MAKASSAR, FILALIN.COM – Pagi baru saja menyingsing di Dusun Palandoang, Desa Embonatana, Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara. Sejumlah petugas mulai sibuk mempersiapkan peralatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang akan dibawa menuju Kampung Ambalong.
Satu per satu peralatan dinaikkan ke sepeda motor yang telah dimodifikasi. Perjalanan panjang sudah menanti. Bukan jalan beraspal yang akan dilalui, melainkan jalur tanah berlumpur, kubangan, tanjakan, hingga sungai berbatu.
Untuk sampai ke Kampung Ambalong, para petugas membutuhkan waktu sekitar delapan hingga sepuluh jam perjalanan dari Palandoang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sepanjang perjalanan, sepeda motor berkali-kali harus berjuang melewati lumpur. Tak jarang, kendaraan terjebak di kubangan sehingga petugas harus turun dan mendorongnya bersama-sama.

Tantangan belum selesai. Mereka juga harus menyeberangi sungai dengan bebatuan licin. Setiap langkah harus diperhitungkan agar perjalanan dan peralatan yang dibawa tetap aman.
Muh Rezki Nehru, petugas PLN UID Sulselrabar, mengatakan perjalanan menuju wilayah tersebut memang membutuhkan persiapan dan tenaga ekstra. Medan yang sulit membuat pengangkutan peralatan tidak bisa dilakukan seperti di wilayah perkotaan.
“Perjalanan menuju lokasi memang tidak mudah. Kami harus melewati jalan berlumpur, tanjakan, hingga menyeberangi sungai. Tetapi ini menjadi bagian dari upaya kami agar masyarakat di daerah terpencil juga bisa menikmati listrik,” ujarnya.
Perjalanan panjang itu bukan sekadar mengantar seperangkat peralatan. Ada harapan masyarakat yang ikut dibawa di tengah beratnya medan yang harus dilalui.

Bagi sebagian orang, listrik mungkin sudah menjadi bagian biasa dari kehidupan sehari-hari. Tinggal menekan sakelar, lampu menyala. Namun, bagi warga di pelosok Seko, mendapatkan layanan listrik yang bisa diandalkan masih menjadi sesuatu yang dinantikan.
Listrik yang Dinanti, Harapan yang Mulai Terwujud
Persoalan akses listrik masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, terutama daerah pegunungan, kepulauan, dan kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kondisi geografis yang sulit serta jarak antarpemukiman membuat pembangunan jaringan listrik tidak selalu mudah dilakukan. Di sejumlah lokasi, diperlukan pendekatan berbeda agar masyarakat tetap bisa menikmati energi listrik.
Melalui program SuperSUN, PLN berupaya menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan pembangkit listrik tenaga surya di wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik secara optimal.
Khusus di Kecamatan Seko, tercatat sebanyak 33 unit SuperSUN telah terpasang dan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas sejumlah fasilitas umum, mulai dari kantor pemerintahan, tempat ibadah, hingga sekolah.
Bagi masyarakat setempat, kehadiran listrik mulai membawa perubahan dalam aktivitas sehari-hari.
Di SDN 084 Ambolang, misalnya, listrik menjadi penunjang penting bagi kegiatan belajar mengajar. Sekolah yang sebelumnya mengalami keterbatasan pasokan energi kini memiliki kesempatan lebih besar memanfaatkan perangkat teknologi untuk mendukung pembelajaran.
Narti, salah seorang guru di SDN 084 Ambolang, mengaku keberadaan SuperSUN sangat membantu kegiatan belajar di sekolah.
“Sekarang pembelajaran sudah banyak menggunakan teknologi informasi. Dengan adanya listrik dari SuperSUN, kegiatan belajar mengajar di sekolah menjadi lebih terbantu. Sebelumnya kami cukup kesulitan memenuhi kebutuhan listrik,” ungkap Narti.
Menurutnya, ketersediaan listrik memberikan kemudahan bagi guru maupun siswa dalam mengikuti perkembangan metode pembelajaran.
Perubahan itu mungkin terlihat sederhana bagi masyarakat yang sudah lama menikmati listrik. Namun, bagi guru dan siswa di wilayah pedalaman, tersedianya energi listrik membuka kesempatan untuk mengikuti perkembangan pendidikan yang semakin dekat dengan teknologi.
Manfaatnya juga dirasakan di lingkungan pemerintahan desa. Ketersediaan listrik membantu aktivitas administrasi dan pelayanan masyarakat, terutama dalam penggunaan perangkat elektronik yang dibutuhkan sehari-hari.
Dari Pegunungan, Harapan Itu Menyeberang ke Pulau
Perjuangan menghadirkan listrik tidak berhenti di wilayah pegunungan Seko. Di sejumlah pulau yang tersebar di Sulawesi Selatan, persoalan serupa juga masih dihadapi masyarakat.
Salah satunya di Pulau Polewali, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).
Hidup di pulau memiliki tantangan tersendiri. Laut yang memisahkan satu wilayah dengan wilayah lainnya membuat penyediaan infrastruktur, termasuk energi listrik, membutuhkan perhatian khusus.
