MAROS, FILALIN.COM — Sisa makanan yang berpotensi terbuang kini dimanfaatkan menjadi bagian dari upaya mengembangkan usaha peternakan di Desa Baji Mangngai, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Melalui Agrokompleks Hasanuddin, masyarakat mengembangkan budidaya bebek petelur dengan memanfaatkan limbah makanan sebagai pakan alternatif. Hasil peternakan kemudian diolah menjadi telur asin bermerek Laleng Kassi’e untuk meningkatkan nilai jual produk.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Program yang didukung PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi ini menghadirkan pendekatan pemberdayaan yang menghubungkan pengelolaan lingkungan dengan peluang ekonomi masyarakat.
Bagi kelompok peternak binaan, pengembangan produk olahan menjadi salah satu langkah untuk memperluas usaha. Mereka tidak hanya mengandalkan penjualan hasil peternakan, tetapi juga mengembangkan produk yang memiliki peluang dipasarkan dalam bentuk siap konsumsi.
Telur asin Laleng Kassi’e dikemas dalam kotak berisi 10 butir. Pengemasan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Tim CSR dan SMEPP PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Yoga Pratama, mengatakan program pemberdayaan tidak semestinya berhenti pada pemberian bantuan, tetapi perlu mendorong masyarakat mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Program TJSL tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan, tetapi juga mendorong masyarakat mengembangkan potensi yang dimiliki agar mampu membangun kemandirian ekonomi dan menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” ujar Yoga dalam pemaparan program TJSL, Kamis (22/10/2026).
Di Agrokompleks Hasanuddin, pendekatan tersebut diterapkan dengan mengintegrasikan peternakan dan pemanfaatan limbah organik. Sisa makanan yang masih dapat dimanfaatkan diolah menjadi pakan alternatif, sementara hasil ternak dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Model ini memperlihatkan bagaimana persoalan lingkungan dapat dihubungkan dengan aktivitas ekonomi produktif. Namun, keberlanjutan manfaatnya tetap bergantung pada kemampuan kelompok mengelola usaha, menjaga kualitas produk, dan menjangkau pasar.
Pemberdayaan Tak Hanya soal Peternakan
Upaya memperkuat kemandirian masyarakat juga dilakukan Pertamina Patra Niaga melalui program lain di sejumlah wilayah Sulawesi.
Di Kendari, Sulawesi Tenggara, program Mata Egg Farm mendorong pemberdayaan masyarakat melalui budidaya ayam petelur, pelatihan, dan pendampingan manajemen usaha.
Di Bitung, Sulawesi Utara, Pusat Ajar Disabilitas Unggul (PADU) membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan keterampilan, termasuk membatik dan merangkai manik-manik, sekaligus mendorong pemasaran hasil karya mereka.
Sementara di Parepare, Sulawesi Selatan, program Sehati Darling menggabungkan edukasi kesehatan keluarga, penguatan kader posyandu, pemantauan kesehatan lintas usia, dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Di Poso, Sulawesi Tengah, Integrated Jaya Farming menghubungkan sektor pertanian dan peternakan melalui pemanfaatan kotoran sapi menjadi pupuk organik serta pengolahan hijauan untuk kebutuhan pakan ternak.
Adapun di Makassar, Mangkasara Ekokreasi mengembangkan pemanfaatan sampah melalui budidaya maggot, produksi pupuk organik, dan pengolahan sampah anorganik menjadi produk bernilai ekonomi.
Di Gorontalo, program Pausantara berfokus pada konservasi hiu paus melalui pengembangan sarana pendukung dan edukasi masyarakat pesisir mengenai pentingnya menjaga ekosistem laut.
Beragam program tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat mengambil bentuk berbeda sesuai dengan kebutuhan wilayah, mulai dari penguatan usaha kecil hingga peningkatan akses keterampilan dan pelestarian lingkungan.
Yoga mengatakan setiap wilayah memiliki potensi dan tantangan yang berbeda sehingga program pemberdayaan perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program semacam ini bukan semata-mata jumlah kegiatan yang terlaksana, melainkan sejauh mana masyarakat mampu melanjutkan usaha, memperluas pasar, dan merasakan manfaatnya dalam jangka panjang.
Bagi kelompok peternak di Maros, pengolahan telur menjadi produk siap jual dan pemanfaatan limbah sebagai pakan alternatif menjadi bagian dari upaya menuju tujuan tersebut. (*)


















