Tak Lagi Berangkat ke Pelabuhan Dini Hari, Digitalisasi Tiket Ferry Ubah Perjalanan Warga Selayar

- Penulis

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:18 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SELAYAR,FILALIN.COM, – Mentari pagi baru saja naik di ufuk timur Dusun Tambera, Desa Polebungin, Kecamatan Bontomanai, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Senin (10/10/2026), Salim bersama keluarganya bersiap kembali ke Makassar setelah sepekan menghabiskan waktu di kampung halaman.

Barang-barang dimasukkan ke mobil satu per satu. Tidak tampak ketergesaan ketika Salim mempersiapkan perjalanan pulang. Baginya, perjalanan menyeberang menuju daratan Sulawesi kini terasa lebih mudah sejak layanan digitalisasi tiket ferry diterapkan di Pelabuhan Pamatata, Selayar, dan Pelabuhan Bira, Bulukumba.

Pengalaman itu berbeda dengan masa ketika perjalanan menuju pelabuhan harus direncanakan dengan mempertimbangkan antrean dan urusan tiket. Salim mengingat, dirinya pernah harus berangkat ke pelabuhan sekitar pukul 02.00 dini hari hanya untuk mengurus kendaraan yang akan naik kapal ferry.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika terlambat, ia berisiko menunggu jadwal penyeberangan berikutnya. Waktu dan tenaga pun terkuras sebelum perjalanan sebenarnya dimulai.

“Dulu sebelum ada digitalisasi ini, sangat repot karena harus cepat-cepat ke Pelabuhan Pamatata untuk beli tiket atau melapor serta mengurus kendaraan. Sekarang bisa pakai aplikasi dari ASDP,” ujar Salim, Senin (10/10/2026).

Bagi Salim, perubahan tersebut bukan sekadar soal teknologi pembayaran. Ada waktu yang bisa dihemat, perjalanan yang dapat dipersiapkan dengan lebih tenang, serta urusan penyeberangan yang tidak lagi terasa serumit sebelumnya.

Ketika Urusan Tiket Menjadi Beban Perjalanan

Bagi warga Kepulauan Selayar yang bepergian ke Makassar maupun sebaliknya, penyeberangan merupakan bagian penting dari perjalanan. Karena itu, kemudahan dalam mengakses layanan tiket turut memengaruhi pengalaman pengguna jasa.

Salim merasakan sendiri bagaimana urusan tiket dan antrean kendaraan pernah menjadi persoalan yang merepotkan. Ia mengaku harus datang ke pelabuhan pada dini hari untuk mendaftarkan mobil yang akan menyeberang.

Kondisi itu membuat perjalanan membutuhkan persiapan ekstra. Datang terlalu lambat berisiko kehilangan jadwal, sementara datang lebih awal berarti harus mengalokasikan waktu lebih panjang sebelum kapal berangkat.

Pengalaman tersebut bahkan sempat mengurangi keinginannya untuk pulang ke Selayar. Bukan karena kampung halaman kehilangan daya tarik, melainkan karena proses perjalanan yang harus dihadapi terasa melelahkan.

Kini, dengan tersedianya layanan digitalisasi tiket, Salim merasakan kemudahan dalam menyiapkan perjalanan. Ia juga menilai sistem antrean kendaraan secara real-time bermanfaat bagi pengguna jasa karena memberikan informasi mengenai kondisi antrean.

Perubahan itu memperlihatkan bagaimana pembaruan layanan transportasi dapat menyentuh kebutuhan yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat: mengurangi kerumitan sebelum perjalanan dimulai.

ASDP Perluas Pembayaran Nontunai

Kemudahan yang dirasakan Salim sejalan dengan langkah PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memperluas digitalisasi pembayaran tiket penyeberangan.

Corporate Secretary ASDP Shelvy Arifin mengatakan, penerapan pembayaran nontunai di Pelabuhan Bira dan Pamatata menambah jumlah pelabuhan yang telah menjalankan sistem tersebut menjadi 12 pelabuhan, atau sekitar 71 persen dari target 17 pelabuhan pada 2026.

Melalui layanan itu, pengguna jasa dapat melakukan pembayaran menggunakan virtual account, kartu uang elektronik, dan dompet elektronik.

“Alhamdulillah, kini pengguna jasa ferry di Bira dan Pamatata dapat memanfaatkan channel pembayaran non-tunai, baik melalui virtual account, kartu prepaid, maupun layanan dompet elektronik. Kami melihat masyarakat semakin teredukasi dan antusiasme terus meningkat,” tutur Shelvy.

