Mimpi Anak Pulau Itu Kini Bernama Sarjana

- Penulis

Minggu, 10 Mei 2026 - 13:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : Suharli saat Wisuda dikampus UNM Makassar. Foto : ist

i

Caption : Suharli saat Wisuda dikampus UNM Makassar. Foto : ist

Perjalanan Suharlin dari Pulau Kalahu Toa hingga Meraih Gelar Berkat Beasiswa Bank Negara Indonesia”

MAKASSAR,FILALIN.COM, — Angin laut berembus pelan di dermaga kecil Pulau Kalahu Toa, sebuah pulau terpencil di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Di pulau yang lebih dekat ke Flores dan Australia dibanding pusat pemerintahan Kabupaten Selayar itu, kehidupan berjalan sederhana dan keras.

Bagi warga setempat, laut adalah harapan sekaligus tantangan hidup. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup sebagai nelayan. Banyak di antara mereka berlayar hingga ke perairan perbatasan demi mencari ikan untuk menghidupi keluarga.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun di balik hamparan laut biru yang indah, tersimpan kenyataan pahit tentang akses pendidikan.

Untuk menuju Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar, warga harus menempuh perjalanan sekitar satu hari menggunakan kapal motor—satu-satunya moda transportasi yang tersedia. Perjalanan panjang dan biaya hidup yang tidak sedikit membuat pendidikan tinggi terasa seperti mimpi yang terlalu jauh dijangkau.

Tidak mengherankan jika banyak anak di pulau itu hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMP. Setelah itu, mereka memilih membantu orang tua melaut atau bekerja seadanya demi bertahan hidup.

Di Pulau Kalahu Toa, memiliki gelar sarjana bukan sekadar prestasi akademik. Itu adalah simbol perjuangan, harapan, dan perubahan nasib.

Di tengah keterbatasan itulah, lahir kisah Suharlin.

Pemuda sederhana asal pulau terpencil itu tumbuh dengan mimpi yang berbeda. Ia percaya pendidikan dapat mengubah masa depan, meski jalan menuju cita-cita tidak pernah mudah.

“Dulu saya sering berpikir, apakah anak dari pulau kecil seperti saya bisa kuliah?” kenangnya.

Pertanyaan itu terus menghantui dirinya sejak kecil. Sebab, ia menyaksikan sendiri bagaimana banyak teman seusianya harus menghentikan sekolah karena faktor ekonomi.

Namun Suharlin memilih bertahan.

Dengan tekad kuat dan dukungan keluarga seadanya, ia melanjutkan pendidikan hingga akhirnya diterima di Universitas Negeri Makassar. Bagi keluarganya, kabar itu menjadi kebanggaan besar sekaligus kecemasan baru: bagaimana membiayai kuliah dan kehidupan di kota?

Di saat itulah harapan datang melalui program beasiswa dari Bank Negara Indonesia.

Program beasiswa BNI hadir sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia, khususnya bagi mahasiswa berprestasi yang memiliki keterbatasan ekonomi. Bantuan tersebut tidak hanya berupa biaya pendidikan, tetapi juga dukungan kebutuhan penunjang kuliah agar mahasiswa dapat fokus menyelesaikan studi.

Melalui program ini, mahasiswa penerima beasiswa mendapatkan bantuan uang kuliah, dukungan biaya hidup, hingga pembinaan pengembangan diri. Program tersebut menjadi salah satu upaya nyata BNI dalam membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi generasi muda dari berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil.

Bagi Suharlin, beasiswa itu menjadi titik balik kehidupannya.

“Kalau tidak ada bantuan beasiswa, mungkin saya sudah pulang kampung dan berhenti kuliah,” ujarnya.

Bantuan tersebut membuatnya mampu bertahan menjalani perkuliahan tanpa terus dibayangi persoalan biaya semester, tempat tinggal, hingga kebutuhan sehari-hari di Makassar.

Perjalanan menjadi mahasiswa bukan perkara mudah bagi pemuda yang tumbuh di daerah terpencil. Ia harus beradaptasi dengan kehidupan kota, teknologi, hingga pola belajar yang jauh berbeda dari kampung halamannya.

