MAKASSAR,FILALIN.COM, — Sebanyak 20 jamaah umrah asal Parepare yang sebelumnya dilaporkan terlantar di Arab Saudi, kini telah berada di bandara untuk proses pemulangan ke Makassar. Pemulangan dilakukan secara bertahap menyusul keterbatasan tiket pesawat dan situasi di lokasi.
Pemilik travel, Hj. Risma, akhirnya angkat bicara terkait polemik yang sempat viral di media sosial. Ia menjelaskan bahwa awalnya dirinya hanya membantu memberangkatkan jamaah milik rekannya, Haji Najib Basira, yang sebelumnya bekerja sama dengan travel lain.
“Awalnya saya hanya membantu memberangkatkan jamaah milik Pak Najib. Namun di tengah proses, terjadi persoalan antara beliau dan travel sebelumnya,” jelas Hj. Risma.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, permasalahan tersebut berkaitan dengan dana jamaah yang sebagian telah disetorkan ke pihak travel awal, dengan nilai mencapai sekitar Rp480 juta. Kondisi ini membuat proses pemberangkatan menjadi tidak ideal.
Risma mengaku hanya menerima sisa pelunasan dari total 44 jamaah, namun tetap berupaya memberangkatkan seluruhnya dengan asumsi biaya yang ada masih mencukupi.
Permasalahan mulai muncul ketika jamaah telah tiba di Arab Saudi. Ia menyebut adanya konflik di wilayah tersebut berdampak pada lonjakan harga kebutuhan secara signifikan.
“Biaya hotel, transportasi, hingga tiket pesawat naik hingga tiga kali lipat dari harga normal,” ujarnya.
Selain itu, ketersediaan kursi penerbangan untuk kepulangan juga sangat terbatas. Hal ini menyebabkan proses pemulangan jamaah harus dilakukan secara bertahap.
Meski demikian, Hj. Risma membantah tudingan bahwa jamaah ditelantarkan. Ia menegaskan seluruh jamaah tetap mendapatkan tempat tinggal yang layak selama berada di Arab Saudi.
“Jamaah tidak kami telantarkan. Mereka tetap berada di hotel dan biaya akomodasi masih kami tanggung,” tegasnya.
Ia juga mengakui sempat meminta tambahan biaya sebesar Rp5 juta per jamaah guna menutupi lonjakan biaya yang tidak terduga. Namun, permintaan tersebut justru menimbulkan kesalahpahaman di tengah jamaah dan masyarakat.
“Tujuan kami hanya untuk menutupi kekurangan biaya, bukan untuk mengambil keuntungan,” tambahnya.
Hingga saat ini, sebagian jamaah telah berhasil dipulangkan ke tanah air, sementara sisanya dijadwalkan kembali dalam beberapa hari ke depan.
Hj. Risma berharap masyarakat dapat memahami situasi yang terjadi, seraya menegaskan bahwa prioritas utamanya adalah memastikan seluruh jamaah dapat kembali ke Indonesia dengan selamat. (*)




















