BANDUNG FILALIN.COM, – Pemerataan akses keuangan menjadi salah satu perhatian utama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pelaksanaan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026. Program ini tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga kelompok yang selama ini membutuhkan perhatian khusus dalam memperoleh layanan keuangan formal.
Kelompok tersebut meliputi perempuan, pelajar, pemuda, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pekerja sektor informal, petani, nelayan, penyandang disabilitas hingga masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menegaskan bahwa perluasan akses keuangan harus memberikan manfaat nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya memiliki akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan, tetapi juga harus memahami cara memanfaatkannya secara tepat.
“Industri keuangan itu kuncinya cuma satu, kalau masyarakat percaya,” kata Dicky dalam acara puncak BIK dan Financial Expo 2026 di Trans Studio Mall Bandung, Kamis (29/10/2026).
Sebagai bentuk pemerataan akses tersebut, OJK Provinsi Jawa Barat melaksanakan sejumlah kegiatan yang menyasar kelompok masyarakat prioritas.
Salah satunya melalui peringatan Pekan Tuli Internasional pada 24 Oktober 2026 di Sentra Wyata Guna, Kota Bandung, dengan tema “Menuju Kesetaraan Melalui Inklusi Keuangan”.
Kegiatan tersebut menjangkau sekitar 400 peserta penyandang disabilitas. Rangkaian acaranya meliputi expo bazar yang menghadirkan 25 UMKM penyandang disabilitas, edukasi keuangan bagi penyandang disabilitas tuli, serta penyerahan tabungan Simpanan Pelajar (SimPel) dan buku literasi keuangan kepada 10 SLB di Kota Bandung.
OJK Jawa Barat juga menggelar edukasi keuangan bagi sekitar 2.000 santri Daarut Tauhiid pada 10 Oktober 2026. Kegiatan tersebut disertai pembukaan rekening SimPel untuk menanamkan budaya menabung dan kedisiplinan mengelola keuangan sejak dini.
Sementara di sektor usaha produktif, sebanyak 15 kegiatan edukasi keuangan dilaksanakan bagi sekitar 4.500 pelaku UMKM di wilayah Bogor, Bekasi, dan Purwakarta.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman mengatakan, kolaborasi antara OJK, pemerintah daerah, dan industri jasa keuangan menjadi faktor penting dalam memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat produktif.
“Melalui momentum FinExpo 2026 ini, kami berharap kolaborasi tersebut dapat terus diperkuat sehingga akses keuangan semakin luas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM, petani, peternak, dan berbagai sektor produktif lainnya,” kata Darwisman.
Secara nasional, rangkaian BIK 2026 telah menghasilkan 6.446 kegiatan literasi dan inklusi keuangan dengan jumlah peserta lebih dari 798 ribu orang.
Program tersebut juga mencatat pembukaan 27,23 juta rekening dan akun keuangan yang mencakup sektor perbankan, pasar modal, asuransi, perusahaan pembiayaan, pegadaian, dan fintech.
Melalui berbagai program tersebut, OJK ingin memastikan inklusi keuangan tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah rekening, tetapi juga dari semakin terbukanya kesempatan masyarakat untuk memperoleh pembiayaan, mengembangkan usaha, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
OJK bersama pemerintah daerah dan industri jasa keuangan berkomitmen terus memperkuat pemerataan akses keuangan sebagai bagian dari upaya mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045. (*)



















