BANTEN,FILALIN.COM, — Kesiapan operasional pelabuhan tidak hanya ditentukan oleh kapal yang datang dan pergi. Di balik kelancaran layanan, ada rangkaian detail yang harus terus diperiksa, mulai dari komunikasi antara kapal pandu dan kapal tunda, kondisi peralatan keselamatan, fasilitas personel, hingga penggunaan bahan bakar minyak (BBM).
Gambaran itu terlihat dalam Management Walkthrough (MWT) yang dilakukan Direktur Operasi dan Teknik PT Pelindo Jasa Maritim (PJM) di Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Panjang. Kunjungan lapangan tersebut tidak sekadar menjadi inspeksi rutin, tetapi juga menghasilkan sejumlah catatan yang membutuhkan tindak lanjut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Pelabuhan Banten, salah satu temuan berkaitan dengan monitor pada fasilitas planning yang mengalami kerusakan. Sementara di Pelabuhan Panjang, manajemen menyoroti kebutuhan fasilitas atau lokasi sandar khusus bagi kapal tunda.
Dua catatan tersebut menunjukkan bahwa keandalan layanan kepelabuhanan dibangun dari banyak unsur yang saling berkaitan. Ketika salah satu bagian terganggu, dampaknya dapat merembet pada proses monitoring, penempatan armada, hingga efektivitas pelayanan di lapangan.
PJM Banten dan Panjang Uji Kesiapan dari Lapangan
Management Walkthrough dilakukan sebagai bagian dari upaya PJM memastikan kegiatan operasional berjalan sesuai standar. Kegiatan tersebut berlangsung di Pelabuhan Banten pada 2 September dan dilanjutkan di Pelabuhan Panjang pada 3 September.
Dalam kunjungan itu, Direktur Operasi dan Teknik PJM meninjau langsung aktivitas dan fasilitas operasional. Kondisi lapangan menjadi dasar untuk memberikan arahan mengenai aspek keselamatan, kesiapan sarana, serta peningkatan kualitas pelayanan.
Pendekatan lapangan menjadi penting karena standar operasional tidak hanya berada dalam dokumen atau prosedur. Pelaksanaannya harus terlihat dalam kondisi fasilitas, kesiapan personel, kelayakan peralatan, serta koordinasi antarpihak yang terlibat dalam pelayanan kapal.
Karena itu, setiap temuan yang muncul dari MWT didorong untuk segera ditindaklanjuti. Manajemen ingin memastikan catatan di lapangan tidak berhenti sebagai laporan, tetapi berujung pada pembenahan konkret.
Komunikasi Kapal Jadi Titik Kritis Pelayanan
Salah satu perhatian utama dalam kunjungan tersebut adalah standardisasi komunikasi operasional antara kapal pandu, kapal tunda, dan unsur terkait lainnya.
Komunikasi yang efektif menjadi semakin penting ketika pelayanan melibatkan kapal asing. Keseragaman komunikasi dan kepatuhan terhadap prosedur dibutuhkan untuk mengurangi risiko miskomunikasi yang dapat mengganggu proses pelayanan.
Persoalan komunikasi dalam operasional pelabuhan bukan sekadar menyangkut kelancaran koordinasi. Ketidaksamaan pemahaman terhadap instruksi juga berpotensi memunculkan keluhan dari pengguna jasa.
Karena itu, penguatan standar komunikasi ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas layanan sekaligus mencegah potensi complaint. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan dan kepuasan pengguna jasa memiliki titik temu pada disiplin pelaksanaan prosedur.
Kondisi Kapal Tunda Tak Luput dari Pemeriksaan
Kapal tunda menjadi bagian penting dalam mendukung pelayanan kapal di kawasan pelabuhan. Karena itu, kondisi armada tersebut juga menjadi perhatian dalam Management Walkthrough PJM.
Manajemen menyoroti kebersihan kapal, kondisi fasilitas, serta kesiapan sarana pendukung. Seluruh unsur tersebut perlu dijaga secara konsisten agar kapal tunda dapat menjalankan fungsinya dengan baik ketika dibutuhkan dalam kegiatan operasional.
Kesiapan armada tidak berdiri sendiri. Kondisi kapal, peralatan pendukung, personel, serta koordinasi operasional harus berjalan beriringan untuk menciptakan layanan yang aman dan andal.
