JAKARTA,FILALIN.COM, — Kolaborasi ABG (_Academia – Bussiness – Government_) yang digagas oleh Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. merupakan sebuah lompatan paradigma dalam pembangunan sektor Obat dan Makanan. Melalui kolaborasi ini, BPOM tidak lagi hanya menjalankan fungsi sebagai regulator, tetapi juga hadir sebagai _strategic enabler_ yang menjembatani dunia akademik dan dunia usaha dalam percepatan hilirisasi hasil riset.
Pendekatan ini mampu memperkuat industrialisasi berbasis inovasi, meningkatkan daya saing produk nasional, memperluas kesempatan kerja, serta memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi 8% sebagaimana ditargetkan Presiden RI Prabowo Subianto
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Komitmen BBPOM di Makassar dalam mengimplementasikan arahan Kepala BPOM diwujudkan dengan telah dibentuknya Tim Percepatan Hilirisasi Riset Universitas Hasanuddin (Unhas) – BBPOM di Makassar, di mana Tim bekerja secara intensif mendampingi para peneliti mulai dari konsultasi regulatori, evaluasi sarana produksi, penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), penyusunan dokumen registrasi, hingga proses penerbitan izin edar BPOM.
Pendampingan tersebut bertujuan memastikan bahwa setiap inovasi yang lahir dari laboratorium memiliki kesiapan untuk diproduksi dalam skala industri tanpa mengurangi aspek keamanan, mutu, dan manfaat. Selain itu, implementasi kolaborasi ABG juga diwujudkan melalui Program SAPA Kampus Berdampak dari Direktorat PMPU Pangan Olahan BPOM, dimana mahasiswa Unhas dilatih menjadi fasilitator pendamping UMKM yang kompeten.
“Program SAPA Kampus Berdampak tidak hanya menjawab tantangan keterbatasan SDM di BPOM, namun juga membantu UMKM dalam percepatan proses perizinan, sekaligus menjadi media pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk membangun jiwa kewirausahaan (_entrepreneurship_), sehingga mampu menjadi pencipta lapangan kerja dan pelaku industri berbasis inovasi di masa depan,” ujar Yosef.
Implementasi kebijakan kolaborasi ABG BBPOM di Makassar dan Unhas berbuah manis dengan diterbitkan 15 Nomor Izin Edar BPOM untuk berbagai produk pangan olahan, antara lain minyak kelapa, VCO, gula aren, brownies, produk berbasis rumput laut, roti, bawang goreng, sambal, serta berbagai produk inovatif lainnya serta 8 Sertifikat Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (IP-CPPOB), yang selanjutnya akan diproses menuju penerbitan Nomor Izin Edar (NIE) BPOM.
Pada tanggal 11 Juli 2026, Sertfikat NIE diserahkan langsung oleh Kepala BPOM RI kepada Rektor Unhas dan para pelaku usaha saat Kegiatan Akselerasi Kolaborasi ABG Badan POM dan Universitas Hasanuddin dengan mengusung tema “Wujudkan Kemandirian Sediaan Farmasi dan Pangan Olahan yang Berdaya Saing Melalui Hilirisasi Hasil Riset”. Kegiatan dihadiri oleh Kepala BPOM RI, Rektor Unhas, Sekretaris Utama BPOM, Staf Khusus BPOM, Pejabat Tinggi Pratama BPOM, Wakil Rektor 1, Wakil Rektor 4, Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual, para Guru Besar inventor produk dan Kepala BBPOM di Makassar.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., dalam sambutannya menyampaikan bahwa keberhasilan memperoleh izin edar BPOM merupakan tonggak penting dalam perjalanan hilirisasi inovasi di lingkungan Unhas. Selama ini, tantangan selanjutnya setelah kampus menghasilkan penelitian unggul adalah memastikan inovasi memenuhi syarat regulasi atau mendapatkan izin edar BPOM agar dapat diproduksi dan digunakan oleh masyarakat.
“Kita patut berbangga karena salah satu persoalan utama selama ini adalah izin edar. Produk obat maupun pangan hasil riset sering kali berhenti pada tahap penelitian. Hari ini kita membuktikan bahwa inovasi kampus dapat memperoleh legalitas. Tahun ini kami menargetkan sekitar 200 produk inovasi lainnya menyusul memperoleh izin edar,” tegas Prof. Jamaluddin Jompa.
