CATATAN SYAMRIL : MENDENGARKAN

- Penulis

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:03 WITA

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSAR, FILALIN.COM, –Keterampilan mendengarkan merupakan salah satu keterampilan yang penting dimiliki oleh seorang pemimpin. Namun ternyata tidak semua pemimpin memilikinya. Mengapa? Biasanya seseorang diangkat menjadi pemimpin karena prestasi atau punya kelebihan dan kehebatan tertentu.

 

Akibatnya kadang muncul dalam diri merasa lebih hebat, lebih berpengalaman, lebih pintar dan lain sebagainya. Hal itu membuatnya tidak mau atau sulit menerima masukan dan pendapat dari orang lain, apalagi dari bawahan. Hati-hati jika timbul kondisi seperti itu. Mengapa? Itu adalah ciri orang yang sombong yaitu merendahkan orang lain dan menolak kebenaran (H.R. Muslim).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Terkait kemampuan mendengarkan, modifikasi dari Steven R. Covey, terdapat empat level dari paling buruk hingga paling baik. Level pertama yaitu tidak mau mendengarkan masukan (ignoring) seperti tulisan pengantar di atas. Gambaran dalam Al Qur’an: “mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali” (Q.S.2:18). Bukan telinga, mulut dan matanya yang rusak. Tapi mata hatinya yang rusak sehingga tidak dapat menerima masukan.

 

Lebih parah lagi jika orang yang memberi masukan direndahkan, diejek dan dihina. Difitnah dan dituduh hal-hal yang tidak benar. Dikatakan orang yang kecewa, iri hati, dengki dan punya niat jahat untuk menjatuhkannya. Atau bersekongkol dengan pihak lain untuk membuat kekacauan di organisasi. Padahal tidak demikian. Pemberi masukan punya niat baik untuk mengingatkan.

 

Level kedua yaitu mau mendengarkan tapi masukannya diabaikan (pretend listening). Sekadar lip service, pencitraan dan ingin dianggap sebagai pemimpin yang terbuka. Bisa disebut sebagai pemberi harapan palsu. Awalnya ada respek dan harapan dari pemberi masukan. Tapi setelah sekian lama tidak ada yang diperhatikan secara serius. Kadang-kadang juga mendengarkan. Tapi selektif (selective listening), sesuai keinginan. Juga tujuannya untuk mendebat dan mencari-cari kelemahan dan pembenaran.

 

Level ketiga yaitu mendengarkan dengan perhatian (attentive listening) untuk mencari solusi, kompromi atau jalan tengah. Kategori ini lebih baik. Kondisi lapangan biasanya tidak hitam putih, perlu penyesuaian dan kompromi. Ada hal yang ditimbang pro dan kontra. Dampak positif dan negatif, juga kekuatan politik yang ada. Hal itu bisa dimaklumi dan juga disyukuri. Prinsipnya “jika tidak bisa menerima semuanya, jangan tinggalkan seluruhnya”.

 

Level kempat yaitu mau mendengarkan secara empatik (empathetic listening) untuk mencari yang terbaik dan menangkap suasana hati orang lain. Ada kerendahan hati dan ketulusan untuk musyawarah. Inilah prinsip dalam Pancasila sila keempat. Juga ajaran agama: “mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik” (Q.S. Az-Zumar:18). Lawan berpendapat adalah teman berpikir. Terjadi dialektika dan adu argumentasi dengan kepala dingin. Saling uji pemikiran untuk menemukan yang terbaik.

 

Jika pendapat pemimpin lemah maka dengan rendah hati menerima pendapat yang lebih kuat. Jika keputusan pemimpin salah maka dengan rendah hati meminta maaf dan mengubahnya. Lebih baik diperbaiki selama untuk kebaikan bersama. Ego dikesampingkan. Mengalah untuk menang bersama. Inilah pemimpin yang bijaksana.

 

Mari periksa diri selama ini ada di level berapa. Jika masih di level satu dan dua, segera sadar sebelum terlambat. Dahulukan dan pikirkan kepentingan bersama. Bukan kepentingan pribadi dan kelompok. Segera buka hati dan pikiran untuk naik ke level tiga dan empat. Milikilah kejujuran dan rendah hati. Berpikirlah jangka panjang, bukan jangka pendek. Yakinlah pemimpin yang berada di level empat akan dikenang sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana. (*)

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DORONG PENGUATAN EKONOMI NASIONAL, OJK FOKUS PENGEMBANGAN KEUANGAN DIGITAL Gelar FEKDI DAN IFSE 2026 BERSAMA BI
Dialog Kebangsaan LMPI Sulsel Dorong Kolaborasi Masyarakat Perkuat Pencegahan Korupsi
Pelindo Sosialisasikan Penataan Peta Peran Korporasi
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Imbau Masyarakat Tidak Terpengaruh Informasi Hoaks Kenaikan Harga Pertalite
Hari Tani Nasional, Asri Tadda Soroti Nasib Petani di Tengah Paradoks Pembangunan
Siap Gelar Kembara 2026, PKS Sulawesi Selatan Perkuat Ketahanan Kader dan Semangat Bela Negara
Pecah Kebuntuan Konflik Menahun, DPR Sahkan RUU Reforma Agraria Demi Keadilan Rakyat
Langkah Warga Pegunungan Kini Semakin Aman, Pertamina Resmikan Rehabilitasi Jembatan Gantung Kaluppini di Enrekang
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 22:31 WITA

DORONG PENGUATAN EKONOMI NASIONAL, OJK FOKUS PENGEMBANGAN KEUANGAN DIGITAL Gelar FEKDI DAN IFSE 2026 BERSAMA BI

Kamis, 24 September 2026 - 20:59 WITA

Dialog Kebangsaan LMPI Sulsel Dorong Kolaborasi Masyarakat Perkuat Pencegahan Korupsi

Kamis, 24 September 2026 - 17:27 WITA

Pelindo Sosialisasikan Penataan Peta Peran Korporasi

Kamis, 24 September 2026 - 16:49 WITA

Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Imbau Masyarakat Tidak Terpengaruh Informasi Hoaks Kenaikan Harga Pertalite

Kamis, 24 September 2026 - 14:44 WITA

Hari Tani Nasional, Asri Tadda Soroti Nasib Petani di Tengah Paradoks Pembangunan

Berita Terbaru

Berita

Pelindo Sosialisasikan Penataan Peta Peran Korporasi

Kamis, 24 Sep 2026 - 17:27 WITA