Kadang ia merasa minder karena berasal dari pulau kecil yang jarang dikenal orang. Namun pengalaman hidup justru membentuknya menjadi pribadi tangguh.

Suharlin memahami betul arti perjuangan karena sejak kecil ia hidup dalam keterbatasan.

Ia pernah merasakan belajar dengan fasilitas seadanya. Ia juga tahu bagaimana rasanya melihat orang tua bekerja keras di laut demi menyekolahkan anak.

Semua pengalaman itu menjadi bahan bakar semangatnya untuk bertahan.

Kini, perjuangan panjang itu berbuah manis. Suharlin resmi menyandang gelar sarjana dari Universitas Negeri Makassar.

Bagi sebagian orang, wisuda mungkin hanyalah seremoni akademik. Namun bagi masyarakat Pulau Kalahu Toa, keberhasilan Suharlin adalah cerita besar tentang harapan.

Ia menjadi bukti bahwa anak dari pulau terluar juga mampu bersaing dan meraih pendidikan tinggi jika diberi kesempatan.

Kisah Suharlin juga menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak hanya soal gedung sekolah atau angka statistik pendidikan. Lebih dari itu, pembangunan SDM adalah tentang membuka akses dan memberi harapan bagi anak-anak di wilayah terpencil.

Melalui dukungan pendidikan seperti program beasiswa, Bank Negara Indonesia ikut menghadirkan kesempatan yang lebih adil bagi generasi muda Indonesia, termasuk mereka yang hidup jauh dari pusat kota.

Kini, Suharlin memiliki mimpi baru.

Ia ingin kembali ke kampung halamannya dan menjadi inspirasi bagi anak-anak pulau agar berani bermimpi lebih tinggi.

“Saya ingin adik-adik di kampung percaya bahwa mereka juga bisa kuliah. Jangan takut bermimpi walaupun lahir di pulau kecil,” katanya.

Di Pulau Kalahu Toa yang selama ini identik dengan keterbatasan, mimpi itu perlahan mulai menemukan jalannya.

Dan bagi Suharlin, pendidikan telah menjadi jembatan yang menghubungkan sebuah pulau kecil dengan masa depan yang lebih besar. (*)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel filalin.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Anggota Komisi I DPR RI Soroti Ancaman Kejahatan Digital dalam Dialog Kebangsaan di Gowa
Ketika Data Menjadi Senjata Pembangunan
Di Balik Angka Sensus Ekonomi: Kisah Abdul Rahman Menembus Lorong Demi Data untuk Negeri
Resmikan Kantor DPD Tangsel, IWO Indonesia Perkuat Struktur dan Sinergi
Kejati Sulsel Soroti Sewa Lahan PT IHIP di Lutim, Minta Dilakukan Appraisal Ulang
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Perkuat Budaya Kerja Sehat melalui Mental Health Day 2026
Pegadaian Kanwil Makassar SulSelBarRa Maluku Cetak Kinerja Gemilang per April 2026: Omset Tembus Rp20,19 Triliun dan Perkuat Ekosistem Emas
PHRI Sulsel Apresiasi Makassar Half Marathon sebagai Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Daerah
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 14:52 WITA

Anggota Komisi I DPR RI Soroti Ancaman Kejahatan Digital dalam Dialog Kebangsaan di Gowa

Minggu, 10 Mei 2026 - 13:11 WITA

Mimpi Anak Pulau Itu Kini Bernama Sarjana

Minggu, 10 Mei 2026 - 12:39 WITA

Ketika Data Menjadi Senjata Pembangunan

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:45 WITA

Di Balik Angka Sensus Ekonomi: Kisah Abdul Rahman Menembus Lorong Demi Data untuk Negeri

Sabtu, 9 Mei 2026 - 16:35 WITA

Resmikan Kantor DPD Tangsel, IWO Indonesia Perkuat Struktur dan Sinergi

Berita Terbaru

Caption : Suharli saat Wisuda dikampus UNM Makassar. Foto : ist

Berita

Mimpi Anak Pulau Itu Kini Bernama Sarjana

Minggu, 10 Mei 2026 - 13:11 WITA

Kepala BPS Sulsel, Aryanto.Foto : ist

Berita

Ketika Data Menjadi Senjata Pembangunan

Minggu, 10 Mei 2026 - 12:39 WITA