“Riset tidak lagi cukup diukur dari jumlah publikasi ilmiah atau paten yang dihasilkan, jauh lebih penting adalah bagaimana inovasi tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, yaitu dengan mendapatkan aspek legalitas berupa izin edar BPOM,” ujar beliau.
“Selamat kepada para inventor yang telah mendapatkan izin edar, karena ini merupakan syarat mutlak produk dapat beredar, dan memenuhi standar mutu dan keamanan sesuai regulasi,” lanjutnya.
“Terima kasih banyak Prof. Taruna Ikrar, konsep ABG (_Academia – Business – Government_) yang terus didorong BPOM telah memberikan arah baru bagi pengembangan inovasi di perguruan tinggi,” pungkas Prof. Jamaluddin Jompa menutup sambutannya.
Dalam sambutannya Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menegaskan bahwa BPOM tidak hanya berfungsi sebagai lembaga regulator, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional. Proses pemberian izin edar merupakan bagian dari upaya membangun industri berbasis riset yang mampu bersaing di tingkat global.
“BPOM tidak sekadar memberikan stempel, kami ingin memastikan produk hilirisasi riset memenuhi aspek mutu dan keamanan, dapat berkembang, dipasarkan secara nasional, bahkan memiliki peluang untuk diekspor ke pasar global,” jelas Prof. Taruna Ikrar.
Percepatan hilirisasi, menurut Kepala BPOM RI, hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan masyarakat.
“Hasil riset atau penelitian di perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai publikasi ilmiah ataupun prototipe laboratorium saja, namun harus mampu ditransformasikan menjadi produk skala produksi yang sesuai standar, memiliki legalitas, diterima masyarakat, dan mampu memberikan manfaat ekonomi maupun kesehatan secara berkelanjutan,” lanjut Prof. Taruna Ikrar.
“BPOM tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga menjadi akselerator inovasi nasional. Produk-produk hasil penelitian anak bangsa harus mendapatkan pendampingan regulatori agar memenuhi aspek keamanan, khasiat, dan mutu sehingga mampu bersaing di pasar nasional maupun global,” ungkap Taruna Ikrar.
“Penerbitan 15 izin edar produk inovasi para peneliti Unhas hari ini, menjadi bukti bahwa sinergi antara regulator, perguruan tinggi, dan dunia usaha mampu mempercepat hilirisasi riset sekaligus memperkuat kemandirian sediaan farmasi dan pangan di Indonesia” ujar Kepala BPOM RI.
“Ke depan, BPOM berkomitmen terus memperluas kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menciptakan ekosistem inovasi yang kuat. Langkah tersebut sejalan dengan visi pembangunan nasional dan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat riset, inovasi, hilirisasi teknologi, serta meningkatkan daya saing industri nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi,” pungkas Kepala BPOM RI menutup sambutannya
Kepala BBPOM di Makassar, Yosef Dwi Irwan menyampaikan terima kasih kepada Kepala BPOM RI atas kepemimpinan dan kebijakan visioner dalam membangun ekosistem kolaborasi ABG. Yosef juga mengapresiasi dukungan Rektor Unhas sehingga proses aselerasi hilirasi di Unhas berjalan dengan luar biasa.
“Kami siap mendukung dan mengawal implementasi kebijakan tersebut secara berkelanjutan, hingga semangat hilirisasi riset tidak hanya berkembang di Universitas Hasanuddin, tetapi juga menjadi gerakan nasional yang melibatkan seluruh perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan kemandirian sediaan farmasi dan pangan olahan untuk Indonesia Emas 2045,” pungkas Yosef.
Keberhasilan hari ini bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari lahirnya ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Bukan sekadar seremoni penyerahan izin edar BPOM, tetapi merupakan momentum penting dalam membangun ekosistem inovasi nasional yang mampu mentransformasikan hasil riset menjadi produk yang aman, bermutu, legal, dan berdaya saing. (*)




















