MAKASSAR,FILALIN.COM, – Penguatan akses pasar internasional bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu capaian utama Sulawesi Investment and Business Forum (SIBF) 2026. Melalui kemitraan dengan pembeli dari berbagai negara, pelaku usaha kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) membukukan komitmen ekspor senilai Rp450 miliar.
Komitmen tersebut merupakan hasil pembinaan dan fasilitasi perdagangan yang melibatkan 31 UMKM dengan 44 pembeli (*buyer*) dari 20 negara. Selain membuka peluang ekspor, sebanyak tujuh UMKM juga memperoleh akses pemasaran melalui jaringan ritel modern.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Capaian ini menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing produk lokal sekaligus memperluas keterlibatan UMKM dalam rantai perdagangan nasional dan global.
SIBF 2026 berlangsung pada 28–29 Oktober 2026 di Hotel Claro Makassar. Forum yang diinisiasi Bank Indonesia bersama pemerintah daerah tersebut mempertemukan pemilik proyek, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, investor, serta mitra dagang domestik dan internasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan penguatan investasi perlu berjalan beriringan dengan perluasan pasar ekspor agar mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Perkembangan ini menunjukkan pentingnya menjaga momentum investasi sekaligus memperluas akses pasar ekspor untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi Sulawesi yang lebih tinggi dan berkelanjutan,” kata Rizki.
Menurutnya, perekonomian Sulawesi tumbuh 4,36 persen pada triwulan II 2026. Pada periode yang sama, pertumbuhan investasi meningkat dari 6,7 persen menjadi 8,1 persen. Namun, pertumbuhan ekspor melambat dari 8,3 persen menjadi 2,3 persen.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya memperkuat promosi perdagangan, mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli potensial, serta mendorong investasi yang mampu meningkatkan nilai tambah produk daerah.
### 43 Proyek Investasi Masuk Agenda Promosi
Selain membuka akses pasar bagi UMKM, SIBF 2026 turut mempromosikan 43 proyek potensial yang mewakili seluruh provinsi di Sulawesi.
Forum ini melibatkan sekitar 350 peserta dari unsur pemerintah pusat dan daerah, lembaga investasi dan pembiayaan, pemilik proyek, UMKM, investor, serta mitra dagang dalam dan luar negeri.
Sebanyak 98 pertemuan bisnis satu lawan satu dijadwalkan berlangsung dengan melibatkan lebih dari 30 calon investor. Pertemuan tersebut diharapkan membuka peluang kerja sama konkret dan mempercepat realisasi proyek yang ditawarkan.
Rizki menegaskan, keberhasilan forum investasi tidak cukup diukur dari banyaknya proyek yang dipromosikan. Hal yang lebih penting ialah tindak lanjut berupa komitmen dan realisasi investasi.
“SIBF bukan menjadi akhir dari proses promosi, melainkan langkah awal menuju realisasi yang memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian Sulawesi,” ujarnya.
Sebagai pembanding, penyelenggaraan forum pada tahun sebelumnya menghasilkan 24 komitmen investasi dengan potensi nilai Rp8,55 triliun serta komitmen ekspor senilai Rp228 miliar.
Salah satu proyek yang sebelumnya dipromosikan, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo 2 di Kabupaten Jeneponto, kini telah memasuki proses tender dengan PT PLN (Persero).
### Hilirisasi Jadi Kunci Peningkatan Nilai Tambah
Staf Ahli Gubernur Sulawesi Selatan Bidang Ekonomi Pembangunan dan Keuangan, Since Erna Lamba, menekankan pentingnya hilirisasi untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas unggulan daerah.
Menurutnya, Sulawesi Selatan memiliki potensi besar di sektor perikanan, rumput laut, perkebunan, dan berbagai komoditas lainnya. Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui pengolahan yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah, bukan hanya dipasarkan sebagai bahan mentah.
“Sulawesi Selatan bukan sekadar penonton, melainkan pemain kunci,” kata Since.
Ia menyebutkan, produksi perikanan tangkap Sulawesi Selatan mencapai 512.484 ton, dengan potensi sekitar 1,1 juta ton. Daerah ini juga menjadi produsen rumput laut terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai 4,01 juta ton.
Di sektor perkebunan, Sulawesi Selatan tercatat sebagai salah satu produsen kakao nasional dengan produksi sekitar 79,74 ribu ton. Sementara itu, produksi kelapa sawit pada 2025 mencapai sekitar 105,9 ribu ton.
Potensi tersebut dinilai perlu didukung penguatan kapasitas produksi, standardisasi mutu, kesinambungan pasokan, serta akses pembiayaan dan pasar.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga mengalokasikan anggaran Rp3,7 triliun untuk program pembangunan multiyears periode 2025–2027, termasuk penanganan sekitar 1.000 kilometer jalan guna mendukung konektivitas wilayah.
Melalui SIBF 2026, kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, lembaga pembiayaan, investor, dan pelaku usaha diharapkan dapat memperluas pasar produk lokal sekaligus mempercepat investasi produktif. (*)


















