MAKASSAR ,FILALIN.COM, — Baru delapan hari menjabat, Kapolsek Ujung Pandang Kompol Muh. Yusuf S.Sos., M.M langsung membuat gebrakan. Ia mendatangi Sekretariat Kampoeng Seni KPJ Makassar di Jalan Hasanuddin, Rabu (22/4/2026), dalam kunjungan yang tak biasa: sosialisasi sekaligus silaturahmi dengan para seniman jalanan.
Kunjungan ini terbilang mendadak namun penuh makna. Rombongan Kapolsek hadir setelah berkoordinasi melalui Bhabinkamtibmas Kelurahan Maloku, Aiptu H.P. Nonci, dan langsung disambut hangat oleh pengurus serta anggota KPJ Makassar.
Suasana santai langsung terasa. Di tengah sajian sederhana dan kopi aren, Kompol Yusuf memperkenalkan diri sebagai pejabat baru yang kini memimpin wilayah Kecamatan Ujung Pandang. Namun, bukan sekadar perkenalan—ia juga membawa pesan tegas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jaga kamtibmas dan kebersihan wilayah. Saya harap KPJ bisa ikut ambil peran,” ujarnya.
Tak hanya itu, Kapolsek juga memberikan ide yang cukup mengejutkan: mendorong KPJ Makassar untuk menciptakan lagu yang merepresentasikan kebanggaan terhadap Polri. Usulan ini langsung memantik diskusi hangat di antara para anggota.
Pertemuan yang berlangsung hampir tiga jam ini dipenuhi obrolan serius hingga canda tawa. Kapolsek bahkan menggali lebih dalam tentang aktivitas KPJ, mulai dari jumlah anggota hingga lokasi mereka “ngamen”.
Plt Ketua KPJ Makassar, Iwan Rengga, tak menyembunyikan rasa harunya. Ia mengaku jarang ada pejabat yang mau turun langsung dan duduk bersama para pengamen.
“Ini luar biasa. Jarang ada pejabat yang datang langsung seperti ini. Terima kasih banyak pak Kapolsek,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini anggota KPJ Makassar hampir mencapai 200 orang di tahun 2026. Namun, tidak semua pengamen di Makassar tergabung dalam komunitas tersebut.
“Ini jadi PR kami untuk merangkul teman-teman di jalanan. Kami ingin memberi edukasi, bukan hanya soal musik, tapi juga attitude,” tegasnya.
Menariknya, KPJ Makassar bukan sekadar komunitas pengamen. Di dalamnya terdapat berbagai latar belakang profesi, mulai dari atlet, karyawan, hingga mahasiswa dan jurnalis. Mereka disatukan dalam satu visi: persaudaraan dan kemanusiaan.
Di akhir pertemuan, suasana semakin hangat dengan sesi foto bersama. Meski malam semakin larut, harapan besar terucap—agar pertemuan seperti ini terus berlanjut.
Sebuah kunjungan sederhana, namun membawa pesan besar: jalanan bukan sekadar tempat mencari nafkah, tapi juga ruang kolaborasi untuk menciptakan keamanan, kreativitas, dan kebersamaan. (*)





















