Penjaga di Balik Sunyi Kisah Rudi, Pegawai Gudang BULOG yang Menjaga Pangan Negeri dalam Diam

- Penulis

Kamis, 30 April 2026 - 11:53 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CAPTION : Aktivitas di pergudangan Bulog Makassar, pada Kamis (30/4). Foto : Ahmad

i

CAPTION : Aktivitas di pergudangan Bulog Makassar, pada Kamis (30/4). Foto : Ahmad

MAKASSAR,FILALIN.COM, — Langit Makassar masih gelap ketika Rudi mulai menyalakan motornya. Jarum jam baru menunjukkan pukul 04.30 WITA, Rabu (29/4). Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota,Jalan Kapasa Raya Makassar. lelaki 45 tahun itu pamit pelan kepada istrinya yang masih menyiapkan kopi hangat di dapur.

“Jangan lupa makan,” ucap sang istri lirih.

Rudi hanya tersenyum kecil sambil mengenakan jaket lusuh yang sudah bertahun-tahun menemaninya bekerja.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di saat sebagian orang masih tertidur lelap, ia sudah memulai perjalanan menuju gudang BULOG Makassar. Jalanan masih sepi, udara dini hari terasa dingin, tetapi pikirannya sudah dipenuhi daftar pekerjaan hari itu: memeriksa stok beras, memastikan distribusi aman, mengecek kualitas pangan, hingga memastikan tidak ada karung yang rusak.

Rutinitas itu telah dijalaninya hampir dua puluh tahun.

Dan selama itu pula, nyaris tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana hidup para petugas gudang BULOG berjalan.

Di mata banyak orang, gudang hanyalah bangunan besar penuh tumpukan beras. Padahal di balik dinding-dinding tinggi itulah, ada orang-orang seperti Rudi yang menjaga agar pangan negeri tetap tersedia.

“Kalau stok kosong atau distribusi terlambat, masyarakat yang paling merasakan,” katanya sambil mengangkat satu per satu sampel beras untuk diperiksa.

Tangannya kasar. Kulitnya menghitam karena panas dan debu gudang. Namun gerakannya tetap teliti.

Baginya, beras bukan sekadar barang.

“Ini kebutuhan orang banyak,” ucapnya pelan.

Di gudang, suara forklift meraung bersahutan. Karung-karung beras ditumpuk setinggi langit-langit. Debu beterbangan memenuhi udara. Bau gabah bercampur keringat menjadi aroma sehari-hari yang nyaris melekat di tubuh para pekerja.

Rudi hafal betul ritme tempat itu.

Ia tahu kapan stok harus segera dipindahkan. Ia tahu karung mana yang harus lebih dulu disalurkan. Bahkan ia bisa mengenali kualitas beras hanya dari warna dan teksturnya.

“Kalau kerja di gudang itu harus jujur dan teliti,” katanya. “Karena yang kita jaga bukan cuma barang, tapi kepercayaan masyarakat.”

Dedikasi itu terlihat bahkan dalam hal-hal kecil.

Saat pegawai lain mulai beristirahat makan siang, Rudi sering masih sibuk mencatat keluar masuk stok. Ia tidak ingin ada data yang keliru. Baginya, satu angka yang salah bisa berdampak besar pada distribusi pangan.

Teman-temannya mengenalnya sebagai sosok pendiam, tetapi selalu siap membantu.

“Pak Rudi itu orangnya tidak banyak bicara, tapi paling terakhir pulang kalau ada pekerjaan belum selesai,” ujar salah seorang rekan kerjanya.

Pengalaman paling berat baginya adalah ketika banjir melanda beberapa wilayah Sulawesi Selatan beberapa tahun lalu. Saat itu, gudang BULOG berubah menjadi pusat distribusi bantuan pangan.

Truk keluar masuk tanpa henti.

Malam itu, Rudi memilih tetap bertahan di gudang hingga dini hari demi memastikan bantuan beras segera dikirim ke daerah terdampak.

“Saya ingat ada warga yang belum makan seharian,” kenangnya. “Jadi waktu itu kami tidak pikir capek.”

Ia baru pulang ketika azan subuh terdengar.

Sesampainya di rumah, anak bungsunya yang masih SD sudah tertidur di ruang tamu sambil memegang buku sekolah. Rudi hanya duduk diam beberapa menit menatap anaknya sebelum akhirnya mandi dan kembali bersiap bekerja.

Begitulah hidupnya berjalan.

Sederhana. Sunyi. Tapi penuh tanggung jawab.

Di luar kantor, Rudi bukan siapa-siapa. Ia hanya lelaki biasa yang gemar menyiram tanaman di halaman rumah setiap sore. Sesekali membantu tetangga memperbaiki atap atau mengangkat kursi saat ada acara warga.

Tetapi di balik kesederhanaannya, tersimpan prinsip hidup yang ia pegang kuat sejak muda: pekerjaan sekecil apa pun harus dijalankan dengan jujur.