Selain kapal tunda, fasilitas ruang istirahat pandu juga menjadi perhatian. Kondisi fasilitas tersebut perlu dipastikan tetap baik karena berkaitan dengan dukungan terhadap kenyamanan dan kesiapan personel dalam menjalankan tugas pelayanan.
Tali Kapal dan Peralatan Keselamatan Harus Siap
Aspek keselamatan menjadi salah satu benang merah dalam peninjauan di kedua pelabuhan. Pemeriksaan terhadap tali kapal dan berbagai peralatan pendukung operasional perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan seluruh perlengkapan berada dalam kondisi siap.
Peralatan yang tampak sederhana dapat memiliki fungsi penting ketika aktivitas pelayanan berlangsung. Karena itu, pemeriksaan tidak cukup dilakukan ketika muncul persoalan, melainkan perlu menjadi bagian dari disiplin operasional yang berjalan secara konsisten.
PJM melalui MWT mendorong agar kesiapan tersebut menjadi kebiasaan di seluruh lini pelayanan. Tujuannya bukan hanya memenuhi standar, tetapi membangun budaya kerja yang menempatkan keselamatan sebagai bagian dari setiap aktivitas.
Dalam operasional pelabuhan, keselamatan juga berkaitan erat dengan keandalan layanan. Semakin siap peralatan dan personel, semakin kecil ruang bagi gangguan yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.
Pelabuhan Panjang Butuh Ruang Sandar Khusus Kapal Tunda
Di Pelabuhan Panjang, perhatian manajemen mengarah pada kebutuhan fasilitas atau lokasi sandar khusus bagi kapal tunda.
Ketersediaan lokasi tersebut diharapkan dapat mendukung efektivitas penempatan kapal tunda sekaligus menunjang kelancaran kegiatan operasional di kawasan pelabuhan. Catatan ini memperlihatkan bahwa pengelolaan armada tidak hanya berbicara mengenai kondisi kapal, tetapi juga bagaimana kapal tersebut ditempatkan agar siap ketika diperlukan.
Kebutuhan fasilitas sandar khusus menjadi salah satu bagian yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut. Penataan posisi kapal tunda yang efektif dapat mendukung kesiapan operasional sekaligus memperkuat pengelolaan fasilitas pelabuhan.
Dengan begitu, MWT di Pelabuhan Panjang tidak hanya menghasilkan evaluasi mengenai kondisi yang sudah ada, tetapi juga mencatat kebutuhan fasilitas yang dapat menunjang operasional ke depan.
Monitor Rusak di Banten Masuk Catatan Penting
Sementara itu, Pelabuhan Banten memiliki catatan berbeda. Monitor pada fasilitas planning ditemukan dalam kondisi rusak sehingga perlu segera ditindaklanjuti.
Fasilitas monitoring memiliki peran dalam mendukung pengawasan kegiatan operasional dan pengambilan keputusan di lapangan. Karena itu, gangguan pada perangkat tersebut perlu mendapat perhatian agar fungsi monitoring dapat kembali berjalan secara optimal.
Temuan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya memastikan perangkat pendukung operasional berada dalam kondisi layak. Keandalan layanan tidak hanya bergantung pada fasilitas utama, tetapi juga pada perangkat yang digunakan untuk memantau dan mengendalikan aktivitas.
Tindak lanjut terhadap kerusakan menjadi bagian penting dari rangkaian MWT. Dengan penyelesaian yang cepat dan tepat, fungsi monitoring diharapkan dapat mendukung kembali kebutuhan operasional di Pelabuhan Banten.
Penggunaan BBM Ditekankan Harus Transparan
Di luar persoalan fasilitas dan keselamatan, Direktur Operasi dan Teknik PJM memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan BBM kapal.
Penggunaan BBM harus dilakukan secara tertib, transparan, sesuai ketentuan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengawasan diperlukan untuk mencegah penyalahgunaan sekaligus menjaga kepercayaan terhadap perusahaan.
“Penggunaan BBM kapal harus dilakukan secara tertib, transparan, sesuai ketentuan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengawasan yang baik penting untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan sekaligus menjaga kepercayaan dan reputasi perusahaan,” ujar Direktur Operasi dan Teknik PJM.
