GOWA,FILALIN.COM, — Matahari siang itu terasa menyengat. Aspal jalanan di Kabupaten Gowa memantulkan panas hingga membuat udara terasa sesak. Namun, Abdul Rahman tetap melaju pelan menggunakan motor tuanya, menyusuri lorong demi lorong sempit untuk menjalankan tugas sebagai petugas mitra Sensus Ekonomi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gowa.
Tas hitam kecil menggantung di bahunya. Di tangannya, formulir dan telepon genggam menjadi “senjata” utama untuk mendata pelaku usaha masyarakat. Dari warung kecil, penjual gorengan, hingga usaha rumahan, semuanya harus dicatat dengan teliti.
“Kadang panas sekali, kadang hujan deras. Tapi pekerjaan ini harus tetap jalan karena data yang kami kumpulkan penting untuk pembangunan,” ujar Abdul Rahman saat ditemui di sela aktivitas pendataan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Abdul Rahman, menjadi petugas sensus bukan sekadar pekerjaan sambilan. Ada tanggung jawab besar yang ia rasakan setiap kali mengetuk pintu rumah warga.
Namun perjalanan itu tidak selalu mudah.
Ia mengaku sering mendapat penolakan dari warga yang belum memahami tujuan sensus ekonomi. Tidak jarang pintu rumah ditutup sebelum ia sempat menjelaskan maksud kedatangannya.
“Pernah juga ada yang curiga, dikira penipuan. Baru saya jelaskan pelan-pelan kalau ini dari BPS, untuk pendataan usaha masyarakat,” katanya sambil tersenyum kecil.
Di beberapa kesempatan, Abdul Rahman harus rela berjalan kaki memasuki gang sempit yang tak bisa dilalui kendaraan. Ia bahkan pernah dikejar anjing saat mendata usaha warga di kawasan padat penduduk.
“Kalau sudah ada anjing mengejar, biasa saya berhenti dulu cari aman,” ucapnya sambil tertawa.
Meski penuh tantangan, Abdul Rahman memilih bertahan. Baginya, integritas adalah hal utama dalam menjalankan tugas pendataan. Ia menolak mengisi data secara asal-asalan hanya demi mengejar target.
“Data tidak boleh dibuat-buat. Kami harus memastikan semua sesuai kondisi di lapangan. Karena data ini nantinya dipakai pemerintah mengambil kebijakan,” tegasnya.
Di tengah kerasnya pekerjaan lapangan, Abdul Rahman juga menemukan banyak cerita hangat dari masyarakat. Ada warga yang menyambut ramah, mempersilakan masuk, bahkan menyuguhi kopi dan teh hangat setelah proses wawancara selesai.
“Kadang capek hilang kalau ada warga yang baik begitu. Rasanya dihargai,” katanya.
Kepala BPS Kabupaten Gowa Joko Siswanto menyampaikan bahwa peran petugas mitra sensus sangat penting dalam memastikan kualitas data ekonomi masyarakat. Mereka menjadi ujung tombak pendataan langsung di lapangan.
Menurut pihak BPS Gowa, tantangan petugas sensus memang cukup besar, mulai dari kondisi geografis, cuaca, hingga tingkat pemahaman masyarakat terhadap pentingnya data statistik.
“Petugas sensus bekerja langsung menemui masyarakat dari rumah ke rumah maupun tempat usaha. Dedikasi mereka sangat membantu menghadirkan data yang akurat dan berkualitas,” ujar Sabtu (9/5).
BPS Gowa juga menegaskan bahwa data hasil sensus ekonomi memiliki peran strategis untuk melihat perkembangan usaha masyarakat, memetakan kondisi ekonomi daerah, hingga menjadi dasar perencanaan pembangunan pemerintah ke depan.
Bagi Abdul Rahman, semua lelah itu terasa terbayar ketika menyadari pekerjaannya ikut membantu menghadirkan pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Sore mulai turun ketika ia kembali menyalakan motor tuanya. Jalanan yang basah usai hujan masih harus dilalui sebelum hari benar-benar gelap. Besok, lorong-lorong lain sudah menunggu untuk didatangi.
Di balik angka-angka statistik yang kerap terlihat kaku di laporan resmi, ada perjuangan panjang para petugas lapangan seperti Abdul Rahman — mereka yang rela diterpa panas, hujan, penolakan, hingga risiko di jalan demi memastikan satu hal: tak ada masyarakat yang luput dari data. (*)





