“Rezeki itu bukan soal besar kecilnya,” katanya sambil tersenyum. “Yang penting halal dan bermanfaat.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menjelaskan mengapa ia mampu bertahan selama puluhan tahun dalam pekerjaan yang jarang mendapat sorotan.

Sebab bagi Rudi, menjaga gudang BULOG bukan sekadar pekerjaan mencari nafkah.

Itu adalah bentuk pengabdian.

Ia sadar, mungkin tidak banyak orang mengenal namanya. Tidak ada kamera yang menyorot pekerjaannya. Tidak ada panggung penghargaan setiap kali ia memastikan stok pangan aman.

Namun di balik sunyinya gudang itu, Rudi tahu pekerjaannya berarti.

Karena setiap karung beras yang tersalurkan tepat waktu, ada keluarga yang bisa makan.

Setiap stok yang terjaga, ada masyarakat yang merasa tenang.

Dan setiap malam yang ia habiskan di gudang, sesungguhnya adalah bagian kecil dari upaya menjaga negeri tetap berdiri.

 

BULOG bukan sekadar tempat penyimpanan beras. Perusahaan negara itu memegang peran penting menjaga stabilitas pangan nasional melalui Cadangan Beras Pemerintah (CBP), bantuan pangan, hingga operasi pasar saat harga melonjak.

Data pemerintah menunjukkan stok beras BULOG sempat mencapai rekor tertinggi dalam sejarah pada 2025 hingga 2026. Pada Mei 2025, stok cadangan beras pemerintah menembus 3,5 juta ton, tertinggi dalam 57 tahun terakhir. Bahkan pada awal 2026, stok BULOG tercatat mencapai sekitar 3,25 juta ton sebagai carry over stock nasional.

Puncaknya, pada April 2026 stok beras nasional yang dikelola BULOG disebut telah menyentuh angka 5 juta ton, memperkuat cadangan pangan Indonesia di tengah ancaman krisis pangan global.

 

Menurut data pemerintah, BULOG pada 2025 berhasil menyerap sekitar 1,8 juta ton beras dari petani lokal hanya dalam periode Januari hingga Mei tanpa impor. Bahkan total penyerapan sepanjang 2025 disebut mencapai lebih dari 3 juta ton setara beras.

Namun di tengah panas gudang, debu yang beterbangan, dan tumpukan karung beras yang harus dijaga setiap hari, prinsip itu menjadi alasan mengapa ia tetap bertahan selama puluhan tahun.

Karena bagi Rudi, pekerjaannya bukan sekadar memindahkan beras.

Ia sedang menjaga rasa aman masyarakat.

Ia mungkin tidak pernah muncul di televisi. Namanya tidak dikenal banyak orang. Tidak ada panggung penghargaan untuk pekerja gudang seperti dirinya.

Tetapi di balik gudang-gudang besar yang sunyi itu, ada orang-orang yang diam-diam memastikan negeri tetap bisa makan.

 

Di tengah hiruk pikuk kota dan cepatnya dunia bergerak, orang-orang seperti Rudi sering terlupakan.

Padahal ketika krisis datang, merekalah yang bekerja paling awal dan pulang paling akhir.

Para penjaga pangan.

Para pekerja sunyi yang menjaga harapan tetap hidup dari balik gudang-gudang besar yang nyaris tak pernah disorot kamera. (*)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gelar RUPS 2026, GMTD Tebar Dividen dan Sahkan Jajaran Pengurus Baru
DTM PINISI SULTAN 2026 Dorong Hilirisasi dan Percepatan Investasi di Sulsel
Fakultas Hukum UIT Adakan PKM, Angkat Isu Pernikahan Dini dan KUHP Baru
PERKUAT SILATURAHMI, VASAKA HOTEL MAKASSAR GELAR GSM BERTEMA ARABIAN
The Light Restaurant Hadir dengan Wajah Baru, Usung Konsep Modern dan Local Signature di Mercure Makassar Nexa Pettarani
Pegadaian Sukses Gelar Tring! Golden Run 2026
Satgas PASTI Hentikan Kegiatan PT Malahayati Nusantara Raya, Diduga Langgar Ketentuan Perizinan
Pemkot Bontang Jajaki Investasi Pelabuhan, Pelindo Regional 4 Siap Sinergi Logistik
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 13:16 WITA

Gelar RUPS 2026, GMTD Tebar Dividen dan Sahkan Jajaran Pengurus Baru

Kamis, 30 April 2026 - 11:53 WITA

Penjaga di Balik Sunyi Kisah Rudi, Pegawai Gudang BULOG yang Menjaga Pangan Negeri dalam Diam

Kamis, 30 April 2026 - 11:38 WITA

DTM PINISI SULTAN 2026 Dorong Hilirisasi dan Percepatan Investasi di Sulsel

Rabu, 29 April 2026 - 19:52 WITA

Fakultas Hukum UIT Adakan PKM, Angkat Isu Pernikahan Dini dan KUHP Baru

Rabu, 29 April 2026 - 17:31 WITA

PERKUAT SILATURAHMI, VASAKA HOTEL MAKASSAR GELAR GSM BERTEMA ARABIAN

Berita Terbaru