Penekanan tersebut menempatkan pengelolaan BBM bukan hanya sebagai persoalan operasional, tetapi juga bagian dari tata kelola perusahaan. Setiap penggunaan harus memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi perusahaan dengan aktivitas operasional yang bergantung pada armada kapal, disiplin dalam pengelolaan BBM juga menjadi bagian dari pengendalian internal. Pengawasan yang baik dapat membantu memastikan sumber daya perusahaan digunakan sesuai peruntukannya.
Dari Temuan Lapangan ke Pembenahan Nyata
Nilai penting Management Walkthrough terletak pada tindak lanjut setelah kunjungan selesai. PJM mendorong setiap temuan dan arahan di lapangan segera diterjemahkan menjadi langkah pembenahan yang konkret.
Pola tersebut membuat MWT tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Manajemen dan tim operasional dapat bertemu langsung, melihat persoalan di lokasi, kemudian menyusun langkah perbaikan berdasarkan kondisi yang benar-benar terjadi.
Bagi layanan kepelabuhanan, pendekatan semacam ini menjadi penting karena operasional berlangsung secara dinamis. Kondisi fasilitas, kesiapan armada, kebutuhan personel, serta situasi pelayanan dapat berubah sehingga pengawasan berkelanjutan dibutuhkan.
Konsistensi pengawasan juga membantu menjaga agar standar keselamatan dan pelayanan tidak hanya diterapkan ketika ada pemeriksaan. Standar tersebut diharapkan menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari.
Sejalan dengan Transformasi dan Tata Kelola BUMN
Penguatan kesiapan operasional PJM juga ditempatkan dalam agenda transformasi Danantara Indonesia yang mendorong peningkatan tata kelola, efisiensi, keandalan operasional, serta penciptaan nilai tambah berkelanjutan.
Bagi PJM, agenda tersebut diterjemahkan melalui penguatan kualitas layanan, disiplin operasional, penerapan keselamatan, dan tata kelola yang berintegritas. Seluruh aspek tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi perusahaan terhadap aktivitas kepelabuhanan dan logistik nasional.
Kunjungan ke Pelabuhan Banten dan Panjang memperlihatkan bahwa transformasi tidak selalu hadir dalam bentuk perubahan besar. Perbaikan monitor yang rusak, penataan sandar kapal tunda, pemeriksaan tali kapal, hingga pengawasan BBM merupakan bagian dari pekerjaan sehari-hari yang menentukan keandalan operasi.
Di situlah Management Walkthrough menemukan relevansinya. Perusahaan dapat melihat langsung celah yang perlu diperbaiki sebelum persoalan berkembang menjadi gangguan yang lebih besar.
Menjaga Operasi dari Detail yang Sering Terlupakan
Dari Banten hingga Panjang, sejumlah catatan dalam MWT PJM memperlihatkan bahwa keselamatan dan keandalan layanan dibangun dari detail.
Komunikasi yang seragam, kapal tunda yang siap, fasilitas pandu yang terawat, peralatan keselamatan yang diperiksa, lokasi sandar yang memadai, perangkat monitoring yang berfungsi, serta penggunaan BBM yang transparan merupakan mata rantai dalam satu sistem operasional.
Tidak semua persoalan tersebut terlihat besar ketika berdiri sendiri. Namun, ketika dikumpulkan, semuanya menentukan seberapa siap sebuah layanan pelabuhan menghadapi aktivitas operasional sehari-hari.
Karena itu, kunjungan Direktur Operasi dan Teknik PJM ke Pelabuhan Banten dan Panjang membawa pesan yang cukup jelas: kesiapan tidak boleh hanya diukur dari apakah operasi berjalan, tetapi juga dari seberapa baik perusahaan mengantisipasi risiko di balik operasi tersebut.
Melalui Management Walkthrough, PJM terus mendorong budaya “Safety, Integrity, and Operational Excellence” di seluruh lini pelayanan. Fokusnya bukan hanya menjaga kegiatan tetap berjalan, tetapi memastikan setiap proses berlangsung aman, tertib, dapat dipertanggungjawabkan, dan terus mengalami perbaikan. (*)




















