MAKASSAR,FILALIN.COM, – Di tengah kondisi ekonomi yang masih dibayangi ketidakpastian global dan meningkatnya kehati-hatian masyarakat dalam membelanjakan uang, faktor nilai jual kembali kini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam membeli kendaraan. Dalam kondisi tersebut, mobil Toyota dinilai masih menjadi pilihan banyak konsumen karena mampu mempertahankan harga jualnya lebih baik dibanding sejumlah merek lain di pasar.
Pengamat Ekonomi Unhas ,Dr. Marzuki DEA mengatakan tingginya nilai jual kembali kendaraan Toyota tidak terlepas dari kuatnya kepercayaan pasar yang telah terbentuk selama puluhan tahun.
“Nilai jual kembali sebuah kendaraan sangat dipengaruhi oleh permintaan pasar. Toyota memiliki basis konsumen yang besar, jaringan layanan purnajual yang luas, serta ketersediaan suku cadang yang relatif mudah ditemukan. Faktor-faktor itu membuat konsumen merasa lebih aman ketika membeli maupun menjual kembali kendaraan mereka,” kata Yannes saat dihubungi, Selasa (2/6).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut dia, di tengah tekanan ekonomi, masyarakat cenderung memilih aset yang memiliki risiko depresiasi lebih rendah. Mobil dengan nilai jual kembali yang stabil dianggap dapat meminimalkan kerugian ketika pemilik memutuskan menjual kendaraan tersebut di kemudian hari.
Senada dengan itu, General Marketing Kalla Toyota menyebut salah satu faktor yang menjaga daya saing produk Toyota adalah komitmen perusahaan dalam menghadirkan layanan purnajual yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia.
“Konsumen tidak hanya membeli kendaraan, tetapi juga ekosistem layanan yang menyertainya. Kemudahan servis, ketersediaan suku cadang, dan jaringan dealer yang luas menjadi faktor penting yang turut mendukung nilai kendaraan tetap kompetitif di pasar,” ujarnya dalam beberapa kesempatan.
Di pasar mobil bekas, fenomena tersebut juga terlihat jelas. Pemilik showroom mobil bekas di Makassar, Hendra Wijaya, mengatakan unit Toyota masih menjadi salah satu kendaraan yang paling banyak dicari konsumen.
“Kalau Toyota, perputarannya relatif cepat. Pembeli sudah mengenal produknya, biaya perawatannya juga dianggap terjangkau. Itu sebabnya harga bekasnya cenderung lebih stabil dibanding beberapa merek lain,” kata Hendra.
Data pelaku usaha kendaraan bekas menunjukkan sejumlah model seperti Toyota Avanza, Toyota Innova Zenix, dan Toyota Fortuner masih memiliki permintaan tinggi di berbagai daerah. Tingginya minat pasar membuat penurunan harga kendaraan tersebut berlangsung lebih lambat dibanding rata-rata kendaraan pada segmennya.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance, Bhima Yudhistira, menilai masyarakat saat ini semakin rasional dalam mengambil keputusan pembelian barang bernilai besar.
“Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan, konsumen akan mempertimbangkan aspek efisiensi dan nilai jangka panjang. Kendaraan yang memiliki harga jual kembali baik tentu menjadi pilihan karena dianggap lebih aman dari sisi pengelolaan keuangan keluarga,” ujarnya.
Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa nilai jual kembali kendaraan juga dipengaruhi kondisi unit, riwayat perawatan, jarak tempuh, serta tren pasar. Karena itu, menjaga kondisi kendaraan tetap prima menjadi faktor penting agar nilai investasi kendaraan tetap terjaga.
Bagi banyak konsumen, membeli mobil kini bukan sekadar memenuhi kebutuhan mobilitas. Di tengah ketidakpastian ekonomi, kendaraan dengan nilai jual kembali yang kuat menjadi salah satu cara untuk menjaga nilai aset sekaligus memberikan rasa aman dalam perencanaan keuangan jangka panjang.(*)





















