MAKASSAR FILALIN.COM, – Era mobil “haus bensin” tampaknya mulai ditinggalkan warga Sulawesi. Kehadiran New Veloz Hybrid EV sukses menciptakan standar baru di pasar otomotif lokal. Hingga Maret 2026, Kalla Toyota mencatatkan angka pemesanan yang fantastis, menembus angka 500 unit untuk wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya.
Apa yang membuat MPV ini begitu diburu? Jawabannya sederhana: Efisiensi radikal tanpa ribet.
Solusi Cerdas Tanpa “Drama” Colokan
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berbeda dengan mobil listrik murni (BEV) yang masih terkendala infrastruktur pengisian daya di jalur trans-Sulawesi, Veloz Hybrid hadir dengan teknologi Self-Charging.
Performa: Duet mesin 1.5L dan motor listrik menghasilkan total tenaga 109 hp.
Efisiensi: Konsumsi BBM mencapai 28,9 km/liter—sebuah angka yang sebelumnya mustahil untuk mobil keluarga 7-seater.
Praktis: Tidak perlu kabel atau pengisian daya eksternal; baterai terisi otomatis saat mobil melaju atau mengerem.
Fenomena di Dealer: Antrean Mengular
Kalla Toyota melaporkan bahwa tipe tertinggi, Q TSS Modellista, menjadi varian yang paling banyak dicari meskipun dibanderol mendekati angka Rp 400 juta.
”Konsumen sekarang jauh lebih kritis. Mereka tidak hanya melihat harga beli, tapi running cost. Dengan klaim hampir 29 km per liter, mereka merasa investasi di awal akan terbayar dengan hematnya biaya BBM bulanan,” ungkap Suliadin Manager Marketing Kalla Toyota Rabu (4/3).
Mengapa Sulawesi Begitu Antusias?
Kondisi geografis Sulawesi yang menantang—mulai dari kemacetan di Jalan AP Pettarani hingga rute menanjak menuju Malino atau Toraja—membutuhkan mobil yang tangguh namun irit.
Andi (38), seorang loyalis Toyota asal Maros, menyebutkan bahwa fitur Toyota Safety Sense (TSS) dan kamera 360 derajat menjadi faktor penentu baginya. “Buat antar jemput anak sekolah dan operasional kantor, ini paket lengkap. Mewah, aman, dan yang paling penting, kantong tidak jebol buat beli bensin,” pungkasnya.
Meski berbasis hybrid dan tidak sepenuhnya bergantung pada pengisian daya eksternal seperti mobil listrik murni, perkembangan kendaraan ramah lingkungan tetap membutuhkan dukungan ekosistem.
Pengamat otomotif lokal, Irwan Syamsuddin, menilai capaian 500 unit menjadi indikator tren baru di kawasan timur Indonesia.
“Kalau tren ini konsisten, Sulawesi bisa menjadi pasar hybrid terbesar di luar Pulau Jawa. Ini momentum penting bagi industri otomotif di daerah,” katanya.
Dengan capaian tersebut, New Veloz Hybrid EV bukan lagi sekadar kendaraan baru di showroom, melainkan representasi perubahan preferensi masyarakat. Dari jalanan Makassar hingga berbagai kota di Sulawesi, era mobil hybrid perlahan mulai mewarnai lalu lintas perkotaan—menandai babak baru transportasi yang lebih efisien dan modern.(*)





