Menurut dia, masyarakat mulai terbiasa membeli tiket ferry dan melakukan pembayaran menggunakan kartu elektronik karena prosesnya dinilai sederhana, mudah, dan cepat.

ASDP terus mendorong penerapan digitalisasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman pengguna jasa. Perusahaan juga melihat masyarakat semakin mampu beradaptasi dengan perubahan cara bertransaksi dalam beberapa tahun terakhir.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar Rizal Agustiar mengakui jika perubahan sistem digitalisasi tersebut tidak hanya membantu masyarakat selayar tapi juga berdampak pada peningkatan pendapatan pada ASDP sendiri.

“Sistem ini mencegah terjadinya kebocoran ataupun adanya pungli,sistem ini sangat melindungi masyarakat dari pungli,” ujarnya Rabu (14/10/2026).

Bagi pengguna jasa seperti Salim, manfaat digitalisasi tidak hanya terletak pada pilihan metode pembayaran. Kemudahan mengurus perjalanan dan informasi antrean kendaraan juga menjadi bagian penting dari pengalaman baru tersebut.

Dari Bira hingga Pamatata, Layanan Digital Makin Luas

Penerapan pembayaran nontunai di Bira dan Pamatata merupakan bagian dari program ASDP untuk memperluas transaksi digital di pelabuhan penyeberangan.

Selain kedua pelabuhan di Sulawesi Selatan tersebut, layanan serupa telah diterapkan di Pelabuhan Jepara dan Karimun Jawa, Pelabuhan Batulicin dan Tanjung Serdang, Pelabuhan Bajoe dan Kolaka, serta Pelabuhan Sape dan Labuan Bajo.

Secara keseluruhan, ASDP mencatat penerapan pembayaran nontunai telah menjangkau 12 pelabuhan dari target 17 pelabuhan pada tahun ini. Perusahaan juga merencanakan perluasan ke sejumlah pelabuhan lain, termasuk Tanjung Kalian di Bangka, beberapa pelabuhan di wilayah Ambon, Pagimana di Luwuk, serta Mamuju.

Perluasan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran tidak hanya diarahkan pada satu lintasan penyeberangan. ASDP berupaya menerapkan sistem serupa di berbagai wilayah untuk membuat proses transaksi lebih praktis dan tertib.

Di Bira dan Pamatata, perubahan itu memiliki arti tersendiri bagi warga yang menggunakan penyeberangan untuk bepergian antara Selayar dan daratan Sulawesi.

Beragam Pilihan Pembayaran

Untuk mendukung transaksi nontunai, ASDP menyediakan beberapa pilihan pembayaran yang dapat digunakan masyarakat.

Pengguna jasa dapat memanfaatkan payment link melalui virtual account dari sejumlah bank, kartu uang elektronik dari BRI, Mandiri, BNI, dan BCA, serta dompet elektronik seperti OVO, ShopeePay, LinkAja, dan DANA.

Untuk pembayaran melalui virtual account, pengguna jasa menyampaikan bank pilihannya kepada petugas loket. Setelah menerima kode pembayaran, transaksi dapat diselesaikan melalui mobile banking, internet banking, atau ATM sesuai layanan yang tersedia.

Sementara itu, pengguna dompet elektronik perlu memastikan saldo mencukupi. Pengguna kemudian menerima kode QR dari petugas, memindainya, dan menyelesaikan pembayaran melalui aplikasi dompet digital.

Dalam proses transaksi, pengguna jasa tetap perlu membawa identitas diri dan mengisi data manifest penyeberangan saat membeli tiket. Kelengkapan data tersebut berkaitan dengan administrasi perjalanan serta jaminan asuransi.

ASDP menilai sistem nontunai juga membantu membuat transaksi di tollgate lebih ringkas. Pembayaran digital mengurangi kebutuhan untuk bertransaksi menggunakan uang tunai dan dapat meminimalkan kontak langsung dengan petugas loket.

Lebih Praktis, Tetap Perlu Persiapan

Meski proses pembayaran semakin mudah, pengguna jasa tetap perlu mempersiapkan perjalanan dengan baik.

Identitas diri harus dibawa, data manifest perlu diisi sesuai ketentuan, dan saldo pada rekening atau dompet elektronik harus mencukupi apabila memilih metode pembayaran nontunai.

Persiapan tersebut membantu menghindari kendala ketika melakukan transaksi. Digitalisasi mempermudah proses pembayaran, tetapi kelengkapan persyaratan dan kesiapan pengguna tetap diperlukan agar perjalanan berjalan lancar.