Bagi masyarakat yang sebagian menggantungkan hidup dari hasil laut, ketersediaan listrik bukan hanya dibutuhkan untuk menyalakan lampu rumah.
Energi juga berkaitan langsung dengan kegiatan ekonomi keluarga.
Kehadiran SuperSUN di pulau tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga sekaligus membuka peluang usaha masyarakat.
Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian warga adalah fasilitas pendingin untuk menyimpan hasil tangkapan nelayan.
Dengan dukungan energi listrik yang memadai, masyarakat berharap hasil laut dapat disimpan lebih baik sehingga kualitasnya tetap terjaga dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.
Bagi warga pulau, listrik bukan hanya tentang penerangan. Energi juga menjadi modal penting untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Pulau-Pulau Sulsel Menuju Energi Bersih
Potensi pemanfaatan energi baru terbarukan di Sulawesi Selatan juga cukup besar, terutama di wilayah kepulauan.
Kabupaten Kepulauan Selayar menjadi salah satu kawasan yang memiliki tantangan geografis dalam penyediaan energi. Letak pulau-pulau yang berjauhan dari daratan utama membuat pengembangan infrastruktur kelistrikan membutuhkan perencanaan tersendiri.
Di sejumlah wilayah, pembangkit berbahan bakar fosil masih menjadi sumber energi yang digunakan masyarakat. Karena itu, pengembangan pembangkit energi terbarukan menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik secara lebih berkelanjutan.
Pemanfaatan energi surya dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan. Pemerintah pun berharap pulau-pulau di Sulawesi Selatan dapat berkembang menjadi kawasan Green Island atau pulau hijau yang mengandalkan energi bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain membantu pemerataan akses listrik, pengembangan tersebut juga diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap energi berbahan bakar fosil.
Mengejar Kesetaraan Energi hingga 2027
General Manager PLN UID Sulselrabar, Ardyansyah, mengatakan pemerataan akses listrik di wilayah terpencil menjadi bagian penting dalam menghadirkan keadilan energi bagi seluruh masyarakat.
Menurutnya, masih terdapat kesenjangan pemenuhan kebutuhan listrik, terutama di wilayah 3T, daerah kepulauan, serta kawasan yang selama ini sulit dijangkau.
“Masih ada kesenjangan dalam pemenuhan kebutuhan listrik, khususnya di daerah-daerah terpencil, wilayah 3T, kepulauan, dan kawasan yang selama ini terisolasi. Ini menjadi perhatian agar masyarakat di wilayah tersebut juga bisa menikmati layanan listrik,” kata Ardyansyah.
Ia menegaskan, upaya pemerataan energi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur kelistrikan, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup.
“Ketika listrik hadir, manfaatnya bukan hanya untuk penerangan. Listrik juga mendukung pendidikan, pelayanan publik, dan kegiatan ekonomi masyarakat. Karena itu, pemerataan akses energi harus terus didorong,” ujarnya.
Pemenuhan listrik desa diharapkan terus meningkat hingga mendekati 100 persen, bahkan mencapai 100 persen pada 2027.
Target tersebut tentu bukan pekerjaan ringan. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, pegunungan, dan wilayah dengan akses terbatas membuat upaya pemerataan energi membutuhkan kerja panjang.
Namun, manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan
Ketika listrik mulai tersedia, sekolah memiliki kesempatan memanfaatkan teknologi pembelajaran. Kantor desa dapat meningkatkan pelayanan administrasi. Nelayan memiliki peluang mengembangkan usaha dengan dukungan fasilitas penyimpanan hasil tangkapan.
Di balik setiap pembangkit yang terpasang, ada aktivitas masyarakat yang perlahan berubah.
Di Kampung Ambalong, perubahan itu dimulai dari perjalanan panjang melewati jalan berlumpur dan sungai berbatu. Di Pulau Polewali, harapan hadir bersama kebutuhan warga untuk mengembangkan perekonomian. Sementara di sekolah-sekolah pedalaman, listrik membuka kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal pembelajaran yang lebih luas.
Bagi masyarakat yang sudah lama menikmati listrik, mungkin sulit membayangkan bagaimana rasanya hidup dengan keterbatasan energi. Tetapi bagi warga di pelosok, kehadiran listrik merupakan sesuatu yang benar-benar dinantikan.
Perjalanan delapan hingga sepuluh jam menuju Ambalong menjadi pengingat bahwa pemerataan pembangunan memang tidak selalu bisa ditempuh melalui jalan yang mudah.
Ada lumpur yang harus dilewati, sungai yang harus diseberangi, dan jarak yang harus ditempuh untuk memastikan masyarakat di pelosok tidak terus tertinggal.
Sebab, bagi mereka, terang bukan hanya soal lampu yang menyala ketika malam tiba. Terang juga berarti kesempatan untuk belajar lebih baik, bekerja lebih mudah, mengembangkan usaha, dan menjalani kehidupan dengan peluang yang sama seperti masyarakat di wilayah lainnya. (*)





















