Menteri Lingkungan Hidup Ingatkan Tingginya Biaya Listrik dari Sampah dalam Penandatanganan MoU PSEL di Sulsel

- Penulis

Sabtu, 4 April 2026 - 12:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

0-3248x1440-0-0-{}-0-24#

i

0-3248x1440-0-0-{}-0-24#

MAKASSAR,FILALIN.COM, – Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, menyoroti tingginya disparitas biaya produksi listrik antara energi berbasis batu bara dan energi dari pengolahan sampah (waste to energy).

Hal itu disampaikan dalam acara penandatanganan nota kesepahaman (MoU) proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang berlangsung di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Sabtu (4/4).

Menurut Hanif, harga listrik dari batu bara saat ini berada di kisaran 7 hingga 7,5 sen dolar AS per kWh, sementara listrik yang dihasilkan dari sampah bisa mencapai lebih dari 20 sen dolar AS per kWh.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Selisih ini sangat besar, sehingga perlu kehati-hatian dalam implementasi. Jangan sampai fasilitas waste to energy yang dibangun justru tidak optimal atau beralih fungsi karena pengawasan yang lemah,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat dari pemerintah daerah, khususnya gubernur dan pemerintah kota/kabupaten, mengingat proyek ini memiliki kapasitas besar dan menyangkut dana publik.

Hanif menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas PSEL tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Berdasarkan pengalaman proyek serupa di Palembang yang dimulai sejak 2023, hingga kini progres fisiknya baru mencapai sekitar 75 persen.

“Pembangunan bisa memakan waktu hingga tiga tahun. Artinya, penanganan sampah tetap membutuhkan strategi lain secara paralel,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa produksi sampah di wilayah Makassar, Maros, dan Gowa diperkirakan mencapai 1.600 hingga 2.000 ton per hari, sehingga diperlukan sistem pengelolaan yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Hanif menegaskan bahwa kunci utama pengelolaan sampah tetap terletak pada pemilahan sejak dari sumber.

Secara nasional, pemerintah menetapkan dua kategori utama pemilahan, yakni sampah organik dan non-organik. Namun, ia mengapresiasi praktik di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan yang telah mampu memilah hingga lima jenis sampah.

“Ini luar biasa. Bahkan di beberapa daerah di Jawa, pemilahan maksimal baru tiga jenis. Tapi di Sulawesi Selatan sudah sampai lima jenis. Ini patut jadi contoh nasional,” katanya.

Ia menambahkan, tanpa pemilahan yang baik, biaya pengelolaan sampah—termasuk melalui teknologi waste to energy—akan menjadi jauh lebih mahal.

Peran Daerah Sangat Menentukan

Hanif menegaskan bahwa berdasarkan regulasi, tanggung jawab utama pengelolaan sampah berada di tingkat pemerintah kabupaten/kota, sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014.

Sementara itu, pemerintah provinsi berperan dalam pembinaan, dan kementerian bertugas menyusun kebijakan serta melakukan pengawasan.

“Ketahanan dan konsistensi menjadi kunci. Pengelolaan sampah ini bukan kerja cepat, tapi kerja jangka panjang yang harus dilakukan terus-menerus,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menegaskan bahwa persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Ia menyebut, isu persampahan juga menjadi perhatian Presiden RI, Prabowo Subianto.

“Concern kita untuk Makassar tentu tidak jauh dari persoalan lingkungan. Ini juga pesan Bapak Presiden terkait masalah persampahan. Saya tahu ini tidak mudah, tapi ini juga tugas dan tanggung jawab kami di provinsi untuk membantu,” ujarnya.

 

Penandatanganan MoU ini di lakukan oleh Walikota Makassar, Munafri Arifuddin,Bupati Gowa, Husniah Talengrang dan Wakil Bupati Maros sebagai daerah yang terlibat dalam PSEL ini. (*)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

OPERASI SAR KECELAKAAN KAPAL NELAYAN DI PERAIRAN PALLETTE BONE
Kalla Beton Suplai Precast U-Ditch untuk Paket Pembangunan Embung KIPP 1B di IKN
Lebih Siap ke Tanah Suci, Lebih Tenang dari Asrama Haji
Gelar RUPS 2026, GMTD Tebar Dividen dan Sahkan Jajaran Pengurus Baru
Penjaga di Balik Sunyi Kisah Rudi, Pegawai Gudang BULOG yang Menjaga Pangan Negeri dalam Diam
DTM PINISI SULTAN 2026 Dorong Hilirisasi dan Percepatan Investasi di Sulsel
PERKUAT SILATURAHMI, VASAKA HOTEL MAKASSAR GELAR GSM BERTEMA ARABIAN
The Light Restaurant Hadir dengan Wajah Baru, Usung Konsep Modern dan Local Signature di Mercure Makassar Nexa Pettarani
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 19:07 WITA

OPERASI SAR KECELAKAAN KAPAL NELAYAN DI PERAIRAN PALLETTE BONE

Kamis, 30 April 2026 - 19:00 WITA

Kalla Beton Suplai Precast U-Ditch untuk Paket Pembangunan Embung KIPP 1B di IKN

Kamis, 30 April 2026 - 17:59 WITA

Lebih Siap ke Tanah Suci, Lebih Tenang dari Asrama Haji

Kamis, 30 April 2026 - 13:16 WITA

Gelar RUPS 2026, GMTD Tebar Dividen dan Sahkan Jajaran Pengurus Baru

Kamis, 30 April 2026 - 11:53 WITA

Penjaga di Balik Sunyi Kisah Rudi, Pegawai Gudang BULOG yang Menjaga Pangan Negeri dalam Diam

Berita Terbaru

Berita

Lebih Siap ke Tanah Suci, Lebih Tenang dari Asrama Haji

Kamis, 30 Apr 2026 - 17:59 WITA