Bagi ASDP, penerapan sistem digital merupakan bagian dari upaya meningkatkan pengalaman pengguna jasa. Sementara bagi masyarakat, manfaatnya terasa ketika urusan yang sebelumnya menyita waktu dapat dilakukan dengan lebih praktis.

Pengalaman Salim menggambarkan perubahan itu dalam bentuk yang sederhana. Ia tidak lagi menghadapi persiapan perjalanan dengan kecemasan yang sama seperti ketika harus mendatangi pelabuhan pada dini hari untuk mengurus kendaraan.

Teknologi yang Terasa dalam Perjalanan Sehari-hari

Digitalisasi layanan publik sering kali dibicarakan melalui istilah transformasi teknologi dan efisiensi. Namun, bagi pengguna jasa penyeberangan, manfaatnya justru terasa melalui pengalaman sehari-hari.

Waktu yang sebelumnya digunakan untuk mengurus tiket dan menghadapi antrean kini dapat dikelola dengan lebih baik. Pilihan pembayaran juga semakin beragam, sementara informasi antrean kendaraan secara real-time membantu pengguna mempersiapkan perjalanan.

Di Selayar, kemudahan itu menjadi bagian dari pengalaman warga yang harus menyeberang untuk berbagai keperluan. Perjalanan pulang ke kampung halaman maupun kembali ke Makassar tidak lagi hanya berkaitan dengan jadwal kapal, tetapi juga dengan bagaimana proses sebelum keberangkatan dapat dibuat lebih sederhana.

Bagi Salim, pagi di Dusun Tambera kali ini menjadi awal perjalanan pulang yang terasa lebih tenang. Setelah sepekan berlibur bersama keluarga, ia dapat bersiap tanpa ketergesaan seperti yang pernah dialaminya.

Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana: membeli tiket dengan lebih praktis dan tidak harus berangkat terlalu dini hanya untuk mengurus kendaraan. Namun, di balik kemudahan itu, ada upaya memperbaiki layanan agar lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Digitalisasi tiket ferry di Pelabuhan Bira dan Pamatata pada akhirnya bukan semata perpindahan dari transaksi konvensional ke pembayaran elektronik. Bagi pengguna seperti Salim, keberhasilannya terasa ketika teknologi membuat perjalanan lebih mudah dipersiapkan, waktu lebih efisien, dan urusan menuju kampung halaman tidak lagi menjadi beban tersendiri. (*)

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pertumbuhan Penjualan Meroket, Kalla Toyota Gelar Pameran Otomotif Terbesar di Indonesia Timur  
OJK DORONG GENERASI MUDA PAHAMI PELUANG DAN RISIKO TOKENISASI ASET NYATA
BI Perkuat Layanan Rupiah, Dorong Ekonomi Lokal, dan Lestarikan Budaya melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat Sulawesi Selatan 2026
TMMD KE-130 TAHUN 2026 RESMI DIBUKA DI GOWA, SINERGI TNI DAN MASYARAKAT PERCEPAT PEMBANGUNAN DESA
Pelindo Kembali Layani Ship-to-Ship di Nipa, Perkuat Peran Indonesia di Jalur Pelayaran Internasional
IB FAIR KE-11 UIN ALAUDDIN MAKASSAR ANGKAT TANTANGAN EKONOMI SYARIAH DI ERA AI, AKADEMISI DAN PRAKTISI BERTEMU DALAM SEMINAR NASIONAL
LBH Makassar Pertanyakan Verifikasi Tanah dalam Penerbitan HPL Petani Laoli
Rektor UIT Tandatangani Kontrak Hibah DPPM Batch 2, Dorong Riset Berkelanjutan
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:18 WITA

Tak Lagi Berangkat ke Pelabuhan Dini Hari, Digitalisasi Tiket Ferry Ubah Perjalanan Warga Selayar

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:33 WITA

Pertumbuhan Penjualan Meroket, Kalla Toyota Gelar Pameran Otomotif Terbesar di Indonesia Timur  

Selasa, 13 Oktober 2026 - 21:10 WITA

OJK DORONG GENERASI MUDA PAHAMI PELUANG DAN RISIKO TOKENISASI ASET NYATA

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:24 WITA

BI Perkuat Layanan Rupiah, Dorong Ekonomi Lokal, dan Lestarikan Budaya melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat Sulawesi Selatan 2026

Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:10 WITA

TMMD KE-130 TAHUN 2026 RESMI DIBUKA DI GOWA, SINERGI TNI DAN MASYARAKAT PERCEPAT PEMBANGUNAN DESA

Berita Terbaru