok negeri.
Dari warung sederhana hingga masuk marketplace, perjalanan UMKM Indonesia hari ini bukan hanya cerita tentang teknologi. Ini adalah cerita tentang keberanian beradaptasi, tentang masyarakat kecil yang perlahan naik kelas, dan tentang harapan bahwa ekonomi rakyat bisa tumbuh lebih mandiri di masa depan. (*)





















